Memperkuat Rantai Pasok Hilirisasi, Indonesia Semakin Gencar Optimalkan Bauksit - Koran Mandalika

Memperkuat Rantai Pasok Hilirisasi, Indonesia Semakin Gencar Optimalkan Bauksit

Selasa, 13 Januari 2026 - 03:52

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemanfaatan dan hilirisasi bauksit semakin krusial untuk memperkuat rantai pasok industri dalam negeri. Bauksit yang diolah menjadi alumina dan aluminium merupakan bahan baku strategis bagi berbagai sektor industri, mulai dari manufaktur, konstruksi, transportasi, hingga energi terbarukan.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sumber daya bauksit Indonesia mencapai sekitar 7,4 miliar ton, dengan cadangan sekitar 2,7 miliar ton di antaranya berstatus siap ditambang. Besarnya cadangan tersebut menunjukkan Indonesia memiliki modal mineral yang sangat kuat untuk mendorong hilirisasi dan industrialisasi nasional.

Namun demikian, pemanfaatan cadangan bauksit tersebut selama ini belum optimal. Hal ini tercermin dari pola produksi yang masih sangat bergantung pada ekspor bijih mentah. Produksi bijih bauksit nasional sempat mencapai 31,8 juta ton pada 2022. Setelah penerapan larangan ekspor bahan mentah, produksi menurun menjadi sekitar 19 juta ton pada 2023 dan kembali menyusut menjadi 16,8 juta ton pada 2024.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kondisi tersebut menegaskan bahwa percepatan pengembangan fasilitas pengolahan bauksit di dalam negeri menjadi semakin mendesak. Hilirisasi dipandang sebagai langkah strategis agar cadangan mineral nasional mampu memberikan nilai tambah maksimal bagi perekonomian, sekaligus memperkuat struktur industri nasional secara berkelanjutan.

Baca Juga :  Hindari Salah Hitung! Gunakan Solusi Pembukuan Online yang Tepat

Direktur Eksekutif Indonesia Mining and Energy Watch (ISEW) Ferdy Hasiman menilai program hilirisasi bauksit nasional memasuki fase krusial pada 2026. Menurutnya, Indonesia perlu terus mempercepat transformasi ekonomi dari pola pertambangan ekstraktif menuju ekosistem industri terintegrasi berbasis nilai tambah.

“Indonesia mulai menunjukkan langkah progresif yang sangat berarti. Pola lama pertambangan ekstraktif mulai ditinggalkan, dan hilirisasi menjadi instrumen penting untuk menekan defisit neraca pembayaran melalui pengolahan berbagai komoditas mineral di dalam negeri,” ujar Ferdy.

Ia mengapresiasi langkah pemerintah yang semakin mengoptimalkan peran Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID dalam mengintegrasikan rantai hilirisasi bauksit, mulai dari pengolahan menjadi alumina hingga aluminium. Integrasi ini dinilai penting untuk menjamin ketersediaan bahan baku industri nasional tanpa ketergantungan pada pasokan luar negeri.

Bahan baku aluminium yang dihasilkan dari pengolahan terintegrasi tersebut diharapkan menjadi fondasi terbentuknya rantai pasok industri yang kuat, mendukung sektor manufaktur, transportasi, hingga pengembangan energi terbarukan di Indonesia.

Baca Juga :  Kenali 5 Software ERP Terbesar dan Keunggulannya Masing-Masing

Pandangan serupa disampaikan Guru Besar Pertambangan Institut Teknologi Bandung (ITB) Irwandi Arif. Ia menjelaskan bahwa kebutuhan aluminium bersifat lintas sektor dan terus meningkat seiring perkembangan ekonomi global.

“Di negara berpendapatan tinggi, aluminium banyak digunakan untuk sektor transportasi. Sementara di negara berpendapatan rendah dan menengah, penggunaannya lebih dominan untuk sistem transmisi listrik, barang manufaktur, dan konstruksi,” ujar Irwandi dalam bukunya Bauksit Indonesia.

Kajian International Aluminium Institute juga menyebutkan bahwa kapasitas pemurnian alumina merupakan indikator utama dalam memperkuat daya saing industri suatu negara. Dengan terealisasinya pengolahan bauksit terintegrasi di Mempawah, Indonesia kini berada pada posisi strategis untuk memenuhi kebutuhan aluminium, baik bagi pasar domestik maupun global.

Ke depan, penguatan proyek hilirisasi bauksit diharapkan mampu mengoptimalkan pemanfaatan cadangan nasional, memperkuat struktur industri dalam negeri, serta menjadikan aluminium sebagai salah satu pilar penting dalam pembangunan ekonomi dan industrialisasi masa depan Indonesia.

Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Smart Futuristic City Diorama Karya BINUS @Semarang Tampil di Sewunara 2026
Wujud Kemanusiaan dan Solidaritas, PTPN Group Salurkan Tali Kasih bagi Keluarga Jurnalis Korban Selat Sunda
Plus Gratisnya dari neobank PLUS: Kuota Gratis Transfer antarbank hingga 200 Kali per Bulan
Jaga Kualitas Infrastruktur, PT JMTM Lanjutkan Pekerjaan SFO dan Rekonstruksi Rigid di Ruas Tol Semarang
KAI Bandara Raih Penghargaan Anugerah Humas Indonesia 2026 melalui Railink Magazine Vol. 4
Multi-Level BoM Odoo: Rakit Produk Bertingkat Tanpa Salah Komponen
Mulai 9 Oktober, KAI Daop 1 Jakarta Jaga 5 Perlintasan Sebidang di Bekasi dan Tangerang
Motor Impian Makin Dekat, BRI Finance Hadirkan Bunga Mulai 0,7%

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 14:50

Dua Alat Bukti Cukup, Eks Pimpinan Ponpes Abul Barokat Jadi Tersangka

Jumat, 31 Juli 2026 - 06:28

Uang Rp50 Ribu Jadi Umpan, 7 Anak Jonggat Diduga Jadi Korban

Rabu, 3 Juni 2026 - 16:12

Korupsi Pengadaan Dump Truck dan Arm Roll DLH Lombok Tengah, Empat Tersangka Resmi Ditahan

Senin, 25 Mei 2026 - 19:42

Hutang Berujung Maut, Penyidik Satreskrim Polresta Mataram Tetapkan Satu Tersangka

Rabu, 20 Mei 2026 - 19:01

Ahli Pidana dari JPU Sebut Pasal Gratifikasi Tidak Bisa Menjerat Pemberi

Jumat, 15 Mei 2026 - 11:58

Suliadi Protes Tuntutan Berat Kasus Sewa Tower: Saya Hanya Warga Biasa

Selasa, 5 Mei 2026 - 14:53

Sekda Lombok Tengah Jadi Saksi, Jaksa Dalami Dugaan Korupsi Dump Truck

Selasa, 5 Mei 2026 - 10:05

Sekda Lombok Tengah Dipanggil Jaksa, Pemeriksaan Berkaitan dengan Kasus Dump Truck?

Berita Terbaru