USDJPY Berpotensi Melemah ke 156.598, Ini Analisis Dupoin Futures - Koran Mandalika

USDJPY Berpotensi Melemah ke 156.598, Ini Analisis Dupoin Futures

Selasa, 29 September 2026 - 11:02

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pergerakan USDJPY
masih menghadapi dinamika antara ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat
(AS) dan Jepang. Dolar AS masih mendapatkan dukungan dari prospek suku bunga
The Federal Reserve (The Fed), tetapi secara teknikal USDJPY mulai menunjukkan
potensi pelemahan setelah harga belum mampu menembus zona supply pada timeframe
H4.

Berdasarkan
analisis Dupoin Futures, USDJPY berpotensi kembali mengalami pelemahan setelah
harga gagal ditutup di atas zona supply 157.517–157.859. Kondisi tersebut
membuka peluang bagi pasangan mata uang ini untuk melanjutkan penurunan menuju
zona support terdekat di 156.598–155.927.

Geraldo Kofit,
analis Dupoin Futures, menjelaskan bahwa pergerakan tersebut berpotensi membentuk
pola ABC Correction. Pola ini menunjukkan adanya peluang koreksi setelah USDJPY
mengalami fase penguatan sebelumnya. Apabila tekanan jual berlanjut, pelemahan
menuju area support 156.598–155.927 menjadi skenario yang perlu diperhatikan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain itu, pola
ABC Correction tersebut juga berpotensi menjadi indikasi awal perubahan arah
tren. Jika tekanan jual semakin kuat, struktur harga dapat berkembang menjadi
reversal dari tren bullish menuju bearish. Karena itu, respons USDJPY terhadap
zona supply 157.517–157.859 menjadi salah satu area penting dalam menentukan
arah pergerakan jangka pendek.

Baca Juga :  Apparel Nyaman untuk Liburan Singkat: Tips Weekend Getaway dengan Bodypack

Dari sisi
fundamental, USDJPY masih mendapatkan dukungan dari perbedaan ekspektasi suku
bunga antara AS dan Jepang. The Fed mempertahankan sikap hawkish dan pasar masih
memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga berikutnya. Kondisi tersebut
dapat menjaga daya tarik dolar AS terhadap yen.

Reuters melaporkan
pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober masih
cukup tinggi, sementara kenaikan Treasury yield turut memberikan dukungan
terhadap dolar AS. Imbal hasil Treasury 10 tahun juga berada di atas 5% dan
menjadi salah satu faktor yang menopang dolar.

Di Jepang, Bank of
Japan (BOJ) sebelumnya telah menaikkan suku bunga menjadi 1,25%, level tertinggi
dalam 31 tahun. Namun, keputusan tersebut belum menghasilkan penguatan yen yang
signifikan karena dua anggota BOJ berbeda pendapat dan panduan kebijakan
dinilai belum cukup hawkish. Kondisi tersebut membuat perbedaan kebijakan
moneter AS dan Jepang masih menjadi faktor yang mendukung USDJPY.

Meski demikian,
penguatan dolar terhadap yen juga menghadapi risiko intervensi dari pemerintah
Jepang. Perhatian terhadap potensi intervensi kembali meningkat setelah
diplomat mata uang Jepang, Atsushi Mimura, menyatakan bahwa pasar perlu
memperhatikan peringatan pemerintah terkait pelemahan yen dan tidak menutup
kemungkinan adanya langkah lebih lanjut untuk menstabilkan mata uang tersebut.

Baca Juga :  Mengoptimalkan Produktivitas Tim dengan Sistem Crestron dari MLV Teknologi untuk Efisiensi Kerja Maksimal

Risiko intervensi
menjadi faktor penting karena dapat meningkatkan volatilitas USDJPY, khususnya
ketika pelemahan yen berlangsung cepat. Artinya, meskipun perbedaan suku bunga
masih memberikan dukungan fundamental terhadap dolar AS, pergerakan USDJPY
tetap berpotensi menghadapi tekanan apabila otoritas Jepang meningkatkan sinyal
intervensi.

Menurut Dupoin
Futures
, pelaku pasar perlu mencermati kombinasi struktur teknikal dan
perkembangan kebijakan moneter kedua negara. Zona supply 157.517–157.859
menjadi level penting untuk menentukan apakah penguatan USDJPY masih dapat berlanjut
atau justru memasuki fase koreksi.

Dengan demikian,
prediksi USDJPY hari ini menunjukkan potensi pelemahan menuju 156.598–155.927
selama harga belum mampu menembus zona supply 157.517–157.859. Pola ABC
Correction berpotensi memperkuat skenario koreksi dan menjadi indikasi awal
reversal dari tren bullish menuju bearish. Namun, arah dolar AS, ekspektasi
suku bunga The Fed, kebijakan BOJ, serta risiko intervensi Jepang tetap menjadi
katalis utama yang dapat memengaruhi volatilitas USDJPY.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Pasar Nikel Global Diproyeksi Tumbuh 21,39% hingga 2031, Hilirisasi Didorong Garap Produk Akhir
Jasa Marga Raih Dua Penghargaan dalam Ajang The 17th IICD Corporate Governance Award 2026
Dorong UMKM Naik Kelas, Jasa Marga Fasilitasi Lima UMKM Binaan di Trade Expo Indonesia 2026
Sanct Social Buka Booth di Tar2Cup “Cerita 2026: Luminara” SMA Tarakanita 2 pada Sabtu 18 Oktober: Supaya Teman Baru dari Lapangan Tidak Hilang Setelah Acara Usai
5 Hal Tidak Terduga yang Terjadi ketika Sedang Liburan ke Luar Negeri
KAI Daop 2 Bandung Layani Lebih dari 56ribu Wisatawan Mancanegara pada Januari–Agustus 2026
Sebelum Jual Emas Perhiasan atau Logam Mulia, Pandai Emas Ingatkan 7 Hal yang Perlu Dicek
Kemendag dan Nestlé Indonesia Teken MoU Dorong Ekspor dari Hulu di TEI 2026

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 20:47

Lewat Program CERAH, NTB Perluas Akses Kesehatan bagi Penyandang Disabilitas

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 09:40

Pariwisata Ramah Muslim, NTB Konsisten di Tiga Besar Nasional

Rabu, 14 Oktober 2026 - 17:05

Akhir 2026, BPR NTB Ditargetkan Resmi Berbasis Syariah

Rabu, 14 Oktober 2026 - 07:11

Gubernur NTB Tekankan Soliditas KONI, Mohan Roliskana Terpilih

Selasa, 13 Oktober 2026 - 18:07

Mohan Roliskana Rebut Kursi Ketua KONI NTB

Selasa, 13 Oktober 2026 - 15:02

Resmi Kenalkan Ketua Baru, PAN NTB Langsung Bidik Target Besar

Selasa, 13 Oktober 2026 - 10:44

MotoGP Mandalika: Kerugian Perusahaan dan Dampak Ekonomi adalah Dua Hal Berbeda

Senin, 12 Oktober 2026 - 13:21

275 PMI NTB Dideportasi, Muazzim Akbar Ungkap 3 Penyebab Utama

Berita Terbaru