Belajar dari Gagal: Perjalanan Mathias Putra Menemukan Jati Diri Lewat Trading - Koran Mandalika

Belajar dari Gagal: Perjalanan Mathias Putra Menemukan Jati Diri Lewat Trading

Rabu, 2 Juli 2025 - 14:58

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di balik layar laptop, grafik naik-turun, dan jargon-jargon seperti “pip”, “lot”, dan “entry”, ada satu hal yang tidak banyak dibahas dalam dunia trading: identitas dan kedewasaan seorang trader.
Mathias Putra tidak lahir dari dunia finansial. Ia menemukannya di tengah kebingungan, saat pekerjaan tak lagi memberi arah, dan hidup terasa berjalan di tempat. Trading bukan sekadar profesi untuknya. Ia adalah ruang belajar, ladang ujian, sekaligus tempat ia menemukan ulang siapa dirinya.

Ketika Kegagalan Menjadi “Mentor”

Banyak orang menghindari kegagalan. Mathias justru menginvestasikan ratusan juta rupiah untuk mendekapnya. Bukan karena ia suka rugi, tapi karena ia sadar: kalau ingin menjadi trader yang kuat, kamu harus belajar dari kerugian yang paling menyakitkan.

Sejak awal, ia mengikuti puluhan seminar dan pelatihan, dari Jakarta sampai Hongkong. Ia duduk di ruang-ruang penuh grafik dan istilah teknikal, mencoba menyerap ilmu dari para fund manager internasional. Namun sayang, tidak ada satu pun ilmu yang langsung “mengubah hidup”. Yang ia dapatkan justru adalah tabungan pengalaman, dan tabungan kegagalan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia pernah rugi besar. Bahkan kehilangan aset yang ia bangun dari pekerjaan sebelumnya. Akan tetapi, bukan di situ ia berhenti. Justru saat bangkrut itulah ia menemukan cara pandang baru yang melahirkan satu sistem trading yang sangat efektif: trading dengan cara “bandar”.

Baca Juga :  Bagaimana Menentukan Budget yang Realistis untuk Mobil Baru?

Dari Kursi Kantor ke Kursi Trader

Sebelum menjadi pengajar dan praktisi yang dikenal hari ini, Mathias bekerja di sektor perbankan dan manufaktur. Gajinya cukup. Akan tetapi, ia sadar, hari-harinya terasa kosong. Ia ingin waktu yang lebih fleksibel dan hidup yang lebih bermakna.

Lalu, ia mengenal trading. Awalnya terdengar menjanjikan: modal kecil, peluang besar. Namun, begitu masuk ke dunia sesungguhnya, ia baru paham bahwa ini bukan ladang emas, ini arena mental. Yang bertahan bukan yang paling pintar, tapi yang paling disiplin dan bisa memaafkan diri saat salah langkah.

Big Boy Concept: Trading Dengan Cara “Bandar”

Workshop Big Boy Concept

Setelah 20 tahun bergelut, jatuh, bangkit, lalu jatuh lagi, Mathias membangun satu sistem yang ia sebut Big Boy Concept. Ini bukan strategi instan, ini juga pola pikir dan mentalitas dalam trading.

Beberapa prinsip utama dari strategi : 1) Jangan menahan posisi semalam, 2) Entry hanya setelah risiko dihitung, 3) Cut loss cepat, jangan baper, 4) Hindari overtrading dan euforia

Baca Juga :  Integrasi MiiTel dan Odoo: Solusi Panggilan Bisnis yang Lebih Efisien dan Terpusat

Sistem ini bukan sekadar teknikal, tapi filosofi. Karena bagi Mathias, “Profit itu hasil akhir. Tapi mental adalah fondasi. Dan pasar hanya menghargai mereka yang bisa bertahan,” ungkapnya dalam wawancara bersama Sekali Seumur Hidup.

Membangun Jalan untuk Orang Lain

Kini, Mathias mengajar. Bukan untuk jadi “guru profit”, tapi jadi teman seperjalanan. Lewat Big Boy Concept, ia membagikan pelajaran-pelajaran pahit agar orang lain tak harus menempuh jalan berdarah yang sama.

Ia percaya: Trading bukan soal kaya cepat, tapi soal jadi pribadi yang tahan uji.

Mathias tidak menjual mimpi. Ia menunjukkan realita. Bahwa di balik angka-angka dan candlestick, ada pribadi yang terus tumbuh. Bahwa uang bisa hilang, tapi pelajaran akan tinggal.

Dan kalau kamu sedang dalam fase terpuruk, mungkin kamu sedang dalam babak paling penting: babak pembentukan dirimu yang baru.

Trading mengajarkan satu hal: bukan siapa yang paling untung yang menang. Tapi siapa yang paling siap untuk gagal, lalu bangkit lebih cerdas.

Berita Terkait

Berbekal Psikologi dan Manajemen Risiko, Aryasatya Wishnutama Soroti Faktor Manusia dalam Bisnis Energi
Merasa Sehat? Belum Tentu Tulangmu Kuat Osteoporosis Bukan Cuma untuk Lansia
Bank Mandiri Taspen Raih Penghargaan Most Efficient Bank KBMI 2 di BIFA 2026
Harga Minyak WTI Berpotensi Melemah, Pasar Waspadai Risiko Geopolitik
Dupoin Futures Analisis Prospek Emas, Support US$4.146 Jadi Level Kunci
SCALECON 2027, Konferensi Agentic AI Untuk Bisnis Indonesia
BINUS @Semarang Dorong Transformasi Digital melalui Peluncuran Program Artificial Intelligence
Rayakan 12 Tahun, Waskita Beton Precast Hadirkan Berbagai Aksi Nyata melaluii Program TJSL

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 13:21

275 PMI NTB Dideportasi, Muazzim Akbar Ungkap 3 Penyebab Utama

Minggu, 11 Oktober 2026 - 17:35

Hotel Penuh, UMKM Ketiban Rezeki! Ini Dampak MotoGP Mandalika bagi NTB

Minggu, 11 Oktober 2026 - 12:48

Iqbal dan Dinda Satu Suara: Marquez! Sembeq Sasak Ikut Mengiringi

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 09:30

Bale Kita Hadir di BIZAM, Kerajinan NTB Makin Mendunia

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 07:10

Mandalika Street Food: Dari Keramaian MotoGP Menuju Destinasi Sepanjang Tahun

Jumat, 9 Oktober 2026 - 06:32

Bank NTB Syariah Kucurkan Beasiswa Rp111,6 Juta untuk 15 Mahasiswa Unram

Rabu, 7 Oktober 2026 - 19:40

Riders MotoGP Diserbu Fans di Mataram, Troy: Lebih Ramai dan Tertib

Rabu, 7 Oktober 2026 - 18:29

Marc Marquez Cs Sapa Warga Mataram, Penggemar: Biasanya Cuma Lihat di TV

Berita Terbaru