BRI Finance Pertahankan Kinerja Solid di Tengah Tantangan Ekonomi Nasional - Koran Mandalika

BRI Finance Pertahankan Kinerja Solid di Tengah Tantangan Ekonomi Nasional

Kamis, 30 Oktober 2025 - 16:18

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, 27 Oktober 2025 – Di tengah kondisi pertumbuhan industri pembiayaan nasional saat ini, PT BRI Multifinance Indonesia (“BRI Finance”) tetap menunjukkan ketahanan bisnis dan konsistensi dalam menjaga kualitas portofolio pembiayaannya. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total piutang pembiayaan industri multifinance per Agustus 2025 mencapai Rp505,59 triliun atau tumbuh 1,26% secara tahunan (year-on-year). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 10,18% pada periode yang sama tahun sebelumnya, menandakan dinamika ekonomi yang masih penuh tantangan.

Direktur Utama BRI Finance, Wahyudi Darmawan, menjelaskan bahwa kondisi perlambatan ini menjadi momentum bagi industri untuk beradaptasi secara strategis. “Kami melihat tahun 2025 sebagai fase konsolidasi dan penyesuaian arah bisnis. Fokus kami bukan sekadar mengejar pertumbuhan volume, tetapi memastikan bahwa setiap pembiayaan yang disalurkan memiliki kualitas yang baik, risiko yang terukur, serta berdampak positif pada sektor riil. Pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan menjadi prioritas utama BRI Finance,” ujar Wahyudi.

Ia menambahkan, tantangan seperti melemahnya daya beli masyarakat dan tingginya suku bunga mendorong pelaku industri untuk lebih selektif dalam ekspansi. “Kami memperkuat strategi melalui diversifikasi produk, memperluas portofolio ke sektor produktif, salah satunya alat berat. Pendekatan ini membuat bisnis kami tidak hanya bergantung pada pembiayaan konsumer, namun juga berperan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” tambahnya.

Sementara itu, Aditia Fakhri Ramadhani, Corporate Secretary BRI Finance, menjelaskan bahwa tekanan terhadap permintaan pembiayaan tidak lepas dari kombinasi faktor makroekonomi yang menekan daya beli konsumen. “Pelemahan daya beli, tingginya suku bunga, serta sikap konservatif industri menjadi faktor utama yang menahan laju pembiayaan tahun ini. Kenaikan harga kebutuhan pokok juga membuat masyarakat menunda pembelian barang bernilai tinggi seperti kendaraan, yang selama ini menjadi kontributor utama portofolio multifinance,” ujarnya.

Dhani menambahkan bahwa dampak penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) belum sepenuhnya terasa terhadap biaya dana (cost of fund) maupun minat pembiayaan nasabah. “Sebagian besar lembaga pembiayaan masih menggunakan sumber pendanaan dengan suku bunga yang dikunci sejak kuartal sebelumnya. Dampak positif dari penurunan BI Rate baru akan dirasakan setelah bank menyesuaikan bunga pinjaman dan pasar obligasi mulai merespons,” jelasnya.

Baca Juga :  Hari Terakhir Periode Libur Imlek, Volume Penumpang KA di Wilayah Daop 4 Semarang Capai 45 Ribu Lebih

Menghadapi kondisi tersebut, BRI Finance memperkuat pondasi bisnis melalui transformasi digital dan peningkatan efisiensi proses. Pemanfaatan teknologi menjadi kunci dalam mempercepat proses analisis risiko, memperbaiki sistem credit scoring, serta memperkuat sistem penagihan berbasis early warning system. Langkah ini tidak hanya menjaga kualitas aset, tetapi juga memastikan pengalaman pelanggan yang lebih baik dan efisien.

Dari sisi pendanaan, BRI Finance terus melakukan efisiensi dan optimalisasi struktur pembiayaan untuk menjaga margin di tengah tekanan suku bunga tinggi. Sebagai bagian dari ekosistem BRI Group, perusahaan juga memanfaatkan sinergi dengan induk usaha untuk memperluas akses pembiayaan bagi segmen produktif dan usaha kecil menengah yang memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang. Dhani menggarisbawahi, “Melihat tren industri multifinance yang tumbuh moderat, BRI Finance memperkirakan pertumbuhan piutang pembiayaan hingga akhir 2025 akan tetap positif, meski tidak setinggi tahun sebelumnya.”

Press Release ini juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Libur Panjang Idul Adha 2026, KAI Daop 2 Sediakan Lebih Dari 102 Ribu Tempat Duduk
Holding Perkebunan Nusantara Perkuat Produktivitas Karet, PTPN I Fokus Benahi Kebun Padang Pelawi
Bitcoin Mulai Stabil di Tengah Sentimen Pasar yang Membaik, Bittime Soroti Pentingnya Diversifikasi Portofolio
KAI Akomodir Kebutuhan Pengguna LRT Jabodebek di Libur Nasional dan Weekday
Tiga Kampus, Satu Semangat: SATU UNIVERSITY Perkuat Kolaborasi Pendidikan dan Industri di Usia Ketiga
KAI Logistik Kirim 25 Kereta ke Sumatera, Dukung Penguatan Mobilitas Penumpang di Sumbagsel
PT Pelindo Sinergi Lokaseva Berbagi Hewan Kurban, Perkuat Kepedulian Sosial dan Dukung Peternak Lokal
Pelindo Petikemas Setor Rp1,73 Triliun ke Negara, Dukung Fiskal Nasional

Berita Terkait

Selasa, 26 Mei 2026 - 20:00

Libur Panjang Idul Adha 2026, KAI Daop 2 Sediakan Lebih Dari 102 Ribu Tempat Duduk

Selasa, 26 Mei 2026 - 19:00

Holding Perkebunan Nusantara Perkuat Produktivitas Karet, PTPN I Fokus Benahi Kebun Padang Pelawi

Selasa, 26 Mei 2026 - 19:00

Bitcoin Mulai Stabil di Tengah Sentimen Pasar yang Membaik, Bittime Soroti Pentingnya Diversifikasi Portofolio

Selasa, 26 Mei 2026 - 18:00

KAI Akomodir Kebutuhan Pengguna LRT Jabodebek di Libur Nasional dan Weekday

Selasa, 26 Mei 2026 - 18:00

Tiga Kampus, Satu Semangat: SATU UNIVERSITY Perkuat Kolaborasi Pendidikan dan Industri di Usia Ketiga

Selasa, 26 Mei 2026 - 18:00

PT Pelindo Sinergi Lokaseva Berbagi Hewan Kurban, Perkuat Kepedulian Sosial dan Dukung Peternak Lokal

Selasa, 26 Mei 2026 - 17:00

Pelindo Petikemas Setor Rp1,73 Triliun ke Negara, Dukung Fiskal Nasional

Selasa, 26 Mei 2026 - 17:00

Ketika Dunia Lindungi Baja Domestik, Penguatan TKDN Indonesia Jadi Keniscayaan

Berita Terbaru