Simbiosis Manusia-AI: Bagaimana Pasar Berkembang Lebih Dulu Membangun Masa Depan - Koran Mandalika

Simbiosis Manusia-AI: Bagaimana Pasar Berkembang Lebih Dulu Membangun Masa Depan

Kamis, 28 Mei 2026 - 16:00

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh Shraddha Thanawala, Remiges Apac Pte Ltd

Pendahuluan

Selama empat dekade terakhir, pasar berkembang menempuh jalur yang berbeda dalam mencapai kematangan teknologi. Alih-alih mengikuti model yang digunakan negara maju, mereka justru melompati infrastruktur lama dan langsung membangun sistem berbasis cloud-native serta API-driven sejak awal.

Kini, ketika Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah cara perusahaan beroperasi, pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling cepat mengadopsi teknologi, melainkan siapa yang memiliki fondasi yang tepat untuk menggunakannya secara bertanggung jawab.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tulisan ini membahas bagaimana lahirnya generasi baru “perancang sistem” mampu mengisi kekosongan dalam ekosistem teknologi, serta mengapa AI justru memperkuat keunggulan organisasi yang memiliki infrastruktur modern dan pengambilan keputusan manusia yang disiplin.

Tiga Era Teknologi di Pasar Berkembang

Era 1: Ketergantungan pada Produk MNC (1980-an–2000-an)

Pada masa awal, perusahaan besar di pasar berkembang hanya memiliki dua pilihan: menggunakan produk perusahaan multinasional (MNC) yang mahal dan kaku seperti SAP, Oracle, atau mainframe, atau membangun solusi seadanya yang sulit dipertahankan dalam jangka panjang.

Sebagian besar perusahaan menengah memilih opsi kedua. Mereka membangun sistem tambal sulam yang dipimpin programmer senior berbakat, tetapi tanpa disiplin arsitektur yang matang.

Pada masa itu, desain sistem belum dianggap sebagai disiplin tersendiri. Yang penting sistem bisa berjalan.

Spreadsheet digunakan untuk menutupi berbagai kekurangan. Akibatnya, sistem menjadi rapuh, mahal dirawat, dan sulit berkembang ketika bisnis mulai membesar.

Era 2: Munculnya Perancang Sistem (2005–2020)

Perubahan besar mulai terjadi ketika generasi baru teknolog dari India, Vietnam, dan Filipina tidak lagi sekadar mengeksekusi spesifikasi, tetapi mulai merancang sistem secara menyeluruh.

Baca Juga :  Pesan Balasan WhatsApp Jadi Berbayar, Masih Worth It Kah? Begini Cara Hitungnya

Perusahaan seperti Infosys, Wipro, TCS, dan berbagai perusahaan teknologi boutique menghadirkan sesuatu yang sebelumnya sulit diakses perusahaan menengah: arsitek teknologi kelas dunia dengan biaya jauh lebih terjangkau dibanding perusahaan multinasional besar.

Untuk pertama kalinya, perusahaan menengah dapat berkata:

Era 3: Keunggulan Leapfrog (2020–Sekarang)

Ketika negara maju menghabiskan dekade 2010-an untuk memodernisasi sistem lama yang rumit, pasar berkembang justru sudah lebih dulu membangun fondasi berbasis cloud-native dan API-first.

Hasilnya, banyak perusahaan di India, Vietnam, dan pasar berkembang lainnya kini memiliki arsitektur teknologi yang lebih modern dibanding sejumlah perusahaan di negara maju.

Ini bukan kebetulan. Pasar berkembang terpaksa membangun dengan cara berbeda karena mereka tidak mampu membayar “biaya mahal” produk MNC. Keterbatasan itulah yang akhirnya berubah menjadi keunggulan kompetitif.

Paradigma Baru: AI sebagai Kolaborasi yang Disiplin

AI adalah lompatan besar berikutnya dalam produktivitas, tetapi hanya jika diperlakukan sebagai kecerdasan kolaboratif, bukan solusi otomatis sepenuhnya.

Nilai AI sesungguhnya bertumpu pada dua hal utama:

1. Human-in-the-loop

AI adalah asisten yang sangat cerdas, tetapi bukan pengganti manusia sepenuhnya. Nilainya bergantung pada kualitas prompt, penilaian, dan validasi manusia di setiap tahap.

Developer yang memahami logika bisnis, konteks industri, dan batasan arsitektur akan mendapatkan manfaat jauh lebih besar dari AI dibanding mereka yang menganggap AI sebagai pengganti proses berpikir.

Baca Juga :  Berhenti Sejenak Ketika Melewati Perlintasan KA demi Keselamatan Bersama

Dan itu memang tujuan desain AI sejak awal.

2. Guard Rails

AI juga membawa risiko baru, mulai dari kode dengan dependensi tersembunyi, logika probabilistik dalam sistem penting, hingga kasus-kasus tertentu yang belum mampu ditangani dengan baik oleh model AI saat ini.

Tanpa guard rails, penggunaan AI dalam pengembangan justru berpotensi menciptakan technical debt baru.

Guard rails mencakup automated testing, code review, audit trail, hingga mekanisme fallback yang memastikan kode hasil AI tetap memenuhi standar produksi.

Kesimpulan: Integrator yang Bijak Akan Menjadi Pemenang

Paradoks adopsi teknologi menunjukkan satu hal menarik: terlambat mengadopsi sistem lama justru membuat pasar berkembang lebih cepat memasuki era arsitektur modern.

Pasar berkembang bukan sekadar mengejar ketertinggalan dari Barat. Mereka melewati jalan buntu tersebut dan langsung membangun fondasi masa depan.

Organisasi yang memiliki fondasi modern, talenta dengan kemampuan desain sistem, dan disiplin produksi tidak hanya mampu mengadopsi AI lebih cepat, tetapi juga lebih baik.

Mereka menggabungkan seni (design thinking), sains (validasi yang ketat), dan kecerdasan (pengembangan berbasis AI) menjadi hasil yang berkelanjutan.

Pada akhirnya, masa depan bukan milik mereka yang paling cepat mengadopsi teknologi baru, melainkan mereka yang paling bijak mengintegrasikannya — mereka yang memahami bahwa kecerdasan bukan tentang mesin menggantikan manusia, tetapi manusia yang mampu mengarahkan mesin dengan disiplin dan tujuan yang jelas.

Bagi pasar berkembang, inilah momen untuk memimpin.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Bitcoin Kembali Ditolak $87.000, Ini Skenario Harga BTC Berikutnya
BRI BO Krekot Peringati Hari Kesaktian Pancasila dengan Khidmat dan Penuh Semangat Kebangsaan
BRI BO Kramat Peringati Hari Kesaktian Pancasila dengan Khidmat dan Penuh Semangat Kebangsaan
BRI BO Kelapa Gading Peringati Hari Kesaktian Pancasila dengan Khidmat dan Penuh Semangat Kebangsaan
Ika Afifah Terpilih sebagai Salah Satu dari 30 Perempuan ASEAN & Australia yang Mendorong Pertumbuhan Ekonomi
Transaksi Kripto Indonesia Naik 12,87 Persen, Apa yang Mendorongnya?
Sinergi UGM, Sanggabiz, dan Komunitas Lokal: Mewujudkan Modernisasi Wellness Tourism Desa Sidorejo Berbasis Manuskrip Kuno Pawukon
Tak Harus Jadi Komika, Zie Brb Ajak Pembaca Mencoba Stand-up Comedy lewat Buku Pertamanya

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 17:02

Bitcoin Kembali Ditolak $87.000, Ini Skenario Harga BTC Berikutnya

Selasa, 6 Oktober 2026 - 17:02

BRI BO Krekot Peringati Hari Kesaktian Pancasila dengan Khidmat dan Penuh Semangat Kebangsaan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 17:02

BRI BO Kramat Peringati Hari Kesaktian Pancasila dengan Khidmat dan Penuh Semangat Kebangsaan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 17:02

BRI BO Kelapa Gading Peringati Hari Kesaktian Pancasila dengan Khidmat dan Penuh Semangat Kebangsaan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 17:02

Ika Afifah Terpilih sebagai Salah Satu dari 30 Perempuan ASEAN & Australia yang Mendorong Pertumbuhan Ekonomi

Selasa, 6 Oktober 2026 - 16:02

Sinergi UGM, Sanggabiz, dan Komunitas Lokal: Mewujudkan Modernisasi Wellness Tourism Desa Sidorejo Berbasis Manuskrip Kuno Pawukon

Selasa, 6 Oktober 2026 - 15:02

Tak Harus Jadi Komika, Zie Brb Ajak Pembaca Mencoba Stand-up Comedy lewat Buku Pertamanya

Selasa, 6 Oktober 2026 - 15:02

Gempa Mengguncang, Mutu Tulangan Beton Ikut Diuji

Berita Terbaru