Harga Emas Masih Tertekan, Peluang Turun ke Area 4.306 Masih Terbuka - Koran Mandalika

Harga Emas Masih Tertekan, Peluang Turun ke Area 4.306 Masih Terbuka

Selasa, 2 Juni 2026 - 11:00

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pergerakan harga emas dunia masih menghadapi tekanan pada perdagangan hari Selasa (2/6). Sejumlah faktor teknikal dan fundamental menunjukkan bahwa tren penurunan belum sepenuhnya berakhir, sehingga pelaku pasar masih perlu mewaspadai potensi koreksi lanjutan dalam jangka pendek. Berdasarkan analisis Dupoin Futures yang disampaikan oleh analis Geraldo Kofit, pasangan XAU/USD pada timeframe daily masih bergerak dalam tren bearish yang cukup kuat.

Secara teknikal, harga emas belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang signifikan. Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah posisi harga yang masih berada di bawah Moving Average (MA) 21 dan MA 50. Dalam analisis pasar, kedua indikator tersebut sering digunakan untuk mengidentifikasi arah tren utama. Ketika harga bergerak di bawah area tersebut, kondisi itu umumnya mengindikasikan bahwa tekanan jual masih mendominasi dan pasar belum memiliki momentum yang cukup kuat untuk berbalik arah.

Geraldo Kofit menjelaskan bahwa kegagalan harga emas untuk kembali menembus area MA 21 dan MA 50 menunjukkan bahwa sentimen bearish masih cukup dominan. Meskipun sempat terjadi pergerakan naik dalam beberapa sesi sebelumnya, penguatan tersebut belum mampu mengubah struktur tren yang masih cenderung turun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dengan kondisi tersebut, peluang pelemahan harga masih terbuka dalam waktu dekat. Area support terdekat yang menjadi perhatian berada di level 4.365. Jika tekanan jual terus berlanjut dan level tersebut berhasil ditembus, maka harga emas berpotensi bergerak menuju area support berikutnya di kisaran 4.306.

Baca Juga :  Semakin Mudah Naik Kereta Api dengan Access by KAI

Level-level tersebut menjadi area penting yang akan dipantau pelaku pasar karena berpotensi menjadi titik reaksi harga. Namun selama belum ada sinyal teknikal yang menunjukkan pembalikan tren secara jelas, skenario penurunan masih dianggap lebih dominan dibandingkan potensi kenaikan.

Selain faktor teknikal, kondisi fundamental global juga masih memberikan tekanan terhadap pergerakan emas. Salah satu faktor utama yang memengaruhi harga saat ini adalah penguatan dolar Amerika Serikat yang masih relatif stabil. Dalam kondisi normal, pergerakan emas dan dolar AS cenderung memiliki hubungan yang berlawanan arah. Ketika dolar menguat, harga emas biasanya mengalami tekanan karena menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang selain dolar.

Kondisi tersebut membuat sebagian investor memilih untuk meningkatkan eksposur pada aset berbasis dolar AS dibandingkan emas. Apalagi saat ini instrumen keuangan berbasis dolar masih menawarkan tingkat imbal hasil yang cukup menarik.

Faktor lain yang turut menekan harga emas adalah tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury Yield. Ketika yield obligasi berada di level tinggi, investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen tersebut karena dinilai mampu memberikan keuntungan yang lebih pasti. Sebaliknya, emas yang tidak menghasilkan bunga atau imbal hasil tetap menjadi kurang menarik dalam kondisi tersebut.

Tekanan terhadap emas juga datang dari ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve. Hingga saat ini, pelaku pasar masih memperkirakan bank sentral Amerika Serikat akan mempertahankan suku bunga pada level yang relatif tinggi selama data ekonomi belum menunjukkan pelemahan yang signifikan.

Baca Juga :  Jelajahi Destinasi Seru Bersama LRT Jabodebek, Transportasi Cerdas untuk Mobilitas Tanpa Batas

Data ekonomi Amerika Serikat yang masih cukup solid, terutama dari sektor tenaga kerja dan inflasi, menjadi alasan mengapa pasar belum sepenuhnya yakin terhadap peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat. Situasi ini terus memberikan dukungan terhadap dolar AS dan secara tidak langsung membatasi ruang kenaikan harga emas.

Di sisi lain, permintaan terhadap aset safe haven juga belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. Sentimen pasar global yang relatif stabil membuat investor lebih berani menempatkan dana pada aset berisiko seperti saham dan instrumen investasi lainnya. Akibatnya, minat terhadap emas sebagai aset pelindung nilai cenderung berkurang.

Meski demikian, pelaku pasar tetap perlu memperhatikan perkembangan ekonomi global yang dapat mengubah arah sentimen sewaktu-waktu. Ketidakpastian geopolitik, perubahan kebijakan bank sentral, maupun data ekonomi yang berada di luar ekspektasi dapat memicu pergerakan harga emas yang lebih volatil.

Secara keseluruhan, prospek harga emas dalam jangka pendek masih cenderung bearish. Selama harga belum mampu kembali bergerak di atas area MA 21 dan MA 50, tekanan jual diperkirakan masih akan mendominasi pasar. Dengan kombinasi faktor teknikal dan fundamental yang ada saat ini, peluang penurunan menuju area support 4.365 hingga 4.306 masih terbuka dan menjadi level yang patut diperhatikan oleh para investor maupun trader emas.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Anugerah Fervent Global Love of Lives Award dari Taiwan untuk Filantropis Indonesia
Tiga Catatan dari Hangzhou: Pendiri Sanct Social soal Dukungan Tiongkok untuk Startup, Pembagian Peran Antarkota, dan Malam Bulan Purnama yang Menggerakkan Satu Kota
neobank Plus Resmi Hadir: PLUS Gratisnya, PLUS Diskonnya, PLUS Bunganya
Rilis Sanggabright Berkonsep #TERIMABERES, Sanggabiz Hadirkan Solusi Analitik Mandiri untuk Akselerasi Bisnis UMKM
Gubernur Lemhannas RI: Kesadaran Geopolitik, Bukan Sekadar Milik Diplomat Saja
BRI Insurance Bersama PNM Perkuat Pemulihan Warga Terdampak Kebakaran Desa Adat Sade-NTB
Kinerja 2025 Diakui, Bank Mandiri Taspen Raih Yearly Excellent Performance 2026
Dukung Ekspansi Sektor Produktif, PT Bank IBK Indonesia Tbk Ikut Berpartisipasi Kucurkan Fasilitas Melalui Kredit Sindikasi Sebesar Rp225 Miliar kepada PT Permata Hijau Palm Oleo (“PHPO”)

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 19:02

Anugerah Fervent Global Love of Lives Award dari Taiwan untuk Filantropis Indonesia

Kamis, 8 Oktober 2026 - 19:02

Tiga Catatan dari Hangzhou: Pendiri Sanct Social soal Dukungan Tiongkok untuk Startup, Pembagian Peran Antarkota, dan Malam Bulan Purnama yang Menggerakkan Satu Kota

Kamis, 8 Oktober 2026 - 19:02

neobank Plus Resmi Hadir: PLUS Gratisnya, PLUS Diskonnya, PLUS Bunganya

Kamis, 8 Oktober 2026 - 18:02

Gubernur Lemhannas RI: Kesadaran Geopolitik, Bukan Sekadar Milik Diplomat Saja

Kamis, 8 Oktober 2026 - 18:02

BRI Insurance Bersama PNM Perkuat Pemulihan Warga Terdampak Kebakaran Desa Adat Sade-NTB

Kamis, 8 Oktober 2026 - 18:02

Kinerja 2025 Diakui, Bank Mandiri Taspen Raih Yearly Excellent Performance 2026

Kamis, 8 Oktober 2026 - 17:02

Dukung Ekspansi Sektor Produktif, PT Bank IBK Indonesia Tbk Ikut Berpartisipasi Kucurkan Fasilitas Melalui Kredit Sindikasi Sebesar Rp225 Miliar kepada PT Permata Hijau Palm Oleo (“PHPO”)

Kamis, 8 Oktober 2026 - 17:02

RUU SDI Atur Penguatan Kedaulatan Data Nasional

Berita Terbaru