Investor Indonesia Adaptif di Tengah Krisis, CEO Bittime Soroti Tren USDT hingga Bitcoin - Koran Mandalika

Investor Indonesia Adaptif di Tengah Krisis, CEO Bittime Soroti Tren USDT hingga Bitcoin

Jumat, 24 April 2026 - 20:00

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, 23 April 2026 – Di tengah tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian global, perilaku investor Indonesia menunjukkan pergeseran yang semakin strategis. CEO Bittime, Ryan Lymn, mengungkapkan bahwa mayoritas investor kini memilih berinvestasi pada aset-aset kripto yang cenderung lebih stabil seperti Tether ($USDT), Bitcoin ($BTC), dan Emas Tether ($XAUT) berdasarkan hasil voting Bittime di platform Instagram.

Lebih lanjut, aset kripto $USDT yang memberikan eksposur 1:1 terhadap dolar AS, menjadikannya instrumen yang relevan di tengah gejolak ketegangan geopolitik Amerika-Iran. Apalagi, $USDT bersifat fraksional sehingga dapat diakses atau dibeli dengan harga fleksibel di tengah kondisi depresiasi pada nilai tukar Rupiah. 

Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya minat investor terhadap pasangan USDT/IDR di platform Bittime. Di mana, berdasarkan hasil voting yang digelar Bittime di akun Instagram miliknya, 57% dari masyarakat memilih berinvestasi pada aset $USDT saat gajian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

CEO Bittime, Ryan Lymn, menjelaskan bahwa pergerakan tren strategi investasi yang terjadi saat ini, menunjukkan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap nilai investasi dan pentingnya mengamankan nilai aset di tengah volatilitas pasar ekonomi yang terjadi.

Baca Juga :  Tanggap Darurat Banjir Maluku Utara, Kementerian PU Identifikasi Titik Kritis dan Siagakan Alat Berat

“Kami melihat pergeseran pada pola investasi masyarakat yang sebelumnya cenderung berinvestasi terhadap aset-aset kripto berbasis aset alternatif, kini bergeser pada aset-aset dengan pergerakan yang cenderung stabil seperti $USDT,$ XAUT, dan $BTC. Hal ini didukung dengan hasil voting yang kami lakukan melalui platform Instagram di mana masyarakat memilih untuk menginvestasikan gaji nya pada $USDT” Ungkap Ryan.

Di sisi lain, minat terhadap aset kripto berpotensi tinggi juga terus meningkat. Tercatat, volume trading BTC/IDR pada platform Bittime melonjak hingga 27% per-WoW mencerminkan meningkatnya optimisme investor terhadap aset $BTC.

Hal ini dipicu kondisi psikologis pasar yang memandang depresiasi nilai aset $BTC saat ini sebagai momentum untuk menambah jumlah aset nya. Di mana, 6 bulan lalu nilai aset $BTC berada di kisaran $115.000-$120.000, dan dipercaya berpotensi untuk kembali bergerak ke level tersebut.

Selain kedua aset tersebut, aset kripto berbasis aset tradisional (TradFi) seperti Emas Tether ($XAUT) dan Silver ($SLVON) juga merupakan aset-aset yang paling banyak diperdagangkan dalam 24 jam terakhir pada platform Bittime. Sebagai aset-aset yang bergerak lebih stabil dibanding aset kripto lainnya, Emas dan Silver dinilai dapat menjadi “safe haven”, apalagi Bittime menghadirkan staking $XAUT dan $SLVON dengan imbal hasil tahunan (APY) hingga 10% bagi pengguna baru.

Baca Juga :  BRI Finance Bidik Pertumbuhan Pasar EV dengan Pembiayaan Bunga Mulai 3,97%

Bertepatan dengan pergeseran pola investasi masyarakat saat ini, sebagai platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan, Bittime menggelar program Bittime Mining Points.

Di mana, program tersebut memberikan insentif berupa poin bagi para investor berdasarkan pada aktivitas trading dan referral pada platform Bittime. Ini ditujukan sebagai bentuk dukungan dan apresiasi bagi para investor yang memanfaatkan aset kripto sebagai pilihan aset diversifikasi di tengah volatilitas pasar dampak ketegangan geopolitik yang terjadi saat ini.

Tentu perlu dipahami bahwa investasi sebaiknya tidak berdasar pada tren, melainkan pemahaman dan fundamental di baliknya.

Oleh karena itu, edukasi berkelanjutan mengenai manajemen risiko dan analisis fundamental makro ekonomi menjadi pondasi utama dalam membangun portofolio investasi yang sehat dan berkelanjutan di era digital ini.

Tentu, perlu dipahami bahwa aset kripto mengandung risiko tinggi yang termasuk fluktuasi harga, kehilangan modal, risiko likuiditas, teknologi, dan regulasi yang menjadi tanggung jawab pribadi pengguna. Karena itu sangat penting untuk terus melakukan riset, dan diskusi dengan komunitas-komunitas terpercaya. 

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Bekali Talenta Digital dengan Keterampilan Analisis Data, Telkom AI Center Bali Hadirkan Pelatihan Python Fundamental
Transaksi Kripto Turun 33%, tapi Investor Bertambah: Pasar RI Masih Menjanjikan?
KAI Logistik Kenalkan Green Logistics di Acara Green Movement Bersama Komunitas Peduli Lingkungan
KAI Bandara Layani 84 Ribu Penumpang Selama Libur Maulid Nabi, Mobilitas Masyarakat Tetap Lancar
Kenapa Gaji Naik tapi Tabungan Tetap Nol? Kenali Lifestyle Inflation dan Cara Mendeteksinya
Jaga Keselamatan dan Kenyamanan Pengguna, KAI Perkuat Kesiapan Petugas di Stasiun LRT Jabodebek
PTPP Raih Proyek Lanjutan Revitalisasi Terminal 1A Bandara Soekarno-Hatta Senilai Rp1,19 Triliun
Dorong Smart Hospital di Indonesia, teraMedik Resmi Kembangkan Teknologi AI Untuk Ekosistem Kesehatan.

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 16:02

Bekali Talenta Digital dengan Keterampilan Analisis Data, Telkom AI Center Bali Hadirkan Pelatihan Python Fundamental

Kamis, 27 Agustus 2026 - 16:02

Transaksi Kripto Turun 33%, tapi Investor Bertambah: Pasar RI Masih Menjanjikan?

Kamis, 27 Agustus 2026 - 16:02

KAI Logistik Kenalkan Green Logistics di Acara Green Movement Bersama Komunitas Peduli Lingkungan

Kamis, 27 Agustus 2026 - 16:02

KAI Bandara Layani 84 Ribu Penumpang Selama Libur Maulid Nabi, Mobilitas Masyarakat Tetap Lancar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 16:02

Kenapa Gaji Naik tapi Tabungan Tetap Nol? Kenali Lifestyle Inflation dan Cara Mendeteksinya

Kamis, 27 Agustus 2026 - 14:33

PTPP Raih Proyek Lanjutan Revitalisasi Terminal 1A Bandara Soekarno-Hatta Senilai Rp1,19 Triliun

Kamis, 27 Agustus 2026 - 14:02

Dorong Smart Hospital di Indonesia, teraMedik Resmi Kembangkan Teknologi AI Untuk Ekosistem Kesehatan.

Kamis, 27 Agustus 2026 - 14:02

UGC ECRL FS 02 Terpanjang di Malaysia, PLN NPC Raih Rating Bintang 5

Berita Terbaru