Harga Emas Melemah, Tekanan Bearish Kian Kuat di Tengah Penguatan Dolar AS - Koran Mandalika

Harga Emas Melemah, Tekanan Bearish Kian Kuat di Tengah Penguatan Dolar AS

Senin, 27 Oktober 2025 - 23:47

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Harga emas (XAU/USD) kembali mengalami tekanan pada perdagangan hari Selasa (22/10) setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi di sekitar $4.380 per troy ounce pada awal pekan. Pelemahan ini wajar terjadi setelah kenaikan harga yang terlalu cepat dan tinggi, yang mendorong sebagian trader melakukan aksi ambil untung.

Berdasarkan analisis dari Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, menekankan harga emas diperdagangkan di kisaran $4.135, melemah hampir 5% dari posisi tertinggi sebelumnya, bahkan sempat menyentuh level terendah harian di $4.081. Secara teknikal, kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average (MA) menunjukkan sinyal bearish yang semakin kuat pada grafik XAU/USD. Andy menjelaskan, selama harga belum mampu bertahan di atas level psikologis $4.183, tekanan jual berpotensi berlanjut hingga menembus area support $4.000. Namun jika koreksi teknikal terjadi, maka kenaikan sementara menuju area $4.183 bisa menjadi peluang jual bagi trader yang memanfaatkan momentum retracement.

Selain faktor teknikal, pelemahan harga emas juga dipengaruhi oleh penguatan Dolar AS (USD) yang menambah tekanan pada logam mulia ini. Indeks Dolar (DXY) terpantau menguat hingga mendekati 98,84, menandai kenaikan tiga hari berturut-turut terhadap enam mata uang utama. Menguatnya dolar membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga permintaan fisiknya pun cenderung menurun.

Rally emas yang terlalu tinggi diikuti oleh meredanya permintaan fisik memang menjadi kombinasi yang rentan koreksi. Selain itu, meningkatnya selera risiko (risk appetite) investor juga menekan harga emas karena pelaku pasar mulai lebih optimis terhadap redanya ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Serangkaian kabar positif terkait potensi penundaan tarif 100% impor Tiongkok oleh Presiden AS Donald Trump membuat pasar saham dan aset berisiko menguat. Harapan akan kesepakatan dagang baru di KTT APEC di Korea Selatan pada akhir bulan ini turut mendorong optimisme pelaku pasar. Namun demikian, ketidakpastian tetap tinggi karena retorika Trump kerap berubah dan negosiasi antara kedua negara masih rapuh.

Meskipun tekanan jangka pendek terlihat kuat, emas menilai bahwa prospek jangka menengah hingga panjang untuk emas masih positif. Harapan terhadap kebijakan moneter yang lebih longgar dari Federal Reserve (The Fed) menjadi faktor penopang utama harga emas. Suku bunga yang lebih rendah akan menurunkan biaya peluang untuk memegang emas, sehingga dalam jangka panjang, logam mulia ini tetap menarik sebagai aset lindung nilai.

Baca Juga :  Social Engineering: Modus Baru Penipuan yang Bikin Korban Ajukan Kredit Tanpa Sadar

Selain itu, penutupan sebagian pemerintahan AS (government shutdown) yang telah memasuki minggu keempat, serta meningkatnya risiko geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global, turut menjaga permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven. Kesepakatan kerja sama senilai $8,5 miliar antara AS dan Australia untuk pengembangan mineral penting juga menandai langkah strategis Washington dalam mengurangi ketergantungan terhadap Tiongkok di sektor logam tanah jarang (rare-earth), yang bisa berdampak pada dinamika harga komoditas global.

Secara keseluruhan, harga emas hari ini bergerak dalam rentang $4.000–$4.183 dengan kecenderungan bearish jangka pendek. Namun, potensi pembalikan arah tetap terbuka jika pasar kembali beralih ke aset aman di tengah ketidakpastian politik dan ekonomi global. Andy menegaskan, “Trader perlu berhati-hati dalam membaca momentum. Tekanan jual bisa berubah cepat menjadi rebound ketika ketidakpastian kembali mencuat.”

Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Cara Merawat Kucing Kampung agar Sehat, Aktif dan Gemuk
PTPN IV PalmCo, Subholding PTPN III (Persero) Salurkan Perlindungan BPJS Ketenagakerjaan bagi 550 Pekerja Rentan Kalbar
Sanct Sudah Tersedia di App Store, Hadir di Indonesia 29 September, Sambil Tayangkan Film Keempat “I remember.”
PTPN Group Perkuat Ekosistem Kepemimpinan Perempuan di Industri Perkebunan
Tantangan dan Tips dalam Menabung Emas
Yamaha NMAX “TURBO” Jadi Perbincangan, Skutik Premium yang Padukan Kenyamanan dan Performa
Akselerasi Inovasi Teknologi Bisnis, Sanggabiz Resmi Terpilih Sebagai Penerima Hibah UGM Startup Grant 2026 Batch II
Pajak Kripto Indonesia Tembus Rp2,15 Triliun, Apa Artinya bagi Industri?

Berita Terkait

Senin, 21 September 2026 - 06:21

Fahmi Basam Kuasai Race 2 National Sport 150cc MRS Round 4, Aldiaz Wakili NTB Finis Keempat

Minggu, 20 September 2026 - 16:58

Sebelum MotoGP Mengaspal, MRS Round 4 Jadi Ajang MGPA ‘Check-Up’ Sirkuit Mandalika

Sabtu, 19 September 2026 - 19:48

Fahmi Basam Kuasai Race 1 MRS Round 4, Pembalap NTB Aldiaz Finis Posisi 8

Sabtu, 19 September 2026 - 17:53

MRS Round 4 Perketat Regulasi, Jadi Jalan Pembalap Muda Menuju Level Internasional

Sabtu, 19 September 2026 - 12:58

108 Starter Ramaikan Kejurnas Pertamina Mandalika Racing Series 2026 Putaran Keempat

Jumat, 18 September 2026 - 19:48

InJourney Siapkan Camping Ground dan 66 Extra Flight, Akomodasi Lombok Nyaris Penuh Jelang MotoGP

Jumat, 18 September 2026 - 08:40

Jelang MotoGP 2026, Mandalika Bersolek, NTB Bersiap Menyambut Dunia

Selasa, 15 September 2026 - 15:22

27.620 Batang Rokok Diduga Ilegal Disikat, Satpol PP Lombok Tengah Gencarkan Operasi

Berita Terbaru

Teknologi

Cara Merawat Kucing Kampung agar Sehat, Aktif dan Gemuk

Rabu, 23 Sep 2026 - 08:02

NTB Terkini

Dari Lombok Timur ke Amerika, Tuna NTB Kian Mendunia

Selasa, 22 Sep 2026 - 21:58