Harga Bitcoin Terancam Turun di Bawah US$80.000, Investor Pantau Keputusan The Fed - Koran Mandalika

Harga Bitcoin Terancam Turun di Bawah US$80.000, Investor Pantau Keputusan The Fed

Selasa, 27 Oktober 2026 - 15:02

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Harga Bitcoin Terancam Turun di Bawah US.000, Investor Pantau Keputusan The Fed

Harga Bitcoin (BTC) menghadapi tekanan menjelang pekan terakhir Oktober 2026. Aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar ini berupaya mempertahankan level psikologis US$80.000 di tengah meningkatnya perhatian investor terhadap keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed), data inflasi Amerika Serikat, serta laporan keuangan sejumlah perusahaan teknologi besar.

Mengutip laporan Cointelegraph pada 26 Oktober 2026, Bitcoin berisiko menutup Oktober dengan penurunan sekitar 4% apabila harga bertahan di sekitar US$80.000 hingga akhir bulan. Kondisi tersebut berlawanan dengan reputasi Oktober sebagai periode yang secara historis kerap mencatatkan kenaikan harga Bitcoin, sehingga dikenal dengan istilah “Uptober”.

Tekanan pasar terlihat ketika Bitcoin sempat turun ke US$79.145 pada akhir pekan. Penurunan tersebut memicu likuidasi posisi long senilai hampir US$150 juta dalam kurun waktu sekitar dua jam. Posisi long merupakan strategi perdagangan yang memperoleh keuntungan ketika harga aset naik, tetapi dapat mengalami kerugian ketika harga bergerak berlawanan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Level US$80.000 Jadi Penentu Pergerakan Bitcoin

Level US$80.000 menjadi perhatian karena merupakan batas psikologis penting bagi pelaku pasar. Ketika harga bergerak di bawah level tersebut, kekhawatiran terhadap kelanjutan tren pelemahan dapat meningkat, terutama jika tekanan jual terus mendominasi perdagangan.

Data CoinGlass yang dikutip Cointelegraph menunjukkan adanya kumpulan pesanan beli di sekitar US$79.300 dengan nilai sekitar US$73 juta. Sementara itu, pesanan jual terlihat terkonsentrasi di sekitar US$81.000. Konsentrasi pesanan tersebut dapat menjadi salah satu petunjuk mengenai area yang sedang diperhatikan oleh trader, meskipun tidak menjamin harga akan bergerak ke arah tertentu.

Baca Juga :  Priska Sahanaya Hadir di SD dan SMP Sint. Joseph Bersama Pronas dan Sinotif: Menguasai Public Speaking dengan 4 Teknik Presentasi Ampuh

Dari sisi historis, Bitcoin biasanya mencatatkan kenaikan rata-rata sekitar 26,1% selama Oktober sejak 2010. Namun, Oktober 2025 dan Oktober 2026 menunjukkan pola yang berbeda. Pada Oktober 2025, Bitcoin turun sekitar 3,9%, kemudian melanjutkan pelemahan pada November dengan penurunan sekitar 17,5%.

Analis Benjamin Cowen dari Into the Cryptoverse juga menilai bahwa kenaikan Bitcoin menuju US$87.000 pada akhir September dan awal Oktober belum menunjukkan pemulihan yang meyakinkan. Area US$87.000 menjadi zona resistensi penting karena berdekatan dengan harga pembukaan tahunan Bitcoin pada US$87.490 dan rata-rata pergerakan 20 bulan di US$87.165.

Meski demikian, pergerakan harga selanjutnya tetap bergantung pada kondisi pasar, permintaan investor, dan perkembangan ekonomi global. Level support maupun resistensi merupakan acuan analisis, bukan jaminan arah pergerakan harga.

Keputusan Suku Bunga The Fed Jadi Katalis Pasar

Selain faktor teknikal, perhatian investor tertuju pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan pada Rabu, 28 Oktober 2026. Pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,75%–4%, dengan probabilitas lebih dari 90% berdasarkan data yang dikutip Cointelegraph.

Walaupun keputusan mempertahankan suku bunga diperkirakan menjadi skenario utama, investor akan mencermati pernyataan bank sentral dan konferensi pers ketuanya untuk memperoleh petunjuk mengenai arah kebijakan moneter selanjutnya. Pasar juga memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 0,25 poin persentase pada Desember.

Baca Juga :  Kopi sebagai Bagian dari Rutinitas, Bagaimana Agar Tidak Buat Dompet Boncos?

Harga minyak turut menjadi faktor yang memengaruhi ekspektasi tersebut. Minyak mentah Brent sempat menyentuh US$117 per barel pada Jumat, sebelum turun ke sekitar US$110 pada Senin. Kenaikan harga energi berpotensi memperbesar tekanan inflasi, sehingga dapat mempersulit langkah The Fed dalam melonggarkan kebijakan moneter.

Pada Kamis, 29 Oktober 2026, investor juga akan memantau indeks Personal Consumption Expenditures (PCE), salah satu indikator inflasi yang menjadi perhatian utama The Fed. Data tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi suku bunga dan sentimen terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin.

Laporan Keuangan Big Tech Ikut Memengaruhi Sentimen

Faktor lain yang perlu dicermati adalah laporan keuangan perusahaan teknologi Amerika Serikat. Microsoft dan Alphabet dijadwalkan merilis hasil kuartal III setelah penutupan pasar pada Rabu, sedangkan Amazon dan Intel menyusul pada Kamis.

Menurut Cointelegraph, sekitar 20% perusahaan dalam indeks S&P 500 dijadwalkan melaporkan kinerja keuangan selama pekan tersebut. Investor akan menilai apakah pertumbuhan pendapatan perusahaan teknologi mampu mengimbangi besarnya belanja modal, khususnya untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI) dan infrastruktur pusat data.

Pergerakan saham teknologi dapat memengaruhi sentimen pasar secara lebih luas. Ketika investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, Bitcoin juga berpotensi menghadapi tekanan. Sebaliknya, hasil keuangan yang kuat dan prospek bisnis yang positif dapat membantu memperbaiki sentimen, meskipun dampaknya terhadap harga kripto tidak selalu searah.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

BRI Finance Gandeng RS PON, Tingkatkan Kesadaran Kesehatan Mitra Dealer
BRI Finance Dukung Kepemilikan Mobil Baru melalui Penawaran Pembiayaan Kompetitif
Omzet Tinggi Tak Selalu Berarti Bisnis Sehat, Harsha Advisory Soroti Tantangan Keuangan Industri F&B
Mengintip Keseruan Pesta Halloween Anak Anak “Día de los Muertos” di Oakwood Surabaya
Dari Pertemuan Bisnis Menuju Nilai Ekonomi
Empat Tahun UU Pelindungan Data Pribadi: Menghitung Hari Menuju Efektivitas Peraturan Teknis (PP PDP)
Bikin Rencana Lebih Nyata, Manfaatkan Fasilitas Dana Tunai BRI Finance
Harga Emas Kembali di Atas US$4.000, Dupoin Futures Soroti Potensi Rebound

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 15:02

BRI Finance Gandeng RS PON, Tingkatkan Kesadaran Kesehatan Mitra Dealer

Selasa, 27 Oktober 2026 - 15:02

BRI Finance Dukung Kepemilikan Mobil Baru melalui Penawaran Pembiayaan Kompetitif

Selasa, 27 Oktober 2026 - 15:02

Harga Bitcoin Terancam Turun di Bawah US$80.000, Investor Pantau Keputusan The Fed

Selasa, 27 Oktober 2026 - 14:02

Omzet Tinggi Tak Selalu Berarti Bisnis Sehat, Harsha Advisory Soroti Tantangan Keuangan Industri F&B

Selasa, 27 Oktober 2026 - 14:02

Mengintip Keseruan Pesta Halloween Anak Anak “Día de los Muertos” di Oakwood Surabaya

Selasa, 27 Oktober 2026 - 12:02

Empat Tahun UU Pelindungan Data Pribadi: Menghitung Hari Menuju Efektivitas Peraturan Teknis (PP PDP)

Selasa, 27 Oktober 2026 - 11:02

Bikin Rencana Lebih Nyata, Manfaatkan Fasilitas Dana Tunai BRI Finance

Selasa, 27 Oktober 2026 - 11:02

Harga Emas Kembali di Atas US$4.000, Dupoin Futures Soroti Potensi Rebound

Berita Terbaru