Slow Living Jadi Tujuan Finansial Baru Anak Muda, Kenapa Banyak yang Mulai Mengejarnya? - Koran Mandalika

Slow Living Jadi Tujuan Finansial Baru Anak Muda, Kenapa Banyak yang Mulai Mengejarnya?

Kamis, 14 Mei 2026 - 21:00

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Beberapa tahun lalu, sukses sering identik dengan hidup serba cepat. Karier harus terus naik, penghasilan harus semakin besar, dan gaya hidup ikut meningkat. Namun belakangan, banyak anak muda mulai punya definisi berbeda soal kehidupan ideal.

Muncul tren yang semakin sering dibicarakan: slow living. Di media sosial, istilah ini sering muncul lewat konten tentang hidup lebih tenang, mengurangi distraksi, bekerja lebih seimbang, sampai pindah ke kota yang biaya hidupnya lebih rendah. 

Bagi sebagian orang, slow living bukan lagi sekadar estetika internet atau gaya hidup ala video Pinterest. Ada perubahan cara pandang soal uang, pekerjaan, dan kualitas hidup.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Apalagi setelah pandemi dan kondisi ekonomi yang terus berubah, banyak orang mulai mempertanyakan pola hidup yang terlalu cepat dan melelahkan.

Slow Living Bukan Berarti Malas Bekerja

Slow living sering disalahartikan sebagai hidup santai tanpa ambisi. Padahal, banyak orang justru tetap bekerja, mengejar karier, dan membangun penghasilan. Bedanya, mereka mulai lebih selektif menentukan prioritas.

Sebagian orang mulai memilih:

– Pekerjaan yang lebih fleksibel

– Work life balance

– Waktu istirahat yang cukup

– Pengeluaran yang lebih sadar

– Target hidup yang terasa realistis

Karena itu, tujuan finansial sekarang mulai bergeser. Dulu banyak orang fokus mengejar barang atau status tertentu. Sekarang, banyak yang mulai mengejar “ketenangan”.

Biaya Hidup yang Naik Ikut Mengubah Cara Orang Melihat Uang

Kenaikan biaya hidup dalam beberapa tahun terakhir ikut memengaruhi cara orang mengatur keuangan. Harga makanan, transportasi, hiburan, hingga biaya tempat tinggal terasa semakin mahal.

Di sisi lain, media sosial juga membuat gaya hidup konsumtif semakin mudah memengaruhi banyak orang. Tren nongkrong, traveling, belanja online, sampai fear of missing out atau FOMO sering membuat pengeluaran terasa bocor tanpa sadar.

Baca Juga :  KAI Logistik Catat 5.740 Ton Angkutan Selama Ramadan–Idul Fitri, Siap Optimalkan Layanan Arus Balik

Karena itu, sebagian orang mulai mencoba hidup lebih sederhana supaya kondisi finansial terasa lebih stabil.

Contohnya:

– Mengurangi nongkrong berlebihan

– Memasak sendiri

– Pindah ke tempat tinggal yang lebih terjangkau

– Membatasi belanja impulsif

– Mulai menyusun anggaran bulanan

– Langkah seperti ini mulai dianggap bagian dari self care finansial.

Anak Muda Mulai Memikirkan Dana Darurat dan Masa Depan

Kalau dulu banyak orang baru memikirkan tabungan setelah usia lebih matang, sekarang kesadaran finansial mulai muncul lebih cepat.

Banyak pekerja muda mulai:

– Memisahkan dana darurat

– Membangun tabungan

– Mempelajari investasi

– Mencari penghasilan tambahan

Tujuannya bukan semata-mata cepat kaya. Banyak yang ingin punya rasa aman ketika menghadapi kondisi tidak terduga seperti kehilangan pekerjaan, biaya kesehatan, atau kebutuhan keluarga.

Karena itu, pengelolaan uang mulai dipandang sebagai bagian dari menjaga kualitas hidup jangka panjang.

Slow Living Membuat Orang Lebih Sadar Mengatur Pengeluaran

Salah satu hal yang cukup terasa dari tren slow living adalah perubahan pola konsumsi.

Banyak orang mulai lebih sadar sebelum membeli sesuatu.

Pertanyaan yang mulai sering muncul:

– “Aku benar-benar butuh ini gak?”

– “Kalau beli sekarang, kondisi keuangan bulan depan aman gak?”

– “Barang ini bakal dipakai lama atau cuma impulsif?”

Kesadaran seperti ini perlahan mengubah kebiasaan belanja dan membantu sebagian orang menjaga pengeluaran tetap lebih terkontrol.

Di saat yang sama, konsep “healing mahal” juga mulai banyak dipertanyakan. Tidak semua bentuk self reward harus selalu menghabiskan banyak uang.

Investasi Mulai Dipandang sebagai Bagian dari Gaya Hidup Finansial

Seiring meningkatnya kesadaran finansial, investasi juga mulai lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari anak muda.

Jika dulu investasi terasa rumit dan identik dengan nominal besar, sekarang aksesnya mulai lebih mudah lewat aplikasi digital.

Baca Juga :  EQUITEN Buka Akses Pendanaan Efisien bagi UKM dan Bisnis Menengah Indonesia

Sebagian orang mulai mencoba instrumen seperti:

– Reksa dana

– Emas digital

– Deposito

– Tabungan terpisah

Pilihan instrumen biasanya disesuaikan dengan:

– Profil risiko

– Tujuan keuangan

– Kondisi finansial masing-masing

Karena itu, investasi mulai dipandang bukan sebagai tren sesaat, tetapi bagian dari perencanaan hidup yang lebih stabil. 

Menyiapkan Masa Depan Pelan-Pelan dengan Reksa Dana di neobank

Di tengah kondisi ekonomi yang terus berubah, banyak orang mulai sadar bahwa hidup tidak harus selalu terburu-buru.

Sebagian memilih tetap mengejar karier agresif. Sebagian lain mulai mencoba hidup lebih pelan dengan pengelolaan uang yang terasa lebih sehat.

Tidak ada pendekatan yang sepenuhnya benar atau salah. Namun yang mulai berubah adalah cara orang mendefinisikan “cukup”.

Melalui aplikasi neobank dari Bank Neo Commerce, pengguna dapat mengakses berbagai layanan finansial digital, termasuk fitur investasi reksa dana online. Namun, nilai investasi dan hasilnya dapat meningkat maupun menurun sesuai kondisi pasar

Reksa dana di neobank menyediakan pilihan produk reksa dana pendapatan tetap, reksa dana campuran, dan reksa dana saham. Semuanya dapat disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan finansial pengguna. Namun, penting dipahami bahwa setiap instrumen investasi memiliki risiko dan hasil investasi dapat berubah mengikuti kondisi pasar.

Nasabah disarankan membaca Ringkasan Informasi Produk dan Layanan (RIPLAY) serta memahami profil risiko sebelum menggunakan produk investasi.

*** 

Jika ingin mempelajari produk Reksa Dana, kamu bisa mengeceknya melalui neobank di  PlayStore atau App Store. Cek info lebih lanjut dan terbaru di link Reksa Dana atau https://s.id/igneoreksadana.

PT Bank Neo Commerce Tbk berizin & diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI), serta merupakan bank peserta penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).⁣ 

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Gratis Transfer antarbank di neobank hingga 200 Kali per Bulan
Dulu Cukup Ganti Air, Kini Air Penggantinya Harus Steril: FisTx Hadirkan Baskara UV dan Cakra Elektrolisis
Bagaimana Sistem Keamanan Dana dan Data Bekerja pada Aplikasi Trading Online?
1 Juta Pergerakan Penumpang, KAI Bandara Perkuat Konektivitas Sekaligus Tebar Kepedulian di Lubuk Pakam
Pertamina SMEXPO Yogyakarta Bukukan Capaian Rp3,8 Miliar, Buka Peluang Pasar Lebih Luas bagi UMKM
PLN NPC dan TSG Teken Kontrak Kolaborasi Proyek Gas Insulated Switchgear
Pelindo Multi Terminal Perkuat Layanan Nonpetikemas Pelabuhan Belawan
Buktikan Daya Saing Global, Siswa BINUS SCHOOL Torehkan Nilai IB dan Cambridge di Atas Rata-Rata Dunia

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 19:02

Gratis Transfer antarbank di neobank hingga 200 Kali per Bulan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:02

Dulu Cukup Ganti Air, Kini Air Penggantinya Harus Steril: FisTx Hadirkan Baskara UV dan Cakra Elektrolisis

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:02

Bagaimana Sistem Keamanan Dana dan Data Bekerja pada Aplikasi Trading Online?

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:02

1 Juta Pergerakan Penumpang, KAI Bandara Perkuat Konektivitas Sekaligus Tebar Kepedulian di Lubuk Pakam

Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:02

Pertamina SMEXPO Yogyakarta Bukukan Capaian Rp3,8 Miliar, Buka Peluang Pasar Lebih Luas bagi UMKM

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:02

Pelindo Multi Terminal Perkuat Layanan Nonpetikemas Pelabuhan Belawan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:02

Buktikan Daya Saing Global, Siswa BINUS SCHOOL Torehkan Nilai IB dan Cambridge di Atas Rata-Rata Dunia

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:02

KAI Bandara Salurkan Bantuan Pendidikan untuk Anak-anak Panti Asuhan Al Washliyah Lubuk Pakam

Berita Terbaru

Daerah

Tuan Guru Bagu Tutup Usia, Nasihatnya Jadi Pegangan

Kamis, 15 Okt 2026 - 19:01