Harga Emas Lesu, Tekanan Bearish Masih Membayangi Pasar - Koran Mandalika

Harga Emas Lesu, Tekanan Bearish Masih Membayangi Pasar

Senin, 10 November 2025 - 10:23

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Harga emas (XAU/USD) kembali melemah ke sekitar US$3.970 per ounce, ditekan oleh penguatan Dolar AS. Tren bearish masih dominan, dengan potensi turun ke $3.818.

Harga emas (XAU/USD) kembali mengalami pelemahan pada perdagangan Kamis (6/11), setelah sebelumnya sempat mencatat kenaikan lebih dari 1% di sesi Rabu. Saat ini, logam mulia tersebut diperdagangkan di sekitar $3.970 per ounce, turun dari posisi tertinggi harian di US$3.980. Pelemahan ini dipicu oleh penguatan Dolar AS yang menekan harga emas, meski ketidakpastian politik di Amerika Serikat (AS) masih menjaga minat investor terhadap aset safe haven.

Menurut Andy Nugraha, analis dari Dupoin Futures Indonesia, kondisi teknikal emas menunjukkan kecenderungan bearish yang semakin kuat. Dari hasil kombinasi analisis pola candlestick dan Moving Average, momentum penurunan harga masih dominan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Jika tekanan bearish berlanjut, maka harga emas berpotensi turun hingga ke level $3.818. Namun, bila harga gagal menembus area tersebut dan terjadi koreksi teknikal, maka peluang kenaikan terdekat berada di sekitar $3.996,” jelas Andy.

Baca Juga :  Baja Lapis RI Tembus Pasar AS, Menperin: Bukti Daya Saing Industri Nasional

Dari sisi fundamental, pasar tengah merespons sejumlah data ekonomi AS yang menunjukkan hasil positif. Laporan ketenagakerjaan sektor swasta versi Automatic Data Processing (ADP) mencatat peningkatan sebesar 42.000 pada Oktober, berbalik dari penurunan 29.000 di bulan sebelumnya. Angka ini menandakan adanya stabilisasi di pasar tenaga kerja setelah melemah selama dua bulan berturut-turut.

Kinerja tenaga kerja yang solid tersebut memperkuat posisi Dolar AS dan menjadi faktor utama pelemahan emas. Karena emas tidak memberikan imbal hasil, penguatan dolar membuat harga logam mulia ini lebih mahal bagi pembeli di luar negeri sehingga permintaannya berkurang. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sebesar enam basis poin menjadi 4,15%, serta imbal hasil riil yang meningkat hingga 1,86%, turut memperlemah daya tarik emas.

Tekanan tambahan juga datang dari sikap hawkish sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan memberikan pernyataan publik hari ini, seperti Michael Barr, John Williams, Christopher Waller, dan Alberto Musalem. Meskipun The Fed telah memangkas suku bunga dua kali berturut-turut, Ketua Jerome Powell menegaskan bahwa pemangkasan berikutnya pada Desember belum tentu dilakukan. Sikap ini menahan ekspektasi pasar terhadap pelonggaran moneter yang lebih cepat, yang biasanya menjadi faktor pendukung harga emas.

Baca Juga :  Bangkit dari Dementia, Edwin Anderson Kini Jadi Fullstack Developer Gaji Ratusan Dollar!

Meski demikian, ketidakpastian politik akibat penutupan pemerintahan federal AS yang terus berlangsung dapat memberikan sedikit dukungan bagi emas. Penundaan pembahasan undang-undang pembukaan kembali pemerintahan menambah kekhawatiran investor, sehingga mendorong minat terhadap aset aman seperti emas.

Secara umum, arah pergerakan emas hari ini akan sangat dipengaruhi oleh sentimen terhadap kebijakan moneter AS dan kondisi geopolitik global. Dupoin Futures Indonesia menilai bahwa volatilitas pasar emas kemungkinan masih tinggi menjelang akhir pekan. Investor disarankan untuk tetap berhati-hati dengan memperhatikan area support dan resistance, sebagai panduan untuk mengantisipasi pergerakan harga berikutnya.

Press Release ini juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Dua Puluh Lima Tahun: Narendra Modi dan Posisi India di Dunia
Liburan Berubah Jadi Perawatan Jantung, Hampir Rp100 Juta Manfaat Cair untuk Nurma
Bitcoin Kembali Ditolak $87.000, Ini Skenario Harga BTC Berikutnya
BRI BO Krekot Peringati Hari Kesaktian Pancasila dengan Khidmat dan Penuh Semangat Kebangsaan
BRI BO Kramat Peringati Hari Kesaktian Pancasila dengan Khidmat dan Penuh Semangat Kebangsaan
BRI BO Kelapa Gading Peringati Hari Kesaktian Pancasila dengan Khidmat dan Penuh Semangat Kebangsaan
Ika Afifah Terpilih sebagai Salah Satu dari 30 Perempuan ASEAN & Australia yang Mendorong Pertumbuhan Ekonomi
Transaksi Kripto Indonesia Naik 12,87 Persen, Apa yang Mendorongnya?

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 18:02

Dua Puluh Lima Tahun: Narendra Modi dan Posisi India di Dunia

Selasa, 6 Oktober 2026 - 18:02

Liburan Berubah Jadi Perawatan Jantung, Hampir Rp100 Juta Manfaat Cair untuk Nurma

Selasa, 6 Oktober 2026 - 17:02

Bitcoin Kembali Ditolak $87.000, Ini Skenario Harga BTC Berikutnya

Selasa, 6 Oktober 2026 - 17:02

BRI BO Krekot Peringati Hari Kesaktian Pancasila dengan Khidmat dan Penuh Semangat Kebangsaan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 17:02

BRI BO Kramat Peringati Hari Kesaktian Pancasila dengan Khidmat dan Penuh Semangat Kebangsaan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 17:02

Ika Afifah Terpilih sebagai Salah Satu dari 30 Perempuan ASEAN & Australia yang Mendorong Pertumbuhan Ekonomi

Selasa, 6 Oktober 2026 - 16:02

Transaksi Kripto Indonesia Naik 12,87 Persen, Apa yang Mendorongnya?

Selasa, 6 Oktober 2026 - 16:02

Sinergi UGM, Sanggabiz, dan Komunitas Lokal: Mewujudkan Modernisasi Wellness Tourism Desa Sidorejo Berbasis Manuskrip Kuno Pawukon

Berita Terbaru