Menemukan Diri Lewat Warna: Transformasi Hidup Agus Priyanto Lewat Terapi Seni - Koran Mandalika

Menemukan Diri Lewat Warna: Transformasi Hidup Agus Priyanto Lewat Terapi Seni

Selasa, 8 Juli 2025 - 14:23

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Agus Priyanto tak pernah membayangkan bahwa kuas dan kanvas akan menjadi jalan penyembuhan jiwanya. Dulu ia adalah sosok yang aktif di dunia sosial, sempat mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kota Surakarta pada 2019. Namun setelah gagal, hidupnya berubah drastis.
Alih-alih melanjutkan rutinitas, Agus justru jatuh dalam krisis batin. Rumah dijual, anak dititipkan ke mertua, dan ia menarik diri dari lingkungan sekitar karena merasa malu dan takut dicap sebagai beban. Tak lagi bersemangat, ia bahkan enggan keluar rumah.

Ketika Malam Tak Berujung Menjadi Awal Baru

Satu malam, saat sulit tertidur, Agus mengambil air wudhu dan bermunajat. Setelahnya, secara impulsif, ia mengambil kuas dan mulai melukis dengan satu warna. Tidak ada tujuan, tidak ada rencana. Tapi dari aktivitas sederhana itulah, ia merasakan ketenangan pertama setelah sekian lama. Ia menyebut momen itu sebagai “kesadaran akan saat ini.” Sebuah pengalaman meditatif yang membuatnya sadar: seni bisa menyembuhkan.

Melukis Bukan Soal Estetika, Tapi Energi Jiwa

Bagi Agus, melukis meditatif bukan tentang hasil. Ini tentang proses. Proses untuk mengurai emosi yang sulit diungkapkan kata-kata. Dalam setiap goresan, ada energi. Dan energi itu menyatu dengan kesadaran tubuh dan alam.

Ia percaya bahwa tubuh manusia adalah mikrokosmos dari semesta. Ketika seseorang melukis dalam keadaan hening dan fokus, gelombang otaknya selaras dengan frekuensi bumi: 7,3 Hz. Itulah kenapa melukis bisa terasa menenangkan dan menyembuhkan. Pikiran yang kuat menghasilkan energi kuat. Dan seni menjadi media untuk menyalurkan dan mengelola energi itu.

Seni sebagai Bahasa Jiwa yang Tak Bersuara

Sama seperti yang dilakukan tokoh-tokoh besar seperti Van Gogh atau Salvador Dali, Agus melihat bahwa seni adalah jembatan ekspresi. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan gambar karena ayahnya kerap menggambar sebelum tidur.

Lewat pengalamannya, ia mendalami seni sebagai bentuk terapi, bukan sekadar hiburan, tapi sebagai alat komunikasi yang esensial. Ia belajar bahwa anak-anak yang mengalami kehilangan bisa mengekspresikan kesedihan lewat gambar tanpa harus menangis atau berbicara panjang.

Soul Healing Art Therapy: Seni untuk Penyembuhan dan Pemberdayaan

Berangkat dari pengalamannya, Agus membentuk pendekatan yang ia beri nama Soul Healing Art Therapy. Ini adalah metode terapi yang memanfaatkan seni rupa (lukis, gambar, clay) untuk mengakses lapisan emosi terdalam manusia.

Baca Juga :  Tips Menghadapi Inflasi Agar Keuangan Tetap Terkendali

Melalui pensil, kuas, hingga tanah liat, peserta bisa memilih sendiri medium yang paling nyaman untuk mengungkapkan isi hati mereka. Terapi ini bekerja untuk segala usia dari anak-anak hingga lansia. Terutama bagi mereka yang kesulitan mengungkapkan trauma secara verbal, art therapy menjadi ruang yang aman dan lembut.

“Kadang, kata-kata terlalu sempit untuk menampung luka. Tapi goresan warna bisa mengalirkan apa yang tak sanggup diucapkan,” jelas Agus.

Dari Luka Menjadi Cahaya

Kini Agus tidak hanya sembuh, ia menjadi cahaya bagi orang lain. Ia membagikan metode ini ke komunitas, sekolah, dan lembaga yang ingin menghadirkan ruang pemulihan. Bagi Agus, terapi seni bukan sekadar penyembuhan. Ini adalah pemberdayaan. Proses untuk membantu seseorang menemukan kembali harapan, kepercayaan diri, dan makna hidup.

Karena pada akhirnya, seni bukan hanya tentang karya. Tapi tentang keberanian untuk melihat ke dalam diri sendiri, dan menciptakan jalan pulang menuju jiwa yang utuh.

Berita Terkait

JessC Makin Dekat dengan Indonesia, Musik Jadi Jembatan Lintas Budaya
Kementerian Dalam Negeri Gelar Rapat Kerja Bersama K/L untuk Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah Menuju Target 8 Persen
KALOG Express Layani Lebih dari 8.000 Ton Barang, Tertinggi Sepanjang 2026
Bitcoin Tertekan Jelang Keputusan The Fed, Harga BTC Bertahan di Bawah US$80.000
Promo neobank September 2026, Ada Hadiah untuk Pengguna Baru hingga Diskon QRIS 50%
Berbagi di Hari Jadi, KAI Logistik Gelar Donor Darah untuk Sesama
ENSIA 2026: Saat Inovasi Menjadi Kunci Bisnis Berkelanjutan dan Ketangguhan Masyarakat
Sanggabiz Berpartisipasi di ConnectX Founder & Builder Summit, Dwi Andi Rohmatika (DA) Soroti Strategi Membangun Bisnis Berkelanjutan

Berita Terkait

Kamis, 10 September 2026 - 22:02

JessC Makin Dekat dengan Indonesia, Musik Jadi Jembatan Lintas Budaya

Kamis, 10 September 2026 - 19:02

Kementerian Dalam Negeri Gelar Rapat Kerja Bersama K/L untuk Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah Menuju Target 8 Persen

Kamis, 10 September 2026 - 18:02

KALOG Express Layani Lebih dari 8.000 Ton Barang, Tertinggi Sepanjang 2026

Kamis, 10 September 2026 - 17:02

Bitcoin Tertekan Jelang Keputusan The Fed, Harga BTC Bertahan di Bawah US$80.000

Kamis, 10 September 2026 - 17:02

Berbagi di Hari Jadi, KAI Logistik Gelar Donor Darah untuk Sesama

Kamis, 10 September 2026 - 17:02

ENSIA 2026: Saat Inovasi Menjadi Kunci Bisnis Berkelanjutan dan Ketangguhan Masyarakat

Kamis, 10 September 2026 - 16:02

Sanggabiz Berpartisipasi di ConnectX Founder & Builder Summit, Dwi Andi Rohmatika (DA) Soroti Strategi Membangun Bisnis Berkelanjutan

Kamis, 10 September 2026 - 16:02

Celebrity Fitness 2.0, Evolusi Baru Fitness di Mall Of Indonesia

Berita Terbaru