Harga Bitcoin Tertahan di Bawah $100.000, Pasar Menunggu Katalis Baru - Koran Mandalika

Harga Bitcoin Tertahan di Bawah $100.000, Pasar Menunggu Katalis Baru

Selasa, 29 April 2025 - 11:19

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, 29 April 2025 – Harga Bitcoin (BTC) masih belum mampu menembus batas psikologis $100.000 meskipun menunjukkan ketahanan yang kuat dalam beberapa pekan terakhir. Pergerakan harga Bitcoin naik sekitar 11% antara 20 hingga 26 April 2025, bertahan di dekat level tertinggi dua bulannya di kisaran $94.000 hingga $95.500.

Menurut Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, mencatat bahwa lonjakan harga ini didorong oleh sejumlah faktor, termasuk pelonggaran ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan China serta laporan laba perusahaan teknologi di Amerika Serikat yang lebih baik dari perkiraan. Kepercayaan investor juga terlihat dari rekor arus masuk bersih sebesar $3,1 miliar ke dalam ETF Bitcoin spot selama periode lima hari.

“Namun, meski ada reli, harga Bitcoin tetap tertahan di bawah $100.000 sejak Februari. Kami menilai bahwa absennya katalis kuat, seperti perubahan kebijakan moneter atau lonjakan permintaan baru, membuat BTC masih bergerak dalam fase konsolidasi,” jelasnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Firma perdagangan QCP Capital dalam laporannya menyebutkan bahwa pelemahan korelasi Bitcoin dengan saham menyoroti independensinya yang meningkat sebagai aset, berbeda dari sebelumnya yang sering bergerak seiring dengan pasar saham. Meski demikian, QCP Capital mengingatkan bahwa tanpa katalis eksternal yang kuat, Bitcoin kemungkinan akan tetap bergerak dalam kisaran $90.000–$94.500 dalam waktu dekat.

Baca Juga :  Asia Memasuki Era Keemasan Olahraga Raket, Indonesia Muncul sebagai Pasar dengan Pertumbuhan Pesat

Sementara itu, Fyqieh menilai bahwa pelaku pasar saat ini masih menahan diri untuk masuk lebih agresif ke Bitcoin karena ketidakpastian dari arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

Saat ini pelaku pasar menahan diri untuk masuk lebih agresif ke Bitcoin karena belum ada kejelasan apakah The Fed akan memangkas suku bunga. Tanpa katalis kuat, seperti pemangkasan suku bunga atau sentimen makroekonomi positif lainnya, Bitcoin kemungkinan besar akan tetap dalam pola konsolidasi,” ujar Fyqieh.

Potensi Bitcoin di Bulan Mei 2025

Ilustrasi pergerakan harga Bitcoin di aplikasi Tokocrypto. Sumber: Tokocrypto

Fyqieh menambahkan, pelaku pasar juga masih mencermati hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada awal Mei, yang kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga di kisaran 425–450 basis poin. Data CME FedWatch menunjukkan peluang sebesar 91% bahwa The Fed tidak akan melakukan pemangkasan suku bunga pada pertemuan mendatang.

“Di sisi lain, likuidasi besar-besaran di pasar derivatif baru-baru ini juga berkontribusi pada kembalinya Bitcoin ke level $95.000. Banyak posisi short yang dipaksa ditutup, mempercepat kenaikan harga dalam waktu singkat,” tambahnya.

Baca Juga :  Lintasarta Perkuat Ekosistem AI Nasional melalui Semesta AI dengan Dukungan dari Program NVIDIA Inception

Dari sisi sentimen investor, posisi institusional terlihat lebih optimistis dibandingkan dengan pedagang ritel. Arus masuk besar ke ETF Bitcoin menjadi sinyal kuat bahwa investor institusi masih melihat potensi apresiasi harga, meskipun indikator derivatif utama mulai menunjukkan tanda-tanda momentum bearish.

Fyqieh mengungkapkan bahwa kurangnya permintaan berkelanjutan dan masuknya modal baru dari ritel menjadi hambatan tambahan bagi Bitcoin untuk menembus $100.000.

Pasar saat ini juga menanti rilis data inflasi Produk Domestik Bruto (PDB) dan Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS pada 30 April. Data ini diperkirakan akan mempengaruhi ekspektasi terhadap keputusan suku bunga ke depan. Pelonggaran kebijakan moneter di masa depan berpotensi menjadi katalis penting untuk mendorong Bitcoin menembus rekor harga baru.

“Meskipun banyak tantangan di depan mata, ketahanan Bitcoin di tengah volatilitas makroekonomi menunjukkan bahwa aset ini semakin matang dan mandiri dibandingkan periode-periode sebelumnya,” pungkas Fyqieh.

Berita Terkait

Slow Living Jadi Tujuan Finansial Baru Anak Muda, Kenapa Banyak yang Mulai Mengejarnya?
Libur Panjang 14–17 Mei 2026, Transportasi Publik Jadi Pilihan Masyarakat Menuju Berbagai Destinasi di Jabodebek
BRI Finance Perkuat Diversifikasi Pembiayaan, Alat Berat Tumbuh Positif di Kuartal I 2026
Awal 2026 Positif, Pembiayaan Multiguna BRI Finance Tumbuh 37,47%
Motor Premium Kian Terjangkau, BRI Finance Hadirkan Pembiayaan Kompetitif untuk Touring
Momentum Hardiknas, BRI Finance Permudah Akses Pembiayaan Pendidikan
Dominasi Pasar Kosmetik 2026: Mengapa Maklon Kosmetik Bersama Efba Group Adalah Investasi Paling Logis
NarayaOne Bawa Nama Jawa Timur ke CommunicAsia 2026: Dari Surabaya Menuju Panggung Digital Asia

Berita Terkait

Kamis, 14 Mei 2026 - 21:00

Slow Living Jadi Tujuan Finansial Baru Anak Muda, Kenapa Banyak yang Mulai Mengejarnya?

Kamis, 14 Mei 2026 - 21:00

Libur Panjang 14–17 Mei 2026, Transportasi Publik Jadi Pilihan Masyarakat Menuju Berbagai Destinasi di Jabodebek

Kamis, 14 Mei 2026 - 19:00

BRI Finance Perkuat Diversifikasi Pembiayaan, Alat Berat Tumbuh Positif di Kuartal I 2026

Kamis, 14 Mei 2026 - 19:00

Awal 2026 Positif, Pembiayaan Multiguna BRI Finance Tumbuh 37,47%

Kamis, 14 Mei 2026 - 19:00

Motor Premium Kian Terjangkau, BRI Finance Hadirkan Pembiayaan Kompetitif untuk Touring

Kamis, 14 Mei 2026 - 16:00

Dominasi Pasar Kosmetik 2026: Mengapa Maklon Kosmetik Bersama Efba Group Adalah Investasi Paling Logis

Kamis, 14 Mei 2026 - 15:00

NarayaOne Bawa Nama Jawa Timur ke CommunicAsia 2026: Dari Surabaya Menuju Panggung Digital Asia

Kamis, 14 Mei 2026 - 12:00

Jasa Marga Proyeksi Lebih Dari 1,5 Juta Kendaraan Keluar-Masuk Jabotabek Selama Libur Panjang Hari Kenaikan Yesus Kristus 2026

Berita Terbaru