Dari Lahan Terbengkalai Jadi Harapan Baru, Kisah Tuah Bersatu di Pulau Kundur - Koran Mandalika

Dari Lahan Terbengkalai Jadi Harapan Baru, Kisah Tuah Bersatu di Pulau Kundur

Selasa, 5 Mei 2026 - 20:00

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dari Lahan Terbengkalai Jadi Harapan Baru, Kisah Tuah Bersatu di Pulau Kundur

Di banyak desa pesisir, penghidupan warga sangat bergantung pada musim dan cuaca. Ketika laut tenang, rezeki mengalir. Ketika ombak tinggi, pemasukan bisa berhenti. Dari isu tersebut, lahir kebutuhan untuk membangun usaha alternatif yang tetap berpijak pada potensi desa, agar ekonomi keluarga tidak hanya bertumpu pada satu sumber.

Tepatnya di Desa Sawang Laut, Pulau Kundur, Kepulauan Riau, lahan pesisir yang dulu terbengkalai kini mulai hidup kembali. Kelompok warga “Tuah Bersatu” perlahan membangun sumber penghasilan baru, dari budidaya ikan kakap putih hingga usaha turunan yang dikelola bertahap.

Ketua Kelompok Tuah Bersatu, Amran (46), bercerita bahwa inisiatif ini berangkat dari kegelisahan warga yang selama ini hanya bergantung pada hasil tangkapan laut. “Dulu kami ini nelayan, habis melaut ya sudah, istirahat. Tidak ada kegiatan lain. Dari situ kami berpikir bagaimana ada tambahan penghasilan,” ungkap Amran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berbekal lahan kosong di pesisir, kelompok ini mulai merintis budidaya kakap putih pada 2022 dan mulai berjalan aktif sejak 2023. Seiring waktu, usaha berkembang bertahap sesuai kesiapan kelompok—mulai dari hidroponik, produksi terasi, peternakan ayam petelur, hingga persiapan bank sampah.

Baca Juga :  Promosikan Pembiayaan Terjangkau, BRI Finance Ramaikan Prambanan Jazz 2025

“Awalnya kakap, lalu berkembang ke hidroponik dan terasi. Sekarang sudah masuk ayam petelur dan bank sampah. Semua bertahap,” kata Amran.

Dari sisi ekonomi, dampaknya mulai terasa. Dari unit peternakan ayam saja, kelompok mampu memasarkan sekitar 100 ekor ayam per bulan dengan omzet sekitar Rp10–12 juta. Sementara unit hidroponik yang dikelola kaum ibu setempat menjadi tumpuan baru melalui penjualan sayuran segar seperti pakcoy, selada, dan sawi manis.

“Memang belum besar, tapi sangat membantu ekonomi keluarga,” ucap Amran.

Menurut Amran, manfaat yang paling fundamental adalah peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Warga yang dulunya hanya memiliki keterampilan melaut, kini mulai menguasai teknik budidaya hingga manajemen usaha.

“Kami jadi banyak belajar, kenal dengan Kepala Dinas, dapat ilmu dari ahli. Itu yang paling terasa,” jelasnya.

Dalam perjalanan pengembangan, kelompok Tuah Bersatu mendapat pendampingan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Timah Tbk Anggota Holding Industri Pertambangan MIND ID, mulai dari pembukaan lahan hingga penguatan teknis dan pengembangan usaha secara bertahap.

Amran berharap pendampingan dapat terus berlanjut, khususnya dalam pengembangan pakan mandiri untuk budidaya ikan agar biaya operasional bisa ditekan. “Harapan kami program ini terus dikembangkan. Kami ingin lebih mandiri dan bisa membantu masyarakat lebih luas lagi,” harapnya.

Baca Juga :  KAI Divre III Palembang dan BPKARSS Optimalkan Perawatan Sarana di Depo LRT Untuk Kelancaran Operasional

Bagi warga Sawang Laut, perubahan ini bukan sekadar bantuan, melainkan proses belajar yang membuat mereka lebih percaya diri membangun usaha bersama. Di titik inilah Amran melihat pendampingan bukan hanya soal modal dan alat, tetapi juga ruang untuk tumbuh—dari nelayan yang selama ini bergantung pada hasil laut, menjadi kelompok yang mulai berani merancang masa depan ekonominya sendiri.

Program ini dijalankan melalui skema Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL, dan diarahkan untuk membangun ekosistem ekonomi lokal berbasis potensi desa, sehingga manfaatnya tidak berhenti pada satu komoditas, tetapi berkembang menjadi ragam sumber penghasilan yang lebih tahan uji.

Inisiatif yang menyentuh aspek sosial dan lingkungan ini sejalan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang dijalankan Grup. Atas konsistensi pengelolaan lingkungan dan dampak sosial yang dibangun di sekitar wilayah operasi, PT Timah Tbk meraih penghargaan PROPER Emas dan PROPER Hijau 2025 dari Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Perdagangan Internasional Tumbuh Pesat, Arus Peti Kemas Pelindo Naik 5,8%
BP Tapera dan BTN Perluas Akses Rumah Subsidi bagi Pekerja PT Nikomas Gemilang
Swiss-Belhotel Rainforest Kuta Hadirkan Akomodasi dan Fasilitas Meeting Nyaman di Jantung Wisata Pulau Dewata
Jawaban CS Terpotong-potong? Rapikan agar Biaya WhatsApp Lebih Efisien
Dari Konter HP Menjadi Pengusaha 7 Outlet BRILink, Ohim Abdurrohim Kembangkan Bisnis dan Tingkatkan Kesejahteraan Keluarga
Ada Cerita Cinta hingga Drama Skripsi di Dinding Sekolah dan Kampus, Cokelat Take-It Bisa Diambil di Tengah Cerita
Usai Raih World Artist of the Year, JessC Perluas Langkah Musik di Indonesia
Cara Membuat Website Toko Online Sendiri Sebelum 11.11 dan Harbolnas

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 07:28

Pemkab Loteng Kerahkan Ribuan Tim Pendamping Keluarga untuk Cegah Stunting

Senin, 2 November 2026 - 15:12

Panitia Pastikan Keabsahan Ijazah Kepala Desa Bunut Baok Terpilih, Terverifikasi di PKBM Dianda

Senin, 2 November 2026 - 07:26

DP3AP2KB Dorong Desa Perkuat Aturan Pernikahan Anak

Minggu, 1 November 2026 - 17:13

DP3AP2KB Loteng Petakan Perempuan Rentan, Siapkan Program 2027

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 12:54

MotoGP Mandalika 2026 Cetak Rekor Penonton, Peran Media NTB Dapat Apresiasi

Kamis, 29 Oktober 2026 - 16:28

Pembacokan Remaja di Mataram, LPA Soroti Tongkrongan hingga Dini Hari

Kamis, 29 Oktober 2026 - 11:14

Insentif Guru PPPK PW NTB Belum Jelas Kapan Cair

Kamis, 29 Oktober 2026 - 07:35

Cegah Pernikahan Anak, Dinas KB Loteng Bidik Kasus yang Tak Terlaporkan

Berita Terbaru