Harga Emas Sulit Bangkit, Tren Turun Masih Mendominasi - Koran Mandalika

Harga Emas Sulit Bangkit, Tren Turun Masih Mendominasi

Jumat, 24 April 2026 - 15:00

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Harga emas dunia pada perdagangan hari Jumat (24/4) diperkirakan masih akan bergerak dalam tekanan, seiring sinyal pelemahan yang cukup kuat dari sisi teknikal serta dukungan faktor fundamental yang belum berpihak pada penguatan. Dupoin Futures melalui analisnya, Geraldo Kofit, menilai bahwa pergerakan XAU/USD dalam jangka pendek masih berada dalam tren turun, dengan potensi penurunan lanjutan yang perlu diwaspadai pelaku pasar.

Secara teknikal, harga emas saat ini masih tertahan di bawah indikator Moving Average 21 dan 34. Kedua indikator tersebut berfungsi sebagai resistance dinamis yang belum berhasil ditembus oleh harga. Kondisi ini mencerminkan bahwa tekanan jual di pasar masih cukup dominan, sehingga peluang untuk kembali melemah masih terbuka.

Selain itu, pola pergerakan harga juga menunjukkan terbentuknya formasi bearish pennant, yang umumnya menjadi sinyal kelanjutan tren turun. Pola ini biasanya muncul setelah fase penurunan yang cukup tajam dan menandakan bahwa pasar sedang bersiap untuk melanjutkan pelemahan. Dengan adanya sinyal ini, arah pergerakan harga emas dalam jangka pendek masih cenderung negatif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam proyeksi pergerakannya, harga emas diperkirakan berpotensi turun menuju area support terdekat di kisaran 4.668. Level ini menjadi titik penting yang akan diuji oleh pasar dalam waktu dekat. Jika tekanan jual masih berlanjut dan level tersebut tidak mampu menahan penurunan, maka harga berpotensi melanjutkan pelemahan ke level berikutnya di sekitar 4.644.

Baca Juga :  Jasa Marga Prediksi 1,09 Juta Kendaraan Keluar Jabotabek Selama Libur Hari Raya Iduladha 1447H/2026 dan Hari Lahir Pancasila

Meski demikian, area support tersebut juga berpotensi menjadi titik penahan sementara yang dapat memicu pergerakan konsolidasi atau bahkan rebound jangka pendek. Oleh karena itu, respons harga di area tersebut akan menjadi kunci dalam menentukan arah pergerakan selanjutnya.

Dari sisi fundamental, tekanan terhadap harga emas masih dipengaruhi oleh penguatan dolar Amerika Serikat. Ketika nilai dolar meningkat, harga emas cenderung mengalami tekanan karena menjadi lebih mahal bagi investor global. Hal ini membuat permintaan terhadap emas cenderung menurun dalam jangka pendek.

Selain itu, kebijakan moneter Amerika Serikat yang masih mempertahankan suku bunga pada level tinggi juga menjadi faktor utama yang membebani harga emas. Suku bunga yang tinggi membuat instrumen investasi berbasis imbal hasil seperti obligasi menjadi lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga memperkuat tekanan tersebut. Dalam kondisi yield yang meningkat, biaya peluang untuk memegang emas menjadi lebih tinggi, sehingga investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang menawarkan imbal hasil lebih besar.

Baca Juga :  VRITIMES dan Detik1.co.id Meluncurkan Kemitraan Strategis untuk Inovasi dan Peningkatan Distribusi Berita Digital

Di sisi lain, kondisi pasar global yang relatif stabil turut mengurangi minat investor terhadap emas sebagai aset safe haven. Ketika sentimen pasar berada dalam kondisi positif atau risk-on, investor biasanya lebih memilih aset berisiko yang memberikan potensi keuntungan lebih tinggi, sehingga permintaan terhadap emas menurun.

Secara keseluruhan, kombinasi faktor teknikal dan fundamental tersebut membuat prospek harga emas dalam jangka pendek masih cenderung lemah. Selama harga belum mampu menembus area resistance penting, tekanan penurunan diperkirakan masih akan mendominasi pergerakan pasar.

Namun demikian, pelaku pasar tetap perlu mencermati perkembangan global yang dapat memengaruhi arah harga. Perubahan sentimen secara tiba-tiba, baik dari data ekonomi maupun faktor geopolitik, dapat memicu volatilitas yang cukup tinggi.

Dengan kondisi tersebut, investor disarankan untuk tetap berhati-hati dan fokus pada level-level penting yang menjadi acuan pergerakan harga. Pendekatan yang disiplin dan berbasis analisis dinilai penting untuk menghadapi pasar yang masih bergerak dinamis.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Bujet Skincare Bulanan: Cara Mengaturnya agar Tetap Sesuai Kemampuan
LBFest 2026 Dorong Brand Lokal Karya Entrepreneur Muda BINUS Naik Kelas
Zyrex Jadi Merek Indonesia Pertama yang Meluncurkan AI Mini Workstation Berbasis AMD Ryzen AI Max+ 395
CX100 Danantara: Membenahi Layanan BUMN dari Pengalaman Masyarakat
Holding Perkebunan Nusantara Dorong Produktivitas Sawit Rakyat melalui Pembelajaran di Kebun Adolina
KAI Daop 2 Bandung Sampaikan Bahwa Keselamatan Perjalanan KA Butuh Peran Serta Masyarakat
Zentara Melihat Perubahan Besar dalam Cara Perusahaan Mengelola Kerentanan Siber
Dua Puluh Lima Tahun: Narendra Modi dan Posisi India di Dunia

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 06:10

Waskita Beton Precast Kembali Tanam 228 Pohon pada September 2026, Lanjutkan Komitmen Pehijauan Bersama Pelanggan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 05:49

SETC Perkuat Kolaborasi Pemerintah dan Swasta untuk Dorong UMKM Naik Kelas

Kamis, 1 Oktober 2026 - 20:45

Emas Kembali Tertekan di Bawah US$4.300, Ini Prediksi XAUUSD Hari Ini

Rabu, 30 September 2026 - 04:32

Minat Internasional Meningkat Seiring Dimulainya Automechanika Jakarta Besok, Hadirkan Partisipasi Global

Rabu, 23 September 2026 - 21:43

BP Tapera Perluas Sosialisasi KPR Sejahtera FLPP, Dorong Masyarakat Miliki Rumah Pertama

Senin, 14 September 2026 - 06:43

Harga Drone Pertanian DJI Agras 2026: Bandingkan T25P, T55, T70P, dan T100 Sebelum Beli

Selasa, 8 September 2026 - 19:01

BIZTECH for Change 2026 Perkuat Peran BINUS @Bekasi sebagai Business, Service, and Technology Campus

Senin, 31 Agustus 2026 - 06:43

Semarak Kemerdekaan, BRI Finance Hadirkan Pembiayaan Motor Baru Mulai 0,7% per Bulan

Berita Terbaru