MATA UANG PALING MAHAL ADALAH KEPERCAYAAN: KISAH YOHANES HENGKY MENEMBUS KRISIS TANPA MODAL - Koran Mandalika

MATA UANG PALING MAHAL ADALAH KEPERCAYAAN: KISAH YOHANES HENGKY MENEMBUS KRISIS TANPA MODAL

Selasa, 27 Mei 2025 - 16:44

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di tengah fluktuasi harga material, krisis ekonomi, dan klien yang silih berganti, ada satu hal yang terus jadi pegangan Yohanes Hengky selama lebih dari dua dekade di dunia kontraktor: kepercayaan.
Bukan uang, bukan alat berat, bukan koneksi elit, tetapi kepercayaan yang ditanam dari proyek ke proyek, klien ke klien, tahun ke tahun.

Tidak Pernah Bercita-cita Jadi Kontraktor

Lucunya, pria yang akrab dipanggil Hengky ini tidak pernah bercita-cita jadi kontraktor. Ia masuk jurusan arsitektur karena saran sang ayah yang seorang insinyur teknik sipil.

Dari sang ayah pula ia mendapat pelajaran pertama untuk membarengi skill gambar/draftingnya dengan pengetahuan konstruksi juga. Hengky mengambil saran ini dengan menyelami dunia pembangunan sembari berkuliah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hengky membayar kuliahnya sendiri dari proyek desain dan dekorasi. Dari awal, Hengky terbiasa berdiri dengan kaki sendiri. Dan justru karena itulah, dunia lapangan jadi guru yang paling jujur.

Membesarkan Bisnis Tanpa Iklan

Berbeda dari bisnis lain yang gencar promosi, bisnis kontraktor Hengky tumbuh lewat satu strategi sederhana: rekomendasi.

Ia membangun satu rumah dengan sepenuh hati, klien puas, lalu kenalkan ke saudara atau kenalan. Begitu seterusnya. Tak ada baliho, tak ada billboard. Yang ada hanya reputasi.

Baca Juga :  Rail Clinic KAI Menyapa Warga, Hadirkan Layanan Kesehatan dan Literasi di Bulan Agustus

“Kontraktor itu jual jasa. Dan satu-satunya ‘mata uang’ yang kita miliki sebenarnya adalah kepercayaan dari klien,” terangnya dalam wawancara dokumenter bersama Sekali Seumur Hidup.

Itulah mengapa, sejak proyek gereja tanpa modal di tahun 2002, hingga pembangunan kostel dan rumah-rumah mewah, Hengky tidak pernah benar-benar ‘bermodal’. Yang ia bawa ke meja negosiasi bukan uang, tapi rekam jejak dan komitmen.

Dihantam Krisis, Diuji Prinsip

Tahun 2006 jadi momen ujian. Krisis moneter menghantam. Harga material naik tiap minggu. Beberapa kontrak yang telah disepakati, tak lagi menguntungkan. Hengky rugi besar. Tiga mobil, rumah, dan tanah lepas semua untuk menutup kekurangan.

“Gali lubang tutup lubang. Semua aset saya lepas untuk menyelamatkan proyek dan nama baik,” ceritanya.

Namun dari krisis itulah lahir kebijaksanaan. Ia menyusun RAB dengan lebih hati-hati. Ia belajar pentingnya menyisakan buffer. Tapi yang paling utama: ia tidak lari dari kesalahan. Dari sana, ia justru belajar banyak hal sebagai bekal bisnis di kemudian hari.

Ia tetap menyelesaikan proyek dan tetap menjaga komunikasi. Dan justru dari komitmennya tersebut, klien datang lagi membawa proyek yang lebih besar.

Kontraktor Bukan “Cuma” Tukang Bangun

Hengky paham, menjadi kontraktor hari ini tak cukup hanya bisa bangun rumah. Ia harus jadi mitra. Ia harus bisa menjawab kebutuhan klien dari hulu ke hilir mulai dari desain, material, tukang, hingga pengawasan.

Baca Juga :  Desain Komunikasi Visual dan Interior BINUS @Bandung Tampilkan Karya di Jakarta Doodle Fest 2025

Ia membangun relasi dengan vendor, memperluas jaringan ke arsitek, broker, pengembang. Bukan sekadar tukang bangun, tapi penyedia solusi konstruksi.

“Yang dijual bukan sekadar bangunan. Tapi rasa aman. Kepastian. Komitmen bahwa proyek akan selesai dengan baik,” kata Hengky menjelaskan komitmen bisnisnya.

Hengky melakukan site visit bersama member komunitas Construction Hack

Mata Uang Itu Adalah “Percaya”

Hari ini, Hengky dipercaya mengelola proyek bernilai miliaran dari developer. Bukan karena ia punya modal besar. Tapi karena ia telah menabung kepercayaan selama bertahun-tahun.

Kepercayaan itu seperti tabungan yang tak terlihat. Tapi saat dunia dilanda krisis, saat uang menghilang, tabungan kepercayaanlah yang menyelamatkan bisnis.

Ia menutup dengan satu prinsip yang selalu ia ulang:

“Saya mungkin tidak punya modal besar. Tapi saya ingin selalu dikenal sebagai mitra pembangunan yang bisa dipercaya,” pungkasnya.

Dan dari prinsip itu, jalan-jalan baru terus terbuka. Sebab pada akhirnya, ketika uang habis, yang tetap bernilai adalah nama baik yang dibangun dari kerja jujur dan tanggung jawab.

Berita Terkait

Blossom Symphony: Perayaan Imlek Penuh Harmoni di Hublife
PTPN I Catat Produksi 32 Juta Liter Bioetanol, Perkuat Peran Holding Perkebunanan Nusantara dalam Transisi Energi
Reska Catering Suguhkan Layanan Profesional di Rapim UO Kemhan 2026
FLOQ Circle: Sisterhood Hadirkan Ruang Aman bagi Perempuan untuk Mengenal Aset Kripto
Danantara Indonesia Serentak Resmikan 6 Proyek Hilirisasi Fase-I dengan Total Nilai Investasi Hingga US$ 7 Miliar
Cara Trader Pemula Mengelola Risiko dengan Trading Plan
Luminous Spring di PIK Avenue Hadirkan Path of Light
Analisis Teknikal Dasar untuk Membaca Arah Pergerakan Harga

Berita Terkait

Kamis, 12 Februari 2026 - 02:22

MyRepublic Indonesia Resmi Buka Pra-Registrasi Internet FWA: MyRepublic Air

Kamis, 12 Februari 2026 - 00:07

Antara by Sleeping Lion: Hunian Mewah di Dataran Tinggi

Rabu, 11 Februari 2026 - 21:49

Dukung Infrastruktur Pendidikan Tinggi, PTPP Rampungkan Gedung FISIP UPN Veteran Jawa Timur

Selasa, 10 Februari 2026 - 17:37

SUCOFINDO Perkuat Tata Kelola Transportasi Publik melalui Sertifikasi ISO 37001 dan ISO/IEC 27001 untuk LRT Jakarta

Selasa, 10 Februari 2026 - 09:06

KAI Daop 2 Bandung Pastikan Keselamatan Perjalanan dan Pelayanan Penumpang Terjamin dengan Baik

Selasa, 10 Februari 2026 - 08:38

Konektivitas Meningkat, Penumpang KAI Bandara Yogyakarta Tembus 239 Ribu di Januari 2026

Senin, 9 Februari 2026 - 21:27

Hubungan Krisis Ekonomi, Inflasi, dan Volatilitas Pasar

Senin, 9 Februari 2026 - 17:13

Media X Space Menempati Ruang Publik Untuk Desain dan Seni Asia

Berita Terbaru