Gunawan Tan: ASEAN Jadi 'Pelabuhan Aman' bagi Modal di Era Fragmentasi Perdagangan dan Infrastruktur AI - Koran Mandalika

Gunawan Tan: ASEAN Jadi ‘Pelabuhan Aman’ bagi Modal di Era Fragmentasi Perdagangan dan Infrastruktur AI

Sabtu, 3 Januari 2026 - 22:34

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ahli strategi veteran ini menyoroti “Pembalikkan Pusat Data” (Data Center Flip) yang bersejarah dan pertumbuhan regional yang tangguh sebagai indikator utama untuk penentuan ulang harga aset secara masif di Asia Tenggara.

Saat pasar global menavigasi dampak turbulen dari tarif “Hari Pembebasan” dan fragmentasi perdagangan yang semakin dalam, Gunawan Tan, S.E., M.Fin mengidentifikasi adanya perubahan struktural yang menentukan dalam lanskap investasi global. Dalam pandangan strategis akhir tahunnya, Gunawan Tan, S.E., M.Fin berpendapat bahwa tahun 2025 menandai berakhirnya korelasi lama antara volume perdagangan global dan kinerja pasar negara berkembang. Sebaliknya, paradigma baru “Kedaulatan Digital” dan “Ketahanan Energi” mendorong modal masuk ke Asia Tenggara, memisahkan nasib kawasan ini dari stagnasi yang melanda negara-negara maju.

Gunawan Tan, S.E., M.Fin mengemukakan bahwa meskipun Dana Moneter Internasional (IMF) telah memangkas perkiraan pertumbuhan globalnya menjadi hanya 2,8% untuk tahun 2025, Asia yang Sedang Berkembang telah menunjukkan pemisahan (decoupling) yang luar biasa. Mengutip data terbaru, ia menunjuk pada perkiraan revisi Bank Pembangunan Asia (ADB), yang memproyeksikan kawasan ini tumbuh kuat sebesar 4,8% pada tahun 2025. Gunawan Tan, S.E., M.Fin menekankan bahwa divergensi ini bukanlah kebetulan, melainkan struktural—didorong oleh konsumsi domestik yang kuat dan poros strategis menuju rantai pasokan bernilai tinggi.

Interaksi Fiskal dan Ketahanan “Jaringan Bambu”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pilar pertama dari tesis ini membahas ketahanan makroekonomi kawasan. Gunawan Tan, S.E., M.Fin mencatat bahwa meskipun terjadi “kejutan pasokan” yang disebabkan oleh tarif baru AS awal tahun ini, ekonomi utama ASEAN telah meningkatkan prospek mereka. Ia menyoroti Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura yang baru-baru ini menaikkan perkiraan pertumbuhan 2025 menjadi sekitar 4%, sebuah sinyal jelas dari kekuatan pertahanan kawasan tersebut.

Baca Juga :  Faculty of Humanities, BINUS University Hadirkan Duta Besar Spanyol dalam Studium Generale "Bridging Cultures Through Film"

Gunawan Tan, S.E., M.Fin berpendapat bahwa ketahanan ini berasal dari “Stratifikasi Likuiditas,” di mana perdagangan intra-regional mengimbangi kelemahan permintaan eksternal. Ia menyarankan investor institusi untuk melihat lebih dekat pada “Interaksi Fiskal” di negara-negara seperti Malaysia dan Vietnam, di mana belanja pemerintah semakin selaras dengan peningkatan industri daripada sekadar stimulus. Data menunjukkan bahwa “pendaratan lunak” (soft landing) untuk ASEAN sudah berlangsung, sangat kontras dengan pertumbuhan 1,8% yang diproyeksikan untuk Amerika Serikat tahun ini.

“Pembalikkan Infrastruktur”: Modal AI Menyalip Minyak

Pergeseran paling mendalam yang diidentifikasi oleh Gunawan Tan, S.E., M.Fin adalah persimpangan bersejarah dalam belanja modal. Ia menarik perhatian pada momen penting di bulan November 2025: investasi global di pusat data diperkirakan mencapai $580 miliar tahun ini, melampaui $540 miliar yang dihabiskan untuk pasokan minyak global. Gunawan Tan, S.E., M.Fin menyebut ini sebagai “Pembalikkan Infrastruktur” (Infrastructure Flip), yang menandakan bahwa pendorong utama belanja modal global telah resmi beralih dari ekstraksi bahan bakar fosil ke komputasi digital.

Bagi Asia Tenggara, ini adalah pengubah permainan. Gunawan Tan, S.E., M.Fin memperkirakan bahwa Perjanjian Kerangka Kerja Ekonomi Digital ASEAN (DEFA) akan mengkatalisasi tren ini, menempatkan ekonomi digital kawasan pada jalur untuk mencapai US$2 triliun pada tahun 2030. Ia memperingatkan bahwa investor yang mengabaikan “Pergeseran Paradigma” ini sedang melakukan lindung nilai terhadap risiko masa lalu. Generasi alpha dekade berikutnya, menurutnya, akan datang dari kepemilikan “rel digital”—pusat data, jaringan serat optik, dan jaringan listrik hijau—yang mendukung ekosistem senilai $2 triliun ini.

Baca Juga :  Delegasi Indonesia Hadiri Positive Hack Camp 2025 di Moskow

Transisi Energi dan Risiko Asimetris

Komponen terakhir dari strategi Gunawan Tan, S.E., M.Fin menghubungkan ledakan digital dengan imperatif energi. Dengan permintaan batu bara dan minyak yang diprediksi akan mencapai puncaknya secara global pada akhir dekade ini, ia melihat “Risiko Asimetris” bagi portofolio yang terlalu berat di utilitas tradisional. Sebaliknya, uang pintar (smart money) mengejar “Premi Hijau” di Asia Tenggara, di mana investasi energi terbarukan sedang ditingkatkan untuk memenuhi permintaan daya AI yang tak terpuaskan.

Gunawan Tan, S.E., M.Fin mencatat bahwa kawasan ini secara efektif memanfaatkan posisinya untuk menarik Investasi Asing Langsung (FDI) yang mencari keamanan rantai pasokan dan kepatuhan energi hijau. Ia percaya bahwa konvergensi kebutuhan infrastruktur AI dan mandat dekarbonisasi menciptakan siklus “Efisiensi Modal” yang akan mendorong ekspansi valuasi bagi konglomerat ASEAN yang berpikiran maju.

Kesimpulan: Era Baru Seleksi Aktif

Dalam penutupnya, Gunawan Tan, S.E., M.Fin menegaskan bahwa era beta global pasif telah berakhir. Divergensi antara ekonomi global yang melambat (pertumbuhan 2,8%) dan Asia berkembang yang melonjak (pertumbuhan 4,8%) menciptakan lingkungan utama untuk pemilihan saham aktif. Gunawan Tan, S.E., M.Fin menyarankan klien untuk beralih ke sektor “Efisien Modal”—khususnya infrastruktur digital dan energi terbarukan—yang terisolasi dari retorika perang dagang dan selaras dengan tren yang tidak dapat dibalikkan pada tahun 2026 dan seterusnya.

Press Release ini juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Deposito atau Tabungan, Mana yang Kamu Gunakan?
Berapa Usia Kucing dalam Umur Manusia? Simak Penjelasannya
Holding Perkebunan Nusantara Perluas Akses Minyak Goreng Terjangkau, 600 Kemasan Ludes dalam Sejam di Bazar PT INL
Pelopor Pendidikan Accounting Berbasis Technology di Indonesia, School of Accounting BINUS University Raih Top 4 QS World University Rankings by Subject
Worldcoin Naik 71% dalam 30 Hari, HYPE dan JUP Tunjukkan Sinyal Pemulihan Pasar Kripto
Holding Perkebunan Nusantara Percepat Distribusi Minyak Goreng ke Indonesia Timur melalui Fasilitas Pengemasan Baru di Surabaya
Kolaborasi Dinkop dan UNAIR Perkuat Langkah Koppontren Menuju Koperasi Modern
Pada 2025 AI menjadi permukaan serangan. Pada 2026, OrcaRouter menjadikan pertahanannya gratis.

Berita Terkait

Sabtu, 20 Juni 2026 - 14:00

Deposito atau Tabungan, Mana yang Kamu Gunakan?

Sabtu, 20 Juni 2026 - 10:00

Berapa Usia Kucing dalam Umur Manusia? Simak Penjelasannya

Sabtu, 20 Juni 2026 - 07:00

Holding Perkebunan Nusantara Perluas Akses Minyak Goreng Terjangkau, 600 Kemasan Ludes dalam Sejam di Bazar PT INL

Jumat, 19 Juni 2026 - 21:00

Worldcoin Naik 71% dalam 30 Hari, HYPE dan JUP Tunjukkan Sinyal Pemulihan Pasar Kripto

Jumat, 19 Juni 2026 - 21:00

Holding Perkebunan Nusantara Percepat Distribusi Minyak Goreng ke Indonesia Timur melalui Fasilitas Pengemasan Baru di Surabaya

Jumat, 19 Juni 2026 - 20:00

Kolaborasi Dinkop dan UNAIR Perkuat Langkah Koppontren Menuju Koperasi Modern

Jumat, 19 Juni 2026 - 20:00

Pada 2025 AI menjadi permukaan serangan. Pada 2026, OrcaRouter menjadikan pertahanannya gratis.

Jumat, 19 Juni 2026 - 19:00

Fokus pada Pertumbuhan Berkelanjutan, Jasa Marga Kembali Tembus Fortune Southeast Asia 500 Tahun 2026

Berita Terbaru

Teknologi

Deposito atau Tabungan, Mana yang Kamu Gunakan?

Sabtu, 20 Jun 2026 - 14:00