Hilirisasi Mineral Jadi Kontributor Utama Investasi, Industrialisasi Perlu Jadi Fokus - Koran Mandalika

Hilirisasi Mineral Jadi Kontributor Utama Investasi, Industrialisasi Perlu Jadi Fokus

Rabu, 25 Februari 2026 - 10:20

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA — Hilirisasi mineral kembali menjadi kontributor terbesar dalam realisasi investasi nasional sepanjang 2025. Dari total investasi nasional sebesar Rp1.931,2 triliun, sektor hilirisasi menyumbang 30,2% atau sekitar Rp584,1 triliun, menjadikannya pendorong utama pertumbuhan investasi Indonesia.

Kontribusi terbesar berasal dari sektor mineral, dengan total Rp373,1 triliun, yang terdiri dari Nikel Rp185,2 triliun, Tembaga Rp65,9 triliun, Bauksit Rp53,1 triliun, Besi baja Rp39,2 triliun, Timah Rp11,3 triliun, dan mineral lainnya sebesar Rp18,4 triliun.

Capaian ini jauh lebih tinggi dibandingkan sektor lain seperti perkebunan dan kehutanan Rp144,5 triliun, migas Rp60 triliun, serta perikanan dan kelautan Rp6,4 triliun. Data tersebut menegaskan bahwa hilirisasi mineral telah menjadi tulang punggung investasi nasional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kendati demikian hilirisasi dinilai masih perlu melangkah ke tahap industrialisasi. Meski capaian investasi tersebut sangat positif, para ekonom menilai Indonesia kini memasuki fase baru yang lebih menantang: mengubah hilirisasi menjadi industrialisasi menyeluruh.

Pengamat ekonomi energi dari UGM, Fahmy Radhi, menilai hilirisasi saat ini masih didominasi oleh pembangunan smelter, sehingga nilai tambah lanjutan belum sepenuhnya tercapai.

Baca Juga :  UMKM Binaan BRI Region 6 Antusias Ramaikan Festival Semarak Merah Putih di Pasar Malaka Rorotan

“Pemerintah tidak cukup hanya mengejar besaran investasi. Yang lebih penting adalah memastikan investasi tersebut membangun ekosistem industrialisasi yang lengkap dari hulu hingga hilir,” ujarnya, Rabu (18/2/2026).

Menurutnya, pemerintah masih memiliki ruang besar untuk meningkatkan kualitas investasi melalui penguatan rantai pasok, diversifikasi produk, dan peningkatan teknologi industri.

Fahmy juga mencontohkan proyek hilirisasi alumina–aluminium yang dikembangkan oleh anak usaha MIND ID: PT Inalum, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA), sebagai contoh hilirisasi yang mulai mengarah pada industrialisasi yang lebih matang.

Indonesia Harus Mampu Menciptakan Produk Akhir

Pengamat Ekonomi INDEF, Ahmad Heri Firdaus, menegaskan bahwa tantangan besar berikutnya adalah membangun industri produk jadi (end products) agar nilai tambah hilirisasi dapat dinikmati di dalam negeri.

“Indonesia harus mampu memproduksi end product di dalam negeri. Perlu ada iklim usaha yang memberikan nilai plus kepada investor agar mereka bersedia berinvestasi hingga tahap produk jadi,” jelasnya.

Baca Juga :  KAI Daop 2 Bandung Tingkatkan Pelayanan dengan Hadirkan Sofa di Ruang Tunggu

Ahmad mengingatkan bahwa hilirisasi harus menghasilkan nilai tambah optimal, bukan berhenti pada produk setengah jadi atau intermediate goods.

Adapun, pemerintah siapkan 20 proyek hilirisasi baru. Menteri Investasi dan CEO BPI Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, sebelumnya menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan 20 proyek hilirisasi strategis dengan potensi investasi sekitar US$26 miliar dan penciptaan hingga 600.000 lapangan kerja. Sebanyak enam proyek telah diresmikan pada Februari 2026, sementara sisanya masih dalam tahap konstruksi dan negosiasi investasi.

Dengan kontribusi 30,2% terhadap total investasi nasional, hilirisasi mineral diperkirakan masih akan menjadi pilar utama investasi pada 2026.

Pemerintah terus mengupyakan investasi besar ini mampu menjadi motor bagi penciptakan nilai tambah lanjutan, memperkuat ekosistem industri nasional,

membangun rantai pasok domestik, dan menghasilkan keberlanjutan ekonomi jangka panjang.

Press Release ini juga sudah tayang di VRITIMES.

Berita Terkait

Perkuat Keandalan Jalan Tol, PT Jasamarga Tollroad Maintenance Laksanakan Rekonstruksi Perkerasan di Ruas Tol Jagorawi
Mengelola Uang Makan Harian agar Keuangan Tetap Teratur
Bitcoin Bangkit Lagi! BTC Tembus US$81.000, Level Ini Jadi Penentu Berikutnya
Pembiayaan Dana Tunai BRI Finance Tumbuh 44,74% hingga Semester I-2026
Saat Kebutuhan Datang Tak Terduga, BRI Finance Hadirkan Solusi Dana yang Fleksibel
Hadapi Tantangan Pasar Otomotif, BRI Finance Bukukan Pertumbuhan Laba 91,2%
BRI Finance Tawarkan Bunga Pembiayaan Mobil Baru Mulai 3,33% Flat per Tahun
5 Ide Oleh-Oleh dari Jakarta yang Bisa Jadi Buah Tangan

Berita Terkait

Minggu, 20 September 2026 - 19:02

Perkuat Keandalan Jalan Tol, PT Jasamarga Tollroad Maintenance Laksanakan Rekonstruksi Perkerasan di Ruas Tol Jagorawi

Minggu, 20 September 2026 - 18:02

Mengelola Uang Makan Harian agar Keuangan Tetap Teratur

Minggu, 20 September 2026 - 15:02

Bitcoin Bangkit Lagi! BTC Tembus US$81.000, Level Ini Jadi Penentu Berikutnya

Minggu, 20 September 2026 - 15:02

Saat Kebutuhan Datang Tak Terduga, BRI Finance Hadirkan Solusi Dana yang Fleksibel

Minggu, 20 September 2026 - 15:02

Hadapi Tantangan Pasar Otomotif, BRI Finance Bukukan Pertumbuhan Laba 91,2%

Minggu, 20 September 2026 - 15:02

BRI Finance Tawarkan Bunga Pembiayaan Mobil Baru Mulai 3,33% Flat per Tahun

Sabtu, 19 September 2026 - 18:02

5 Ide Oleh-Oleh dari Jakarta yang Bisa Jadi Buah Tangan

Sabtu, 19 September 2026 - 12:02

Perkuat Sinergi Pendidikan dan Industri, NHM Bagikan Praktik Tambang Bawah Tanah pada Forum Nasional

Berita Terbaru

Teknologi

Mengelola Uang Makan Harian agar Keuangan Tetap Teratur

Minggu, 20 Sep 2026 - 18:02