Koran Mandalika, Mataram – Seorang Warga Kota Mataram, MYF diduga menjadi korban penipuan di Myanmar. Awalnya, ia diiming-imingi bekerja trading, namum setelah sampai di sana ia justru dipaksa bekerja sebagai scammer.
Dalam video yang beredar, ia meminta pertolongan kepada pihak Kepolisian Indonesia. Korban juga mengaku akan dijual ke perusahaan lain.
“Saya mau dijual ke company lain karena saya sakit dari kemarin karena saya datang ke sini lewati hutan-hutan, terus nyebrang lewat sungai. Tolong dibantu pak ya, kalau bisa jemput saya di Myanmar,” ucapnya dalam video.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menanggapi hal itu, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTB menyampaikan bahwa saat ini korban sudah dalam keadaan aman.
“Setelah kita kontak dengan KBRI Yangon, Myanmar itu alhamdulillah sudah di monitor nih perkembangannya ini sekarang dia berada di kantor polisi, posisi aman,” kata Kepala Bidang Penempatan dan Perluasan Kerja Disnakertrans NTB, Isnanto Karyawan,” Senin (28/9).
Ia menjelaskan korban di kantor polisi bukan untuk ditahan, melainkan untuk mendapat pengamanan sebelum diserahkan ke KBRI.
“Di sana di kepolisian itu bukan dipenjara, diamankan. Jadi enggak dipenjara, dia dikasi makan, dikasi minum, pendataan, pengisian biodata di sana itu,” jelasnya.
Isnanto menuturkan bahwa korban merupakan PMI nonprosedural atau tida melalui jalur resmi.
“Dia berangkat PMI mandiri itu tanggal 5 September lewat Bali,” tuturnya.
Awalnya, korban dijanjikan berangkat ke Singapur, namun justru ia diberangkatkan ke negara berbeda.
“Dijanjikan sama agennya ke Singapur akan tetapi tidak ke Singapur, larinya ke Myanmar. Istilahnya ya TPPO istilahnya ini,” kata Isnanto.
Ia mengungkapkan bahwa korban juga pernah mendaftar sebagai PMI dan bekerja di Singapura sebelumnya.
“Informasi yang kita dapat dari orang tuanya pernah dia ke Singapur dulu. Jadi perkiraan dari orang tuanya ini dia ke Singapur. Ini yang kedua kali,” ungkapnya.
Ia menyampaikan terus melakukan komunikasi dengan pihak KBRI di Myanmar untuk memastikan kondisi dan penjadwalan pemulangan korban.
“Jadi koordinasi dengan KBRI masih terus kita lakukan untuk memperoleh kepastian tahapan selanjutnya maksudnya termasuk penjemputan atau pemindahan ke kepolisian menuju ke KBRI,” tandasnya. (dik)






