Kedutaan Besar India Dorong Impor Urea dari Indonesia untuk Perkuat Ketahanan Pangan - Koran Mandalika

Kedutaan Besar India Dorong Impor Urea dari Indonesia untuk Perkuat Ketahanan Pangan

Jumat, 17 April 2026 - 17:00

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kedutaan Besar India Dorong Impor Urea dari Indonesia untuk Perkuat Ketahanan Pangan

Jakarta — Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty bertemu dengan Wakil Menteri Pertanian RI, Sudaryono di Jakarta, Kamis (16/4/2026) lalu. Pertemuan tersebut dilakukan demi mendorong kerja sama impor pupuk urea dari Indonesia guna mengamankan pasokan pupuk bagi musim tanam India mendatang melalui skema antar pemerintah di tengah dinamika global rantai pasok pertanian.

Langkah ini menegaskan pendekatan aktif India dalam memperluas sumber pasokan pupuk strategis, sekaligus mencerminkan meningkatnya peran Indonesia sebagai mitra potensial dalam menjaga stabilitas pangan kawasan dan global.

Dorongan dari pihak Kedutaan India juga memperlihatkan bahwa isu pupuk kini tidak lagi sekadar persoalan teknis pertanian, tetapi telah menjadi bagian dari diplomasi ekonomi dan ketahanan nasional. Dalam beberapa tahun terakhir, fluktuasi harga energi global, gangguan rantai pasok, hingga dinamika geopolitik telah mempengaruhi ketersediaan pupuk di berbagai negara, termasuk India yang memiliki kebutuhan sangat besar untuk menopang sektor pertaniannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kedutaan India Soroti Stabilitas Pasokan Pangan

Kerja sama ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk memastikan keberlanjutan sektor pertanian nasional. Fokus pembahasan tidak hanya terbatas pada perdagangan pupuk, tetapi juga mencakup isu yang lebih luas seperti ketahanan pangan dan ketersediaan sarana produksi.

“Diskusi yang komprehensif dan produktif bersama Pak Sudaryono mengenai kerja sama pertanian bilateral termasuk ketahanan pangan dan ketersediaan input (sarana produksi),” ujar Dubes Sandeep.

Ia menegaskan bahwa India melihat Indonesia sebagai mitra yang kredibel dalam menjawab kebutuhan pupuk, khususnya urea, yang menjadi komponen penting dalam mendukung produktivitas pertanian.

“Pak Sudaryono telah menyampaikan dengan sangat jelas bahwa ekspor hanya akan dilakukan setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi. Jika terdapat surplus, maka kami akan sangat senang untuk membelinya dari Indonesia melalui skema kerja sama antar pemerintah,” tutupnya.

Pernyataan ini sekaligus menunjukkan bahwa India tidak hanya mencari pemasok, tetapi juga mengedepankan model kerja sama yang stabil, terukur, dan berbasis kesepahaman antar pemerintah. Skema seperti ini dinilai penting untuk meminimalkan risiko volatilitas pasar global yang sering kali berdampak pada harga dan ketersediaan pupuk.

Baca Juga :  Ini Dia Deretan Pertanyaan yang Paling Sering Ditanyakan Pencari Properti untuk Investasi

Indonesia Buka Peluang, Tetap Prioritaskan Domestik

Di sisi lain, pemerintah Indonesia menyambut positif minat tersebut, dengan tetap menegaskan prinsip kehati-hatian dalam kebijakan ekspor. Sudaryono menyampaikan bahwa pembahasan ini juga menjadi bagian dari upaya Indonesia untuk berkontribusi tanpa mengorbankan kebutuhan nasional.

“Hari ini kami mendiskusikan salah satu topik utamanya adalah bagaimana India itu kemudian bisa mengamankan kebutuhan pasokan ureanya yang salah satu sumbernya adalah berasal dari Indonesia,” ujar Sudaryono.

Indonesia saat ini memiliki potensi surplus produksi urea sekitar 1,5 juta ton. Namun, ekspor hanya akan dilakukan setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi secara optimal guna menjaga stabilitas produksi pertanian dan ketahanan pangan nasional.

Pendekatan ini mencerminkan strategi pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara peluang ekonomi dari ekspor dan tanggung jawab menjaga pasokan domestik. Dalam konteks ini, pupuk menjadi komoditas strategis yang tidak bisa diperlakukan semata-mata sebagai barang dagangan biasa.

Momentum dari Perbedaan Musim Tanam

Kerja sama ini juga diperkuat oleh faktor teknis yang menguntungkan kedua negara, yakni perbedaan siklus musim tanam. India memasuki periode tanam utama pada Juli hingga September, sementara Indonesia berada dalam fase aktivitas yang relatif lebih rendah.

Perbedaan ini memberikan fleksibilitas dalam pengaturan distribusi pupuk, sehingga Indonesia dapat mengalokasikan sebagian produksinya untuk ekspor tanpa mengganggu kebutuhan petani dalam negeri. Hal ini menjadi salah satu alasan utama mengapa kerja sama ini dinilai realistis untuk direalisasikan dalam waktu dekat.

Selain itu, momentum ini juga memperlihatkan bagaimana koordinasi lintas negara dalam sektor pertanian dapat menghasilkan solusi yang saling menguntungkan, terutama dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

Industri Pupuk Nasional Siap, Tapi Selektif

Kesiapan Indonesia turut didukung oleh kapasitas produksi yang kuat. Direktur Utama Pupuk Indonesia Holding Company, Rahmad Pribadi, menegaskan bahwa ekspor akan tetap dilakukan secara terukur dan mengikuti siklus pertanian nasional.

Baca Juga :  Kenaikan Harga BBM Tekan Biaya Operasional Mobil Mewah, Pemilik Mulai Cari Alternatif Likuiditas

“Kita ekspor ketika kebutuhan dalam negeri mencukupi. Kalau hitungan total nasional kan ada ekses tapi kita tahu ada musim tanam dan musim di luar tanam. Kita tidak mungkin ekspor saat musim tanam,” jelas Rahmad.

Ia juga memastikan bahwa stok pupuk nasional berada dalam kondisi aman.

“Saat ini (stok pupuk) 1,2 juta ton, ditambah produksi harian sekitar 25.000 ton urea dan 15.000 ton NPK. Jadi sangat cukup,” ujarnya.

Dengan kapasitas produksi yang mencapai puluhan juta ton per tahun, Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk memainkan peran lebih besar di pasar global. Namun, kehati-hatian tetap menjadi prinsip utama agar tidak terjadi gangguan pada distribusi dalam negeri.

Diplomasi Pertanian dan Peran Global Indonesia

Dorongan dari Kedutaan India ini mencerminkan penguatan diplomasi berbasis pangan di tengah tekanan global terhadap rantai pasok pupuk. Kebutuhan pupuk yang tinggi, ditambah dengan ketidakpastian pasokan global, membuat negara-negara mulai mencari mitra yang stabil dan dapat diandalkan.

Bagi India, Indonesia menawarkan kombinasi antara kapasitas produksi, kedekatan geografis, dan hubungan bilateral yang kuat. Sementara itu, bagi Indonesia, kerja sama ini membuka peluang untuk memperluas pengaruhnya dalam isu ketahanan pangan global.

Lebih jauh, langkah ini juga memperlihatkan transformasi peran Indonesia dari sekadar produsen domestik menjadi aktor strategis dalam ekosistem pangan dunia. Dengan pengelolaan yang tepat, kerja sama seperti ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi internasional berbasis sektor riil.

Pembahasan teknis antara pelaku industri pupuk kedua negara akan menjadi penentu realisasi kerja sama ini. Namun satu hal yang jelas, arah kolaborasi sudah terbentuk menuju kemitraan yang tidak hanya berbasis kebutuhan jangka pendek, tetapi juga visi jangka panjang dalam menjaga ketahanan pangan global.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Perkuat Akses Perlindungan Pekerja, BRI BO Wonosari Bersinergi dengan BPJS Ketenagakerjaan melalui BRILink Agen
Kapan Harus Membayar Pinjaman? Pahami Jatuh Tempo dan Pilihan Pelunasan Lebih Awal
NEXTGEN MANAGER 2026 – KESEMPATAN UNTUK MENGUJI DAN MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN MANAJERIAL
BRI Unit Ciracas Konsisten Dukung Pelaku UMKM Menjadikan Atin Kurniawati Sukses Kembangkan Usaha Siomay dan Batagor Berkat KUR BRI
Kawal Hilirisasi dan Kedaulatan Mineral, MIND ID Gandeng KPK Integrasikan WBS
Sebelum Gadai Barang Mewah, Konsumen Perlu Memeriksa Legalitas hingga Ketentuan Penebusan
Pasar Kripto Dilanda Extreme Fear, Bitcoin Hadapi Tekanan Baru
Perkuat Penanganan Dampak Karhutla, Elnusa Petrofin Pasok Alat Medis untuk 3 Rumah Oksigen di Kalsel

Berita Terkait

Minggu, 8 November 2026 - 21:02

Perkuat Akses Perlindungan Pekerja, BRI BO Wonosari Bersinergi dengan BPJS Ketenagakerjaan melalui BRILink Agen

Minggu, 8 November 2026 - 20:02

Kapan Harus Membayar Pinjaman? Pahami Jatuh Tempo dan Pilihan Pelunasan Lebih Awal

Minggu, 8 November 2026 - 19:02

NEXTGEN MANAGER 2026 – KESEMPATAN UNTUK MENGUJI DAN MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN MANAJERIAL

Minggu, 8 November 2026 - 18:02

BRI Unit Ciracas Konsisten Dukung Pelaku UMKM Menjadikan Atin Kurniawati Sukses Kembangkan Usaha Siomay dan Batagor Berkat KUR BRI

Minggu, 8 November 2026 - 15:02

Sebelum Gadai Barang Mewah, Konsumen Perlu Memeriksa Legalitas hingga Ketentuan Penebusan

Minggu, 8 November 2026 - 14:02

Pasar Kripto Dilanda Extreme Fear, Bitcoin Hadapi Tekanan Baru

Minggu, 8 November 2026 - 12:02

Perkuat Penanganan Dampak Karhutla, Elnusa Petrofin Pasok Alat Medis untuk 3 Rumah Oksigen di Kalsel

Minggu, 8 November 2026 - 08:02

Kenali Keunggulan Charm Pantyliner Cooling Fresh

Berita Terbaru