DeepSeek vs AI Agents: Siapa yang Akan Bertahan dan Akan Tumbang? - Koran Mandalika

DeepSeek vs AI Agents: Siapa yang Akan Bertahan dan Akan Tumbang?

Kamis, 6 Februari 2025 - 21:50

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepercayaan para investor terhadap masa depan platform kecerdasan buatan (AI) generatif asal Hangzhou, DeepSeek, mengalami guncangan yang cukup signifikan setelah raksasa teknologi Alibaba merilis model AI terbarunya, Qwen 2.5. Model ini diklaim memiliki performa lebih unggul dibandingkan dengan DeepSeek-V3, sehingga memicu pergeseran sentimen di kalangan investor yang sebelumnya mendukung DeepSeek.

Peluncuran Qwen 2.5 tidak hanya menggoyahkan dominasi DeepSeek, tetapi juga membawa dampak terhadap pasar token terkait AI. Seiring dengan meningkatnya optimisme terhadap proyek AI lain, token-token AI Agent mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Virtuals Protocol mencatat lonjakan lebih dari 8%, sementara AIXBT dan Ai16z mengalami kenaikan lebih dari 10%. Kenaikan ini terjadi karena banyak investor yang mulai mengalihkan perhatian dan dana mereka ke proyek-proyek kecerdasan buatan berbasis desentralisasi, yang dinilai memiliki potensi lebih besar di tengah persaingan yang semakin ketat.

Di sisi lain, koreksi pasar terjadi setelah sebelumnya DeepSeek mengalami lonjakan yang cukup signifikan, menarik banyak perhatian dari investor di sektor AI. Namun, setelah Alibaba merilis model terbarunya, fokus investor mulai bergeser, menyebabkan tekanan jual yang tajam pada aset-aset yang terkait dengan DeepSeek. Akibatnya, valuasi DeepSeek mengalami penurunan drastis, dengan kerugian yang mencapai angka fantastis, yakni US$5 miliar atau setara dengan sekitar Rp81,2 triliun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pada awal pekan ini, DeepSeek merilis asisten AI terbaru yang dirancang untuk bersaing dengan model-model AI yang telah ada sebelumnya, tetapi dengan keunggulan biaya yang lebih rendah. Kehadiran inovasi ini memicu aksi jual besar-besaran di sektor saham teknologi di Amerika Serikat, karena investor mulai mempertimbangkan dampaknya terhadap lanskap industri kecerdasan buatan.

Baca Juga :  Trading Tanpa Delay, Trader Ini Akui Aplikasi HSB Investasi Stabil

Salah satu perusahaan yang terkena dampak signifikan adalah Nvidia, yang mengalami penyusutan kapitalisasi pasar hingga US$589 miliar atau sekitar Rp9.568 triliun. Penurunan ini turut menyeret harga saham perusahaan yang bergerak di bidang penambangan kripto serta aset kripto berbasis kecerdasan buatan, yang mengalami pelemahan tajam akibat tekanan pasar.

Namun, seiring dengan meredanya antusiasme awal terhadap model AI baru ini, pasar mulai menyadari potensi risiko dan kerugian yang mungkin timbul. Di saat yang sama, muncul pula token kripto palsu yang mengatasnamakan DeepSeek di berbagai bursa terdesentralisasi. Meskipun pihak DeepSeek telah menegaskan bahwa mereka tidak memiliki keterkaitan dengan mata uang kripto apa pun, para pelaku penipuan tetap memanfaatkan tren dan popularitas yang sedang berkembang untuk menarik keuntungan dari situasi tersebut.

Salah satu perusahaan AI terkemuka, OpenAI, menuduh bahwa DeepSeek menggunakan teknik “penyulingan” untuk melatih model kecerdasan buatannya dengan memanfaatkan keluaran dari OpenAI. Metode ini berpotensi melanggar ketentuan layanan yang ditetapkan oleh OpenAI dan menimbulkan kekhawatiran mengenai legalitas penggunaannya.

CEO OpenAI, Sam Altman, melalui unggahannya di platform X, mengakui bahwa model r1 DeepSeek cukup mengesankan, terutama dari segi harga yang lebih kompetitif. “Kami akan menghadirkan model yang lebih baik, dan kehadiran pesaing baru seperti ini cukup menyegarkan,” ujarnya.

Baca Juga :  Jennifer dan Rachel: Mahasiswa BINUS UNIVERSITY Raih Penghargaan di The World Universities Debating Championships 2025, Harumkan Nama Indonesia

Teknik penyulingan sendiri memungkinkan model AI berukuran lebih kecil untuk meniru kinerja model yang lebih besar dengan biaya pengembangan yang jauh lebih rendah. Namun, metode ini menimbulkan perdebatan di komunitas penelitian AI, terutama terkait dengan aspek etika dan implikasi hukumnya.

Tantangan yang dihadapi DeepSeek semakin kompleks setelah otoritas perlindungan data di Italia memulai investigasi terkait penggunaan data pribadi dalam sistem AI mereka. Sebagai dampak dari penyelidikan tersebut, aplikasi DeepSeek telah dihapus dari toko aplikasi Apple dan Google di wilayah Italia, menambah tekanan terhadap perusahaan dalam menghadapi kontroversi yang semakin berkembang.

Pergerakan Aset kripto, Saham Amerika Serikat, dan Emas Digital saat ini bisa kamu cek di aplikasi Nanovest. Jika kamu tertarik untuk mulai berinvestasi di Aset Kripto, Nanovest dapat menjadi pilihan kamu untuk mulai berinvestasi dan eksplor koin kripto lainnya, sebuah aplikasi investasi saham & kripto yang terpercaya dan aman yang dapat menjadi pilihan terbaik bagi para investor di Indonesia. Bagi para investor yang baru ingin memulai berinvestasi tidak perlu khawatir karena aset yang kamu miliki akan terjamin oleh perlindungan asuransi Sinar Mas sehingga terlindungi dari risiko cybercrime. Dan Nanovest juga telah terdaftar dan diawasi oleh BAPPEBTI, sehingga aman untuk digunakan. Bagi para penggiat investasi yang ingin menggunakan Nanovest, aplikasi ini sudah tersedia di Play Store maupun App Store Anda.

Berita Terkait

AICX 2026 oleh ITSEC Asia (IDX: CYBR): Indonesia Perlu Bersiap Menghadapi Ancaman Siber dari Komputasi Kuantum Sekarang
Perkuat Inovasi dan Layanan Digital, Bank Raya Perluas Percepatan Inklusi Keuangan Digital di Indonesia
Nikmati Tiket Spesial Cinema Day di FLIX Cinema
Konflik Timur Tengah dan Penurunan Stok AS Topang WTI, Dupoin Futures Pantau Tren Bullish
Prediksi Harga Emas Hari Ini: Dupoin Futures Proyeksikan XAUUSD Turun ke US$4.040
Material Besi Sampai di Proyek, Siapa yang Memeriksa Sebelum Dibongkar?
Tren Futures Kripto Global Meningkat, Bittime Tekankan Pentingnya Manajemen Risiko
Metranet Perkuat Pengelolaan Data Terintegrasi Berbasis AI di DPR RI untuk Peningkatan Akurasi dalam Fungsi Legislasi

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 12:02

AICX 2026 oleh ITSEC Asia (IDX: CYBR): Indonesia Perlu Bersiap Menghadapi Ancaman Siber dari Komputasi Kuantum Sekarang

Kamis, 22 Oktober 2026 - 12:02

Perkuat Inovasi dan Layanan Digital, Bank Raya Perluas Percepatan Inklusi Keuangan Digital di Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 - 11:02

Nikmati Tiket Spesial Cinema Day di FLIX Cinema

Kamis, 22 Oktober 2026 - 11:02

Konflik Timur Tengah dan Penurunan Stok AS Topang WTI, Dupoin Futures Pantau Tren Bullish

Kamis, 22 Oktober 2026 - 11:02

Prediksi Harga Emas Hari Ini: Dupoin Futures Proyeksikan XAUUSD Turun ke US$4.040

Kamis, 22 Oktober 2026 - 11:02

Tren Futures Kripto Global Meningkat, Bittime Tekankan Pentingnya Manajemen Risiko

Kamis, 22 Oktober 2026 - 10:02

Metranet Perkuat Pengelolaan Data Terintegrasi Berbasis AI di DPR RI untuk Peningkatan Akurasi dalam Fungsi Legislasi

Kamis, 22 Oktober 2026 - 10:02

Furniture Kantor Custom atau Beli Jadi, Mana yang Masuk Akal?

Berita Terbaru

Nikmati Tiket Spesial Cinema Day di FLIX Cinema

Teknologi

Nikmati Tiket Spesial Cinema Day di FLIX Cinema

Kamis, 22 Okt 2026 - 11:02