FisTx Jadi Perusahaan Akuakultur Pertama di Indonesia yang Produksi dan Terapkan Teknologi Nano untuk Atasi EHP, AHPND, WSSV hingga WFD pada Udang - Koran Mandalika

FisTx Jadi Perusahaan Akuakultur Pertama di Indonesia yang Produksi dan Terapkan Teknologi Nano untuk Atasi EHP, AHPND, WSSV hingga WFD pada Udang

Rabu, 5 Agustus 2026 - 23:02

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

FisTx Jadi Perusahaan Akuakultur Pertama di Indonesia yang Produksi dan Terapkan Teknologi Nano untuk Atasi EHP, AHPND, WSSV hingga WFD pada Udang

Nano Silver dan Nano Disinfektan berbasis nanopartikel perak dan tembaga produksi Fistx Indonesia terbukti efektif menembus sel patogen tanpa memicu resistensi antibiotik, dan telah diaplikasikan di berbagai tambak komersial di Indonesia.

Yogyakarta — FisTx (PT Aditya Inovasi Makmur), perusahaan teknologi akuakultur asal Sleman, Yogyakarta, mengukuhkan diri sebagai perusahaan akuakultur pertama di Indonesia yang berhasil memproduksi sekaligus menerapkan teknologi nano sebagai alat disinfeksi air dan aditif pakan untuk mengatasi momok utama industri udang nasional: EHP (Enterocytozoon hepatopenaei), AHPND (Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease), WSSV (White Spot Syndrome Virus) hingga WFD (White Feces Disease).

Lewat dua produk andalan, Nano Silver dan Nano Disinfektan (nano copper), FisTx menghadirkan pendekatan biosekuriti berlapis: Nano Silver dicampur langsung ke pakan untuk melindungi udang dari dalam, sementara Nano Disinfektan ditebar ke air kolam untuk sterilisasi menyeluruh. Kedua produk memanfaatkan partikel aktif berukuran 4–7 nanometer — validasi Transmission Electron Microscope (TEM) di Laboratorium Kimia FMIPA UGM mengonfirmasi ukuran partikel ini konsisten dan terdistribusi merata tanpa agregasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Selama ini petambak udang Indonesia bergantung pada disinfektan kimia konvensional atau antibiotik yang punya dua masalah besar: memicu resistensi bakteri dan meninggalkan residu berbahaya. Teknologi nano bekerja berbeda — partikelnya menembus langsung dinding sel patogen, menonaktifkan enzim dan produksi energinya, hingga merusak DNA-nya. Karena jalur serangannya multi-titik, Vibrio, virus WSSV, maupun spora EHP tidak sempat membangun resistensi,” kata Rico Wisnu Wibisono, Founder & CEO FisTx.

Baca Juga :  KAI Daop 1 Jakarta Bersama DJKA Selenggarakan Angkutan Motor Gratis Selama Libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026

Terbukti di Lapangan

Efektivitas Nano Disinfektan FisTx sudah divalidasi di sejumlah tambak komersial. Di tambak udang Pasuruan, aplikasi rutin berhasil menjaga total Vibrio tetap di bawah ambang aman selama siklus budidaya berlangsung. Pada uji feed additive bersama mitra PT MEN, satu kolam mencatat penurunan Vibrio Green patogenik dari 38.700 CFU/ml menjadi nol hanya dalam sepuluh hari evaluasi.

Dari sisi keamanan, uji LD-50 internal menunjukkan margin keamanan hingga 710 kali antara dosis operasional dan ambang toksik bagi udang — jauh di atas standar keamanan produk sejenis. Dari sisi ekonomi, penggunaan Nano Disinfektan tercatat menghemat biaya disinfeksi lebih dari 87% dibanding kaporit untuk volume setara.

Kata Petambak

Klaim efektivitas ini juga diperkuat pengalaman langsung para petambak yang sudah menggunakan produk FisTx. Iming, petambak dari Lampung yang telah tiga kali membeli Nano Disinfektan, mengaku puas dengan hasilnya: “So far bagus.”

Di Kulon Progo, seorang petambak binaan FisTx sempat mengalami lonjakan kematian udang sejak hari ke-30 budidaya (DOC 30). Setelah rutin menerapkan Nano Disinfektan, kondisi kolam berangsur pulih. “Alhamdulillah sudah membaik, yang bermasalah kemarin kolam 8 dan kolam 6, sudah mau makan dan kematian menurun,” tulis petambak tersebut kepada tim FisTx. Tambak ini akhirnya berhasil dipanen tuntas pada DOC 120 dengan size 28, total hasil panen 9,5 ton dari tiga kolam.

Sementara itu, Salah satu performa dari Fistx Disinfection System (FDS) yaitu Nano Disinfektan telah dirasakan oleh Mas Bayu, Petambak di Pengandaran. “Bakteri vibrio dulu jadi masalah utama di tambak kami. Sekarang bisa kami kendalikan dengan Nano Disinfektan. Kami berhasil pertahankan SR di atas 85% selama 4 siklus terakhir. Ini jadi produk standar wajib di semua kolam tambak kami.“

Baca Juga :  Ethereum dalam 10 Tahun: Dari Ide Revolusioner ke Kripto Terbesar Kedua

Baca Juga : Mengatasi Penyakit Udang dengan Teknologi Nano: Panduan Modern Biosekuriti Tambak

Membangun Kepercayaan Global

Pencapaian teknologi nano ini menjadi fondasi baru bagi ekspansi FisTx yang saat ini tengah memperluas jejak kemitraan internasional, termasuk ke Pakistan dan kawasan Timur Tengah. Sebagai perusahaan yang telah mendistribusikan produk ke lebih dari 25 provinsi dan tiga negara, dengan lebih dari 1.500 petambak binaan, keberhasilan memproduksi teknologi nano dalam negeri memperkuat posisi Indonesia di peta inovasi akuakultur global — bukan lagi sekadar pengguna teknologi asing, melainkan produsen dan eksportir solusi biosekuriti berbasis riset sendiri.

“Ini bukan cuma soal produk baru. Ini soal membuktikan bahwa Indonesia bisa memproduksi teknologi nano akuakultur kelas dunia dari dalam negeri, dengan validasi ilmiah dan bukti lapangan yang bisa dipertanggungjawabkan ke mitra global mana pun,” kata Rico.

Tentang FisTx

FisTx (PT Aditya Inovasi Makmur) adalah perusahaan teknologi akuakultur asal Sleman, Yogyakarta, yang menyediakan solusi terintegrasi biosekuriti air, nutrisi budidaya, konstruksi tambak, dan pendampingan lapangan bagi pelaku perikanan budidaya di seluruh Indonesia. Produk FisTx telah didistribusikan ke lebih dari 25 provinsi dan tiga negara, menjangkau lebih dari 1.500 petambak, dengan rata-rata peningkatan tingkat keberhasilan budidaya hingga 83,6%.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Perkuat Akses Perlindungan Pekerja, BRI BO Wonosari Bersinergi dengan BPJS Ketenagakerjaan melalui BRILink Agen
Kapan Harus Membayar Pinjaman? Pahami Jatuh Tempo dan Pilihan Pelunasan Lebih Awal
NEXTGEN MANAGER 2026 – KESEMPATAN UNTUK MENGUJI DAN MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN MANAJERIAL
BRI Unit Ciracas Konsisten Dukung Pelaku UMKM Menjadikan Atin Kurniawati Sukses Kembangkan Usaha Siomay dan Batagor Berkat KUR BRI
Kawal Hilirisasi dan Kedaulatan Mineral, MIND ID Gandeng KPK Integrasikan WBS
Sebelum Gadai Barang Mewah, Konsumen Perlu Memeriksa Legalitas hingga Ketentuan Penebusan
Pasar Kripto Dilanda Extreme Fear, Bitcoin Hadapi Tekanan Baru
Perkuat Penanganan Dampak Karhutla, Elnusa Petrofin Pasok Alat Medis untuk 3 Rumah Oksigen di Kalsel

Berita Terkait

Minggu, 8 November 2026 - 21:02

Perkuat Akses Perlindungan Pekerja, BRI BO Wonosari Bersinergi dengan BPJS Ketenagakerjaan melalui BRILink Agen

Minggu, 8 November 2026 - 20:02

Kapan Harus Membayar Pinjaman? Pahami Jatuh Tempo dan Pilihan Pelunasan Lebih Awal

Minggu, 8 November 2026 - 19:02

NEXTGEN MANAGER 2026 – KESEMPATAN UNTUK MENGUJI DAN MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN MANAJERIAL

Minggu, 8 November 2026 - 18:02

BRI Unit Ciracas Konsisten Dukung Pelaku UMKM Menjadikan Atin Kurniawati Sukses Kembangkan Usaha Siomay dan Batagor Berkat KUR BRI

Minggu, 8 November 2026 - 15:02

Sebelum Gadai Barang Mewah, Konsumen Perlu Memeriksa Legalitas hingga Ketentuan Penebusan

Minggu, 8 November 2026 - 14:02

Pasar Kripto Dilanda Extreme Fear, Bitcoin Hadapi Tekanan Baru

Minggu, 8 November 2026 - 12:02

Perkuat Penanganan Dampak Karhutla, Elnusa Petrofin Pasok Alat Medis untuk 3 Rumah Oksigen di Kalsel

Minggu, 8 November 2026 - 08:02

Kenali Keunggulan Charm Pantyliner Cooling Fresh

Berita Terbaru