Membentuk Masa Depan Hospitality: Wawasan dari THINC Indonesia 2026 dan Potensi Destinasi Leisure Baru yang Belum Tergali - Koran Mandalika

Membentuk Masa Depan Hospitality: Wawasan dari THINC Indonesia 2026 dan Potensi Destinasi Leisure Baru yang Belum Tergali

Rabu, 16 September 2026 - 02:02

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Seiring lanskap pariwisata Indonesia memasuki fase pertumbuhan baru, pertanyaannya kini bukan lagi sekadar ke mana para wisatawan ingin bepergian, tetapi bagaimana destinasi-destinasi baru dapat membangun identitas yang cukup kuat untuk menarik generasi wisatawan bernilai tinggi berikutnya. Pada edisi ke-11 THINC Indonesia, yang berlangsung pada 9–10 September 2026 di Sofitel Bali Nusa Dua Beach Resort, para pemimpin industri berkumpul di Bali untuk membahas berbagai kekuatan yang tengah membentuk kembali lanskap hospitality dan real estate di Indonesia.

Salah satu topik yang semakin mendapat perhatian adalah munculnya destinasi di luar pusat-pusat pariwisata Indonesia yang telah mapan. Seiring berkembangnya infrastruktur di berbagai wilayah kepulauan dan meningkatnya minat wisatawan terhadap privasi, autentisitas, serta pengalaman yang imersif, destinasi leisure baru mulai menarik perhatian para pengembang, investor, dan pelaku industri hospitality yang tengah mencari frontier berikutnya bagi pariwisata mewah.

Melampaui Destinasi Pariwisata yang Telah Mapan

Pasar hospitality dan real estate di Asia Tenggara tengah mengalami transformasi yang signifikan. Kebangkitan experiential travel, yang berjalan beriringan dengan pertumbuhan pariwisata dari kalangan high-net-worth individuals, membuka peluang baru bagi destinasi yang mampu menawarkan karakter tempat yang khas dan berbeda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun, bagi pasar yang telah mapan, pertumbuhan menghadirkan tantangan yang semakin kompleks. Ketika destinasi leisure tradisional memasuki fase yang semakin matang, para pengembang dan operator perlu melihat melampaui model pariwisata konvensional untuk menemukan lokasi-lokasi yang memiliki potensi menjadi destinasi luxury yang kuat dengan identitasnya sendiri.

Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu fokus utama dalam diskusi panel “Leisure: Where are the New Destinations” di THINC Indonesia 2026. Alih-alih hanya berfokus pada hotspot geografis yang telah dikenal, diskusi tersebut mengeksplorasi bagaimana destinasi sekunder dan tersier di Indonesia dapat membangun daya tariknya melalui konsep hospitality yang terkurasi, lifestyle offerings, serta identitas destinasi yang kuat.

Bagi wisatawan luxury masa kini, lokasi yang terpencil saja tidak lagi cukup. Destinasi baru perlu memadukan rasa discovery dengan kualitas layanan, infrastruktur, dan desain yang memenuhi ekspektasi pasar luxury internasional.

Perubahan tersebut turut menggeser peran desain dalam hospitality dan real estate.

Ketika Desain Menjadi Bagian dari Identitas Destinasi

Ketika destinasi leisure baru semakin bersaing untuk mendapatkan perhatian pasar internasional, arsitektur dan desain interior kini menjadi bagian dari bahasa strategis yang digunakan sebuah destinasi untuk membangun identitasnya.

Branded residences dan proyek hospitality kelas atas merespons perubahan ini dengan memadukan luxury design, lifestyle brands, dan real estate melalui pendekatan yang semakin sophisticated. Kemitraan dengan rumah mode, brand otomotif, dan perusahaan desain yang telah dikenal secara internasional dapat memberikan identitas yang khas bagi sebuah properti sekaligus menciptakan hubungan emosional yang lebih kuat dengan calon penghuni maupun tamu.

Baca Juga :  Halo Robotics Perkenalkan Solusi Drone untuk Cegah Kebakaran di Perkebunan

Bagi para pengembang, hal ini melampaui persoalan estetika. Identitas desain yang dikurasi secara cermat dapat membantu menempatkan sebuah aset secara lebih kuat di tengah pasar yang semakin kompetitif, sementara kemitraan dengan brand yang memiliki positioning kuat dapat menciptakan tingkat pengenalan yang lebih luas di antara jaringan konsumen internasional.

Hasilnya adalah sebuah pendekatan baru dalam pengembangan destinasi, di mana hospitality, real estate, branding, dan desain semakin saling beririsan.

Gianfranco Bianchi, Founder and CEO of Italian Atelier serta Chief Commercial Officer dan General Manager Asia Pacific of The One Atelier, menekankan pentingnya keterkaitan tersebut dalam mengembangkan destinasi leisure baru. Menurutnya, kurasi desain yang exceptional dan kemitraan brand yang dipilih secara strategis dapat memainkan peran penting dalam memberikan identitas yang distinctive sekaligus memiliki daya tarik komersial bagi destinasi yang sedang berkembang.

Perspektif ini mencerminkan evolusi yang lebih luas dalam luxury real estate. Seiring konsumen menjadi semakin selektif mengenai bagaimana dan di mana mereka menghabiskan waktu, nilai sebuah properti semakin melampaui spesifikasi fisiknya. Bahasa desain, asosiasi dengan brand, serta keseluruhan pengalaman yang ditawarkan dapat menjadi bagian integral dari positioning sebuah aset.

Dari Infrastruktur Hospitality Menuju Identitas Destinasi

Diskusi di THINC juga menyoroti perubahan fundamental dalam cara emerging travel hubs perlu dikembangkan.

Infrastruktur merupakan fondasi yang penting, tetapi infrastruktur saja tidak cukup untuk menciptakan sebuah destinasi. Tantangannya terletak pada bagaimana potensi geografis diterjemahkan menjadi sebuah pengalaman yang memberikan alasan bagi wisatawan untuk datang, kembali, dan pada akhirnya berinvestasi.

Bagi para operator hospitality, hal ini berarti beradaptasi dengan ekspektasi yang terus berubah seiring munculnya pasar-pasar baru. Javier Salgado, Executive Vice President of Nilamani Hotels sekaligus moderator panel, menyoroti dinamika operasional yang terus berkembang dalam melayani wisatawan di destinasi-destinasi yang sedang tumbuh.

Tantangan tersebut menjadi semakin relevan bagi pasar yang ingin menarik wisatawan luxury internasional. Para operator perlu menyeimbangkan standar global dengan karakter setiap destinasi, menciptakan pengalaman hospitality yang sophisticated tanpa menghilangkan sense of place yang sejak awal menjadi daya tarik sebuah lokasi baru.

Keseimbangan antara ekspektasi internasional dan identitas lokal ini diperkirakan akan semakin penting seiring Indonesia membangun generasi berikutnya dari destinasi leisure.

Menghubungkan Desain Eropa dengan Pertumbuhan Asia-Pacific

Percakapan di THINC Indonesia 2026 juga mencerminkan semakin pentingnya kolaborasi lintas negara antara keahlian desain Eropa dan pasar luxury development Asia Tenggara yang terus berkembang.

Italian Atelier telah menempatkan dirinya di titik temu tersebut selama lebih dari satu dekade, dengan merepresentasikan lebih dari empat puluh brand furniture dan desain Eropa di kawasan Asia-Pacific. Dengan kantor di Singapore, Mumbai, Shanghai, Ho Chi Minh City, Jakarta, dan Phnom Penh, perusahaan ini beroperasi dalam jaringan pasar luxury hospitality dan real estate yang berkembang pesat.

Baca Juga :  Berapa Budget Nonton Konser yang Harus Disiapkan? Atur Dana dengan Deposito FLEXI

Peran kepemimpinan ganda Bianchi semakin menghubungkan dua area yang saling melengkapi dalam ekosistem luxury development. Melalui Italian Atelier, ia merepresentasikan keunggulan furniture dan desain Eropa di kawasan Asia-Pacific. Sementara melalui The One Atelier, ia bekerja di persimpangan antara global luxury brands dan high-end real estate development, dengan mendukung berbagai proyek melalui brand scouting, interior design, dan marketing expertise.

Portofolio The One Atelier mencakup kolaborasi dengan sejumlah nama yang telah dikenal secara internasional, termasuk Armani, Aston Martin, Bentley, Dolce & Gabbana, Etro, Fendi, Karl Lagerfeld, Missoni, dan Ralph Lauren. Pipeline perusahaan mencakup luxury hotels, private residences, dan villas, yang mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap branded real estate di berbagai pasar internasional.

Bagi para pengembang yang memasuki emerging leisure destinations, hubungan tersebut menawarkan sebuah cara untuk menerjemahkan brand equity global yang telah mapan ke dalam konteks geografis baru, sembari tetap mempertahankan keterkaitan yang kuat dengan aspirasi pasar lokal.

Menatap Frontier Leisure Indonesia Berikutnya

Investasi Indonesia yang berkelanjutan dalam infrastruktur dan pariwisata membuka peluang bagi terbentuknya geografi baru dalam luxury travel. Bali tetap menjadi salah satu referensi utama, tetapi fase pertumbuhan berikutnya dapat semakin didorong oleh destinasi-destinasi yang mampu menawarkan sesuatu di luar formula luxury hospitality yang telah dikenal.

Peluang tersebut membutuhkan pendekatan pembangunan yang lebih terintegrasi, dengan mempertemukan destination strategy, hospitality operations, architecture, interior design, dan brand positioning sejak tahap awal sebuah proyek.

Bagi Italian Atelier dan The One Atelier, perkembangan regional pipeline mencerminkan perubahan tersebut. Dengan kehadiran di berbagai pasar utama Asia-Pacific dan lebih dari dua puluh lima proyek luxury global dalam pipeline The One Atelier, kedua organisasi tersebut berada pada posisi yang strategis untuk mendukung developer dan hospitality groups dalam menghadapi lanskap industri yang semakin terhubung.

THINC Indonesia 2026 pada akhirnya menegaskan sebuah realitas yang lebih luas bagi kawasan ini: generasi berikutnya dari leisure destinations tidak akan ditentukan oleh lokasi semata. Keberhasilan mereka akan bergantung pada seberapa kuat mereka mampu menerjemahkan sebuah tempat menjadi pengalaman, dan pengalaman tersebut menjadi sebuah identitas yang distinctive.

Seiring Indonesia terus membuka berbagai frontier baru bagi luxury tourism dan real estate, thoughtful design, relevant brand partnerships, serta pemahaman yang kuat terhadap karakter lokal dapat menjadi sejumlah elemen terpenting dalam membentuk destinasi yang akan mendefinisikan masa depan industri hospitality.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Bujet Skincare Bulanan: Cara Mengaturnya agar Tetap Sesuai Kemampuan
LBFest 2026 Dorong Brand Lokal Karya Entrepreneur Muda BINUS Naik Kelas
Zyrex Jadi Merek Indonesia Pertama yang Meluncurkan AI Mini Workstation Berbasis AMD Ryzen AI Max+ 395
CX100 Danantara: Membenahi Layanan BUMN dari Pengalaman Masyarakat
Holding Perkebunan Nusantara Dorong Produktivitas Sawit Rakyat melalui Pembelajaran di Kebun Adolina
KAI Daop 2 Bandung Sampaikan Bahwa Keselamatan Perjalanan KA Butuh Peran Serta Masyarakat
Zentara Melihat Perubahan Besar dalam Cara Perusahaan Mengelola Kerentanan Siber
Dua Puluh Lima Tahun: Narendra Modi dan Posisi India di Dunia

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 06:10

Waskita Beton Precast Kembali Tanam 228 Pohon pada September 2026, Lanjutkan Komitmen Pehijauan Bersama Pelanggan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 05:49

SETC Perkuat Kolaborasi Pemerintah dan Swasta untuk Dorong UMKM Naik Kelas

Kamis, 1 Oktober 2026 - 20:45

Emas Kembali Tertekan di Bawah US$4.300, Ini Prediksi XAUUSD Hari Ini

Rabu, 30 September 2026 - 04:32

Minat Internasional Meningkat Seiring Dimulainya Automechanika Jakarta Besok, Hadirkan Partisipasi Global

Rabu, 23 September 2026 - 21:43

BP Tapera Perluas Sosialisasi KPR Sejahtera FLPP, Dorong Masyarakat Miliki Rumah Pertama

Senin, 14 September 2026 - 06:43

Harga Drone Pertanian DJI Agras 2026: Bandingkan T25P, T55, T70P, dan T100 Sebelum Beli

Selasa, 8 September 2026 - 19:01

BIZTECH for Change 2026 Perkuat Peran BINUS @Bekasi sebagai Business, Service, and Technology Campus

Senin, 31 Agustus 2026 - 06:43

Semarak Kemerdekaan, BRI Finance Hadirkan Pembiayaan Motor Baru Mulai 0,7% per Bulan

Berita Terbaru