Baja Nasional, Pertahanan Nasional - Koran Mandalika

Baja Nasional, Pertahanan Nasional

Rabu, 28 Mei 2025 - 14:54

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dalam forum ISSEI 2025, PT Pindad menegaskan pentingnya baja nasional bagi kemandirian industri pertahanan melalui presentasi bertajuk “Baja Kuat, Pertahanan Tangguh, Indonesia Maju”. Saat ini, kebutuhan baja militer untuk kendaraan tempur dan senjata masih sepenuhnya bergantung pada impor, termasuk baja spesifikasi tinggi seperti 32CrMoV12.10. Untuk mengatasi ketergantungan ini, sejak 2025 Pindad menggandeng PT Krakatau Steel dan BRIN guna mengembangkan baja pertahanan dalam negeri, dimulai dari plat armor hingga teknologi presisi untuk senjata berat. Upaya ini bertujuan membangun ekosistem pertahanan nasional yang tangguh, dengan dampak ekonomi besar melalui substitusi impor dan pengembangan industri hulu-hilir. Forum ISSEI yang digelar 21–22 Mei 2025 menjadi wadah strategis lintas sektor dalam mendorong hilirisasi baja, investasi, dan kemandirian pertahanan Indonesia di tengah dinamika geopolitik global.

Dalam hiruk pikuk forum industri baja terbesar tahun ini, diskusi yang menyentuh urat nadi kedaulatan negara justru datang dari sektor yang kerap luput dari sorotan publik: pertahanan. Dalam salah satu sesi diskusi interaktif di ajang Indonesia Steel Summit & Exhibition Indonesia (ISSEI) 2025 yang lalu , PT Pindad tampil dengan nada lugas—Indonesia butuh baja nasional, bukan hanya untuk pembangunan sipil, tetapi untuk mempertahankan kedaulatan negara.

Dipaparkan oleh Prima Kharisma I.Y., Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad, materi bertajuk “Baja Kuat, Pertahanan Tangguh, Indonesia Maju” menegaskan satu pesan utama: industri pertahanan nasional tidak akan mandiri jika bahan bakunya, terutama baja berkualitas tinggi, terus bergantung pada impor.

Ketergantungan Baja Militer

Prima mengurai tantangan yang dihadapi industri alutsista dalam negeri. Untuk kebutuhan kendaraan tempur saja, Pindad membutuhkan sekitar 4.000 ton baja armor per tahun dan 2.000 ton baja struktural, namun hampir seluruhnya masih didatangkan dari luar negeri. Standar kualitas material untuk perlindungan dan presisi tinggi, seperti pada laras senapan dan tank, tidak bisa ditawar.

“Saat ini, baja untuk laras senapan SS2 masih seluruhnya diimpor, menggunakan spesifikasi tinggi seperti 32CrMoV12.10. Ini tidak bisa dibiarkan terus-menerus,” jelas Prima.

Hal serupa juga terjadi pada pengembangan kendaraan Maung, panser Anoa, dan tank Harimau. “Padahal kami punya roadmap industri, kami punya pasar, kami punya teknolog. Tapi kami tidak bisa maju jika fondasinya—yakni baja—masih kita beli dari luar,” tegasnya.

Langkah Konkret: Kolaborasi dan Peta Jalan

Guna menjawab persoalan itu, PT Pindad tidak tinggal diam. Sejak 2025, perusahaan telah memulai kolaborasi dengan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk dan BRIN untuk mengembangkan baja pertahanan dalam negeri. Tahap awal fokus pada plat armor untuk kendaraan ringan dan sedang.

Rencana jangka menengah hingga 2031 meliputi pembangunan pabrik bahan baku laras senapan, pengembangan billet baja berspesifikasi militer, serta teknologi pembentukan baja presisi tinggi untuk kebutuhan munisi kaliber besar dan sistem senjata berat.

Upaya ini bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan Pindad, tetapi juga membuka jalan bagi ekosistem pertahanan nasional yang mandiri dan berdaya saing.

Efek Berganda Ekonomi dan Teknologi

Dampaknya bukan hanya di sektor militer. Prima memaparkan bahwa pengembangan baja pertahanan juga membuka peluang ekonomi bernilai besar. “Untuk lima tahun ke depan, kebutuhan kendaraan dan munisi TNI diproyeksikan mencapai Rp122 triliun. Jika kita bisa memenuhi 30–40 persen saja dengan komponen dalam negeri, dampaknya luar biasa,” ujarnya.

Baca Juga :  Pasar Preloved Luxury Makin Panas, deGaiya Hadir sebagai Ekosistem Baru Barang Mewah Original di Indonesia

Efek berganda lainnya adalah kebangkitan industri hulu-hilir: dari manufaktur cetakan logam, pelapis, sampai rekayasa metalurgi lanjutan. Belum lagi dari sisi penguasaan teknologi strategis yang bisa menempatkan Indonesia sebagai produsen alutsista regional.

ISSEI 2025: Platform Strategis

Sesi ini merupakan bagian dari diskusi interaktif dalam ISSEI 2025 dan dipandu oleh Ketua Umum Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA), Akbar Djohan yang juga Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Forum ini mempertemukan pemerintah, pelaku industri baja, serta sektor pengguna seperti pertahanan, maritim, dan energi.

ISSEI 2025 digelar selama dua hari, 21–22 Mei 2025, di Jakarta Convention Center. Ajang ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara IISIA dan organisasi regional SEAISI (South East Asia Iron and Steel Institute). Tahun ini, ISSEI mengusung semangat “Baja Nasional, Daya Saing Regional”, dengan fokus pada hilirisasi, investasi berkelanjutan, transformasi hijau, dan kerja sama lintas negara di tengah tekanan geopolitik global.

Lebih dari 150 peserta pameran turut serta, dengan ribuan pengunjung dari kalangan profesional industri, akademisi, investor, dan pejabat pemerintah. ISSEI 2025 tak sekadar menjadi panggung teknologi dan bisnis baja, tetapi juga menjadi forum strategis untuk membangun fondasi kemandirian ekonomi dan pertahanan Indonesia ke depan. (*)

Image

Berita Terkait

DPD PAPPRI DKI Jakarta dan Ussy Pieters Entertainment Gelar “Festival Parade Band Sejabodetabek 2026” di DeHeng House Jakarta
Membangun Kesadaran Proteksi Usaha, BRI Insurance Dorong Literasi dan Inklusi Keuangan Asuransi di Pemantang Siantar
Bittime Tekankan Pentingnya Kepatuhan dan Perlindungan Konsumen di Industri Aset Digital
Samsung Sukses Meriahkan Jakarta Running Festival 2026: Galaxy Runners Station Dipadati Ribuan Pengunjung
Sanggabiz di KUMPUL Connect for Change SUMMIT 2026: Mendefinisikan Ulang Dampak Nyata untuk Bisnis yang Terintegrasi
Gaji Cepat Habis? Ini Cara Menyiapkan Dana Akhir Tahun Tanpa Mengganggu Keuangan Bulanan
Waskita Beton Precast Bangun Batching Plant Khusus untuk Proyek Jalan Tol Yogyakarta–Bawen Seksi 3
WhatsApp vs Live Chat untuk Customer Service, Mana Lebih Baik?

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 11:48

Usai Hadiri Toba Caldera Culture Festival, Menteri Ekonomi Kreatif Nikmati Pengalaman Danau Toba di Marianna Resort Samosir

Rabu, 14 Oktober 2026 - 06:17

Semakin Pede dengan GCG, PAM JAYA Raih Predikat “Sangat Baik”

Selasa, 13 Oktober 2026 - 09:22

LBFest 2026 Dorong Brand Lokal Karya Entrepreneur Muda BINUS ‘Naik Kelas’

Senin, 12 Oktober 2026 - 09:04

Minat Kendaraan Listrik Menguat, Pembiayaan EV BRI Finance Tumbuh 13,8 Kali

Minggu, 11 Oktober 2026 - 15:09

BRI BO Jatinegara Peringati Hari Kesaktian Pancasila dengan Khidmat dan Semangat Kebangsaan

Minggu, 11 Oktober 2026 - 14:52

BRI Region 6 Gelar Upacara Kesaktian Pancasila, Perkuat Semangat Kebangsaan Insan BRI

Selasa, 6 Oktober 2026 - 19:56

BRIDS Salurkan Bantuan untuk Dukung Pemulihan Pascagempa di Nusa Tenggara Timur

Selasa, 6 Oktober 2026 - 06:10

Waskita Beton Precast Kembali Tanam 228 Pohon pada September 2026, Lanjutkan Komitmen Pehijauan Bersama Pelanggan

Berita Terbaru