Bitcoin Kembali Tertekan, CPI dan The Fed Jadi Penentu Arah Berikutnya - Koran Mandalika

Bitcoin Kembali Tertekan, CPI dan The Fed Jadi Penentu Arah Berikutnya

Sabtu, 5 September 2026 - 10:02

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, 5 September 2026 – Bitcoin (BTC) kembali berada di bawah level psikologis US$80.000 setelah sempat menembus US$82.000 pada perdagangan sebelumnya. Pergerakan ini terjadi di tengah meningkatnya kehati-hatian investor global setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat dari perkiraan kembali mengubah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed.

Per sekitar pukul 09.00 WIB pada Sabtu (5/9), Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$79.578, melemah sekitar 1,9% dalam 24 jam. Dalam periode yang sama, BTC sempat menyentuh level tertinggi US$82.108 dan terendah sekitar US$78.706.

Tekanan terhadap Bitcoin meningkat setelah Bureau of Labor Statistics (BLS) AS melaporkan penambahan 162.000 lapangan kerja nonpertanian pada Agustus 2026, jauh di atas perkiraan ekonom. Tingkat pengangguran juga bertahan di level 4,1%. Data tersebut memperlihatkan bahwa pasar tenaga kerja AS masih cukup kuat dan memberi ruang lebih besar bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat, bahkan membuka kembali kemungkinan kenaikan suku bunga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai koreksi Bitcoin saat ini menunjukkan bahwa faktor makroekonomi masih menjadi salah satu penggerak utama pasar aset kripto dalam jangka pendek.

“Pergerakan Bitcoin saat ini memperlihatkan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga dan likuiditas global. Data tenaga kerja AS yang kuat membuat investor kembali menghitung kemungkinan kebijakan The Fed yang lebih ketat. Jadi, koreksi ini lebih banyak mencerminkan perubahan sentimen makro dibandingkan perubahan fundamental Bitcoin itu sendiri,” ujar Yudho.

Bitcoin Uji Area Penting US$78.500–US$79.200

Dari sisi teknikal, data internal FLOQ melihat area US$78.500–US$79.200 menjadi zona yang perlu diperhatikan dalam jangka pendek. Kemampuan Bitcoin mempertahankan area tersebut dapat menjadi fondasi untuk kembali menguji US$80.600 dan kemudian area US$82.000.

Baca Juga :  Rayakan HUT ke-38, PT Jasamarga Tollroad Maintenance Berbagi Kebahagiaan dengan 50 Anak Yatim Piatu

Sebaliknya, apabila tekanan jual berlanjut dan BTC kehilangan US$78.500 secara meyakinkan, ruang koreksi menuju area sekitar US$76.800 dapat kembali terbuka.

“Selama Bitcoin masih mampu mempertahankan area US$78.500 sampai US$79.200, kami melihat struktur pemulihannya belum sepenuhnya hilang. Pasar membutuhkan buying momentum baru untuk merebut kembali US$80.600 dan terutama US$82.000. Jika US$82.000 berhasil ditembus secara konsisten, ruang menuju US$85.000 akan kembali terbuka,” kata Yudho.

Meski tekanan makro meningkat, terdapat sinyal positif dari sisi permintaan institusional. Spot Bitcoin ETF di AS mencatat sekitar US$730,9 juta net inflow pada 3 September, menjadi salah satu arus masuk harian terbesar dalam beberapa bulan terakhir. Arus dana tersebut terjadi ketika Bitcoin kembali menembus level US$82.000 sebelum akhirnya terkoreksi pascarilis data tenaga kerja AS.

Menurut Yudho, kondisi tersebut menunjukkan adanya tarik-menarik antara tekanan makro jangka pendek dan minat investor institusional terhadap aset kripto.

“Hal yang menarik adalah ketika harga mengalami volatilitas akibat faktor makro, kita masih melihat arus modal institusional masuk melalui ETF. Ini memberikan gambaran bahwa investor besar belum sepenuhnya meninggalkan Bitcoin. Karena itu, investor perlu membedakan volatilitas jangka pendek dengan perkembangan permintaan struktural yang terjadi di pasar,” jelasnya.

CPI dan Keputusan The Fed Jadi Katalis Berikutnya

Perhatian pasar kini beralih ke laporan inflasi AS untuk Agustus yang dijadwalkan dirilis pada 11 September 2026. Data tersebut menjadi semakin penting setelah CPI AS pada Juli tercatat naik 3,4% secara tahunan. Angka inflasi berikutnya berpotensi menentukan seberapa agresif The Fed perlu merespons kondisi ekonomi AS.

Baca Juga :  Yudhi Isman: Sebuah Perjalanan dari Indonesia Menuju Panggung Teknologi Global

Setelah laporan CPI, investor akan menghadapi agenda yang lebih besar melalui pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15–16 September 2026. The Fed dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan moneternya pada 16 September.

Menurut FLOQ, kombinasi data inflasi dan keputusan The Fed akan menjadi dua katalis terpenting bagi arah Bitcoin dalam beberapa pekan ke depan.

“Untuk beberapa hari ke depan, fokusnya bukan hanya apakah Bitcoin berada di US$79.000 atau US$80.000. Yang lebih penting adalah bagaimana data inflasi mengubah ekspektasi kebijakan The Fed. Jika tekanan inflasi mulai melandai dan The Fed memilih mempertahankan suku bunga, ruang pemulihan risk assets termasuk Bitcoin bisa kembali terbuka. Sebaliknya, inflasi yang masih tinggi dan sinyal kebijakan yang lebih hawkish berpotensi mempertahankan volatilitas,” ungkap Yudho.

Dengan kondisi tersebut, prospek Bitcoin dalam jangka pendek masih cenderung netral dengan volatilitas tinggi. Area US$78.500 menjadi level penting untuk menjaga struktur pemulihan, sementara US$82.000 menjadi resistance utama yang perlu ditembus untuk memberikan konfirmasi bullish yang lebih kuat.

Namun, di luar fluktuasi jangka pendek, berlanjutnya arus dana institusional menjadi salah satu faktor yang dapat menopang prospek pasar. Karena itu, pergerakan Bitcoin sepanjang September diperkirakan akan lebih banyak ditentukan oleh interaksi antara inflasi AS, kebijakan The Fed, kondisi likuiditas global, serta keberlanjutan permintaan dari investor institusional.

Disclaimer: Materi ini disampaikan untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan merupakan rekomendasi atau ajakan untuk membeli maupun menjual aset kripto.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Dorong Kebiasaan Menabung Generasi Muda, Raya Active Bank Raya Raih Penghargaan
Fusion Hotel Group Indonesia Pererat Koneksi dengan Komunitas Kreatif Batam melalui Creator Afternoon Tea & Media Dinner
Dorong UMK Naik Kelas, PT Pelindo Sinergi Lokaseva Fasilitasi Sertifikasi Halal UMK Jakarta Utara
Indonesia Contact Center Association Sukses Gelar Awards Ceremony TBCCI 2026
Bank Neo Commerce Resmi Jadi Official Banking Partner VOTCHA 2026, Ajak Komunitas Trail Runner Kelola Keuangan Selincah Menaklukkan Trek
PBA Labs Opens Enrollment for the Certified Blockchain Developer Course
PBA Labs Buka Pendaftaran Certified Blockchain Developer Course
SEC Buka Jalan bagi Tokenisasi Saham AS, Bittime Cermati Perkembangan Pasar

Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 19:02

Dorong Kebiasaan Menabung Generasi Muda, Raya Active Bank Raya Raih Penghargaan

Jumat, 25 September 2026 - 19:02

Fusion Hotel Group Indonesia Pererat Koneksi dengan Komunitas Kreatif Batam melalui Creator Afternoon Tea & Media Dinner

Jumat, 25 September 2026 - 18:02

Dorong UMK Naik Kelas, PT Pelindo Sinergi Lokaseva Fasilitasi Sertifikasi Halal UMK Jakarta Utara

Jumat, 25 September 2026 - 17:02

Bank Neo Commerce Resmi Jadi Official Banking Partner VOTCHA 2026, Ajak Komunitas Trail Runner Kelola Keuangan Selincah Menaklukkan Trek

Jumat, 25 September 2026 - 16:02

PBA Labs Opens Enrollment for the Certified Blockchain Developer Course

Jumat, 25 September 2026 - 16:02

PBA Labs Buka Pendaftaran Certified Blockchain Developer Course

Jumat, 25 September 2026 - 16:02

SEC Buka Jalan bagi Tokenisasi Saham AS, Bittime Cermati Perkembangan Pasar

Jumat, 25 September 2026 - 15:02

SUCOFINDO Dorong Kepatuhan dan Kesiapsiagaan Industri Kimia Kalimantan Timur melalui Sosialisasi dan Coaching Clinic P2KDBK

Berita Terbaru