Harga Emas Masih Dibayangi Tren Turun, Peluang Koreksi ke Area 4.096 Tetap Terbuka - Koran Mandalika

Harga Emas Masih Dibayangi Tren Turun, Peluang Koreksi ke Area 4.096 Tetap Terbuka

Rabu, 10 Juni 2026 - 12:00

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pergerakan harga emas dunia masih menunjukkan kecenderungan melemah pada perdagangan pekan ini. Meskipun sesekali muncul upaya rebound, tekanan jual yang mendominasi pasar dalam beberapa waktu terakhir membuat prospek logam mulia tersebut masih cenderung negatif. Pelaku pasar pun terus mencermati perkembangan ekonomi global dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang menjadi faktor utama penggerak harga emas.

Berdasarkan analisis Dupoin Futures yang disampaikan oleh analis Geraldo Kofit, pergerakan pasangan XAU/USD pada timeframe mingguan masih berada dalam fase bearish yang cukup kuat. Struktur harga yang terbentuk hingga saat ini menunjukkan bahwa tren turun masih menjadi arah utama pasar, sementara peluang terjadinya pembalikan arah masih relatif terbatas.

Secara teknikal, tekanan jual kembali terlihat pada awal perdagangan pekan ini. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pelaku pasar masih lebih banyak melakukan aksi jual dibandingkan pembelian. Selama belum ada sinyal teknikal yang mampu mengindikasikan perubahan tren secara jelas, potensi pelemahan harga emas masih perlu menjadi perhatian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Geraldo, tren penurunan yang terjadi saat ini bukan sekadar koreksi jangka pendek, melainkan bagian dari struktur bearish yang telah terbentuk sejak beberapa waktu lalu. Pada grafik mingguan maupun harian, harga masih bergerak dalam pola yang menunjukkan dominasi seller. Situasi ini menandakan bahwa pasar belum memiliki tenaga yang cukup untuk membangun momentum kenaikan yang lebih berkelanjutan.

Dari sisi teknikal, area support di level 4.096 menjadi titik yang patut dicermati dalam waktu dekat. Level tersebut diperkirakan menjadi target penurunan berikutnya apabila tekanan jual masih berlanjut. Jika support tersebut gagal menahan laju penurunan harga, maka peluang emas bergerak menuju area yang lebih rendah di sekitar 3.884 akan semakin terbuka.

Baca Juga :  Trading Gold vs Forex: Mana yang Lebih Cocok untuk Pemula?

Indikator stochastic juga masih memberikan gambaran yang sejalan dengan tren saat ini. Meskipun posisinya berada di area oversold atau jenuh jual, indikator tersebut belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang kuat. Dalam kondisi tertentu, area oversold memang sering menjadi awal munculnya rebound. Namun untuk saat ini, belum terlihat adanya sinyal yang cukup kuat untuk mengonfirmasi perubahan arah dari bearish menjadi bullish.

Dengan demikian, pasar masih menilai bahwa risiko penurunan harga emas lebih besar dibandingkan peluang kenaikannya. Selama belum muncul faktor baru yang mampu mengubah sentimen pasar secara signifikan, tekanan jual diperkirakan tetap menjadi tema utama dalam perdagangan emas.

Selain faktor teknikal, sentimen fundamental juga masih memberikan tekanan terhadap logam mulia tersebut. Salah satu faktor yang paling berpengaruh adalah penguatan dolar Amerika Serikat yang masih bertahan di level tinggi. Dolar yang kuat biasanya menjadi tantangan bagi harga emas karena membuat logam mulia tersebut lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.

Tidak hanya itu, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat juga turut mengurangi daya tarik emas. Dalam situasi seperti saat ini, investor cenderung mencari instrumen yang mampu memberikan pendapatan atau imbal hasil yang lebih jelas. Karena emas tidak memberikan bunga maupun dividen, sebagian investor memilih mengalihkan dana ke aset berbasis dolar yang menawarkan tingkat pengembalian lebih menarik.

Baca Juga :  Cara Mudah Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut

Pasar juga masih meyakini bahwa Federal Reserve belum akan terburu-buru mengubah kebijakan moneternya. Selama data ekonomi Amerika Serikat masih menunjukkan ketahanan yang baik, terutama dari sisi tenaga kerja dan inflasi, peluang suku bunga bertahan tinggi masih cukup besar. Ekspektasi tersebut menjadi faktor yang terus menopang penguatan dolar AS dan menjaga tekanan terhadap harga emas.

Di sisi lain, berkurangnya minat terhadap aset safe haven juga ikut memengaruhi pergerakan pasar. Ketika kondisi ekonomi global dianggap relatif stabil dan investor memiliki optimisme terhadap prospek pertumbuhan ekonomi, permintaan terhadap aset perlindungan seperti emas biasanya cenderung menurun. Aliran dana kemudian beralih ke instrumen yang dianggap memiliki potensi keuntungan lebih tinggi.

Kombinasi antara kuatnya dolar AS, tingginya imbal hasil obligasi, serta berkurangnya permintaan safe haven membuat prospek emas dalam jangka menengah masih terlihat menantang. Kondisi tersebut sejalan dengan gambaran teknikal yang masih menunjukkan tren turun yang cukup solid.

Secara keseluruhan, analisis Dupoin Futures memperkirakan harga emas masih berpotensi melanjutkan pelemahan selama belum ada perubahan signifikan pada sentimen pasar maupun struktur teknikal yang ada. Area 4.096 menjadi level yang perlu diperhatikan sebagai target penurunan terdekat, sementara area 3.884 berpotensi menjadi sasaran berikutnya apabila tekanan bearish terus berlanjut. Oleh karena itu, investor disarankan untuk tetap mencermati perkembangan data ekonomi Amerika Serikat dan arah kebijakan Federal Reserve yang akan menjadi penentu utama pergerakan emas dalam beberapa waktu mendatang.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Dari Limbah Jadi Nilai: BINUS @Malang Transformasikan Plastik menjadi Peluang Ekonomi Berkelanjutan
Holding Perkebunan Nusantara melalui PTPN I (Persero) Hadirkan “Ruang Tenang” Lewat Aset Agrowisata di Jawa Tengah
Mengapa Pen-Test Tahunan Sudah Tidak Lagi Cukup di Tengah Lanskap Ancaman Siber yang Terus Berubah, ITSEC Asia (IDX:CYBR) Perkenalkan Bronyx.AI
Rayakan Semangat FIFA World Cup 2026™, Hisense Hadirkan Teknologi Canggih di Jakarta Fair 2026
BRI Region 6 Gelar Pendidikan Leadership & Managerial Skill Bertema “Data Analysis: Using Data For Better Individual Decision”
Ribuan Warga Menyaksikan Kemeriahan Flower Parade JIFF 2026, Dorong Kebangkitan Pasar Bunga Rawa Belong
Pemanfaatan Kembali Material Tambang, MIND ID Tekan Limbah B3 hingga 38%
BRI Region 6 Sambut Pekerja Baru Melalui Program Onboarding

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 19:00

Dari Limbah Jadi Nilai: BINUS @Malang Transformasikan Plastik menjadi Peluang Ekonomi Berkelanjutan

Senin, 15 Juni 2026 - 18:00

Holding Perkebunan Nusantara melalui PTPN I (Persero) Hadirkan “Ruang Tenang” Lewat Aset Agrowisata di Jawa Tengah

Senin, 15 Juni 2026 - 17:00

Mengapa Pen-Test Tahunan Sudah Tidak Lagi Cukup di Tengah Lanskap Ancaman Siber yang Terus Berubah, ITSEC Asia (IDX:CYBR) Perkenalkan Bronyx.AI

Senin, 15 Juni 2026 - 17:00

Rayakan Semangat FIFA World Cup 2026™, Hisense Hadirkan Teknologi Canggih di Jakarta Fair 2026

Senin, 15 Juni 2026 - 17:00

BRI Region 6 Gelar Pendidikan Leadership & Managerial Skill Bertema “Data Analysis: Using Data For Better Individual Decision”

Senin, 15 Juni 2026 - 16:00

Pemanfaatan Kembali Material Tambang, MIND ID Tekan Limbah B3 hingga 38%

Senin, 15 Juni 2026 - 16:00

BRI Region 6 Sambut Pekerja Baru Melalui Program Onboarding

Senin, 15 Juni 2026 - 15:00

Sajiva Residence Salurkan Bantuan Sembako untuk Warga Terdampak Pergeseran Tanah di Sukamakmur

Berita Terbaru