Koran Mandalika, Lombok Tengah – Berawal dari hobi setelah pensiun sebagai guru, Sahdi kini menekuni usaha kerajinan rotan di Kelurahan Leneng, Lombok Tengah. Tak hanya memproduksi kerajinan, Sahdi juga membuka pelatihan menganyam secara gratis bagi masyarakat.
Menariknya, Sahdi tidak hanya memberikan ilmu, tetapi juga menyiapkan bahan bagi warga yang ingin belajar membuat berbagai jenis kerajinan rotan. Aktivitas tersebut menjadi cara Sahdi mengisi waktu luang sekaligus menghasilkan tambahan pendapatan.
“Saya juga hobi menganyam berbagai jenis kerajinan. Di sini ada kap lampu rotan yang dominan,” kata Sahdi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam menjalankan usaha tersebut, Sahdi dibantu sang istri. Ketika pesanan meningkat, sejumlah anggota keluarganya turut membantu proses produksi.
Ia mengatakan, sebagian besar kerajinan dibuat berdasarkan pesanan pelanggan. Sementara produk lainnya dikirim ke Bali.
“Rata-rata kami membuat sesuai pesanan pembeli. Selebihnya, kami kirim ke Bali,” jelasnya.
Meski mulai dikenal, usaha Sahdi masih menghadapi sejumlah kendala. Di antaranya keterbatasan peralatan, bahan baku, pemasaran hingga tenaga kerja.
Untuk pemasaran, Sahdi terbantu oleh anaknya yang bekerja di sebuah perusahaan travel. Sesekali, sang anak membawa wisatawan berkunjung ke lokasi usaha untuk melihat sekaligus membeli produk kerajinan.
“Kami juga dibantu oleh anak yang bekerja di travel agent. Dia kadang mendatangkan tamunya ke sini untuk membeli produk kami,” ujarnya.
Sejumlah produk kerajinan Sahdi juga telah dibeli pihak hotel. Bahkan, beberapa pengusaha di kawasan Gili telah memesan dan menggunakan produk kerajinan tersebut.
Melihat potensi itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lombok Tengah, Lalu Setiawan, menyatakan siap memberikan dukungan terhadap pengembangan usaha Sahdi.
Menurut Setiawan, ketekunan dan kreativitas Sahdi merupakan potensi yang layak mendapat perhatian pemerintah daerah. Terlebih, Sahdi secara sukarela membuka pelatihan bagi masyarakat dan menyediakan bahan untuk praktik.
“Ini luar biasa. Artinya, dengan ketekunan beliau dan kreativitasnya tentu ini menjadi aset pemerintah daerah. Terlebih beliau sukarela melatih orang dan mengeluarkan bahan,” kata Setiawan.
Setiawan mengaku baru mengetahui keberadaan usaha tersebut setelah mendapat informasi. Ia menilai, apabila terus dikembangkan, produk kerajinan rotan Sahdi memiliki peluang untuk menembus pasar yang lebih luas, bahkan hingga ekspor.
“Kalau usaha ini berkembang maka bisa ekspor. Sekarang baru ngesup. Belum bisa ekspor langsung,” bebernya.
Ia berjanji akan berupaya memenuhi kebutuhan Sahdi dalam mengembangkan usaha, termasuk peralatan dan bahan baku. Lokasi usaha tersebut juga dinilai cukup layak untuk dijadikan tempat pelatihan.
“Kita coba penuhi alat dan bahan. Tempatnya ini juga cukup layak untuk dijadikan lokasi pelatihan. Beliau bisa langsung jadi mentornya,” ucap Setiawan.
Salah satu kebutuhan yang dinilai mendesak adalah alat pemanas bahan baku untuk memudahkan proses produksi.
“Butuh alat memintal atau pemanas bahan. Besok saya ajak orang yang bisa buat ke sini agar dibuatkan sesuai keinginan,” terang Setiawan.
Sementara terkait pemasaran, Disperindag Lombok Tengah berencana mengkolaborasikan usaha Sahdi dengan para pengusaha kerajinan di Desa Beleka.
Di tempat yang sama, Anggota Komisi II DPRD Lombok Tengah, Haji Ahmad Supli, mengatakan kunjungan tersebut dilakukan agar pemerintah daerah mengetahui secara langsung adanya warga yang memiliki kemampuan memproduksi kerajinan.
“Ke depannya, apa yang dibutuhkan Pak Sahdi dalam mengembangkan usahanya bisa dipenuhi oleh dinas terkait,” kata Haji Supli.
Politikus Fraksi PKS tersebut menegaskan, pemerintah harus hadir memberikan dukungan kepada masyarakat yang memiliki keterampilan dan kemauan untuk mengembangkan usaha.
Menurutnya, dukungan pemerintah tidak hanya dibutuhkan dalam bentuk bantuan alat dan bahan, tetapi juga penguatan pemasaran agar produk kerajinan lokal mampu berkembang dan memiliki pasar yang lebih luas. (wan)






