Kisah Anak Petani yang Nekat Bisnis Properti : Jatuh Bangun Ali Jadi Raja Properti - Koran Mandalika

Kisah Anak Petani yang Nekat Bisnis Properti : Jatuh Bangun Ali Jadi Raja Properti

Kamis, 10 April 2025 - 10:00

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

“Bukan uang yang utama, tapi bagaimana kita bisa bermanfaat bagi banyak orang.”
Kalimat ini bukan sekadar kutipan motivasi, tapi prinsip hidup yang terus dipegang teguh oleh Ali Sarbani. Pria kelahiran Kudus, Jawa Tengah ini membuktikan bahwa mimpi besar bisa tumbuh dari sawah, dan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti melangkah.
Dari anak petani hingga menjadi pengembang properti dengan ratusan unit proyek, inilah kisah jatuh bangun Ali Sarbani membangun impian.

Dari Sketsel Rumah ke Mimpi Besar

Ali tumbuh di keluarga sederhana. Ayahnya seorang petani, ibunya ibu rumah tangga. Tidak ada warisan bisnis, koneksi, apalagi latar belakang teknik atau desain. Tapi mimpi besar bisa muncul dari mana saja, bahkan dari gambar rumah di balik sekat ruang tamu.

“Di rumah kami ada sketsel pembatas antara ruang depan dan ruang belakang. Di situ ada gambar rumah dan mobil. Bapak bilang, ‘Biar anak-anakku suatu saat punya rumah dan mobil,'” kenang Ali.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ucapan sederhana itu tumbuh jadi cita-cita yang diam-diam ia genggam.

Merantau, Jatuh, dan Mencari Arah

Tahun 1995, Ali merantau ke Semarang untuk kuliah sambil bekerja. Krisis ekonomi ’97-’98 memukul keras kehidupan keluarganya. Ali akhirnya mencoba peruntungan lain dengan masuk ke bisnis jual beli handphone second. Sepuluh tahun ia geluti bisnis itu, tapi penghasilannya bahkan belum cukup untuk membeli rumah seperti yang ia cita-citakan sewaktu kecil.

Tahun 2009, ia memberanikan diri untuk pindah ke Jakarta dengan membawa tekad baru. “Saya punya prinsip, kalau mau masuk dunia baru, bakar kapal sekalian.” Tiga kios HP second miliknya ia jual habis. Ia memulai dari nol dengan modal Rp65 Juta.

Namun nasib berkata lain: satu setengah tahun di Jakarta, uang itu habis tak bersisa.

Kembali ke Semarang dalam keadaan kosong, Ali mengaku bingung. “Saya nggak punya apa-apa. Waktu itu saya banyak berdoa. Saya tahajud, baca Qur’an, minta petunjuk sama Allah,” ungkapnya mengenang masa lalu.

Sampai akhirnya, suatu sore di Plaza Simpang Lima, ia bertemu seorang teman yang mengajaknya ke seminar properti. Awalnya Ali ragu mengingat biaya seminar seharga Rp100.000 yang kala itu terlampau mahal baginya.

Namun, nasib baik berpihak padanya, sesi seminar itu merupakan preview untuk workshop selanjutnya sehingga ia diperbolehkan masuk secara cuma-cuma.

Di seminar itulah, Ali mengenal dunia properti, bertemu dengan mentor-mentor, dan melihat secercah harapan baru.

Baca Juga :  Hadirkan Dr. Laurent Lafosse, Siloam Hospitals Kebon Jeruk Jadi Pusat Rujukan Ortopedi Berstandar Global

Mulai Bisnis Tanpa Modal & Keuntungan Pertama

Berbekal ilmu dari seminar gratis itu, Ali memberanikan diri mempraktikannya. Ia menawar rumah seharga Rp450 juta menjadi Rp250 juta. “Saya tawar aja, padahal nggak punya uang sama sekali.”

Tiga bulan kemudian, ia dihubungi kembali oleh penjual rumah tersebut. Setelah melakukan negosiasi, akhirnya Ali berhasil mendapatkan properti pertamanya di harga Rp275 juta.

Bermodalkan koneksi dan kejujuran, ia mencoba menawarkan unit tersebut ke pembeli selanjutnya. “Saya bilang, saya jual 275 juta plus fee saya 12 juta, dan akhirnya dapat. Itu pertama kali saya jadi broker semi flipper,” kisahnya sambil tersenyum.

Keuntungan 12 juta pertama yang ia dapatkan dari bisnis properti membuatnya percaya diri untuk terus menggeluti bisnis serupa. 

“Itu titik balik saya. Dulu saya nggak punya rumah, mobil, motor, tapi dari 12 juta bisa beli motor Mio dan HP Blackberry Onyx waktu itu,” ungkapnya.

Berbekal kepercayaan diri dan pengalaman pertama tersebut, Ali mulai serius melanjutkan bisnis broker properti ini. Tahun 2012, ia mampu membangun 3 rumah. Setahun kemudian, 10 rumah. Lalu terus berkembang hingga 100 rumah dalam satu proyek. Sejak saat itu, proyek yang ia pegang besarnya tidak pernah kurang dari 30 unit.

Akan tetapi, dunia bisnis tak selalu mulus. Tahun 2014, Ali kembali jatuh. Kali ini karena terlalu percaya diri, ia membuka 5 proyek sekaligus di masa transisi pemerintahan dan perubahan regulasi ekonomi.

Semua kerja keras dari 2011 sampai 2014 senilai Rp2 miliar lenyap. Rumah dan mobil harus dijual. Ia kembali ke titik nol.

Tidak menyerah, Ali bangkit kembali dan membangun bisnisnya dari awal. Sejak 2020, ia memilih jadi single player dengan mengelola tim kecil tapi efisien.

“Manajemen saya hanya 50 orang, tapi tukangnya bisa sampai ratusan untuk 7 titik proyek. Meskipun single player, saya gandeng orang-orang kompeten agar tetap bertahan,” paparnya.

Bagi Ali, naik turun adalah hal biasa dalam usaha. Yang penting, terus bermimpi dan melangkah pasti untuk mewujudkannya.

Berbagi Ilmu, Membuka Jalan untuk Banyak Orang

Workshop Kelas Developer oleh Ali Sarbani

Ali mengakui bahwa titik baliknya dalam kesuksesan dimulai dari seminar gratis yang ia ikuti di tahun 2009. Ketika ia mulai menggeluti bisnis properti, ia berjanji dalam hati: apabila telah sukses, ia akan membuka seminar untuk ruang belajar orang-orang lain seperti dirinya di masa lalu.

Baca Juga :  Menteri Dody Minta Percepat Selesainya Pembangunan Tol Semarang-Demak Seksi 1

Janji dalam hatinya di tahun 2010 akhirnya ia wujudkan. Pada Maret 2017, ia membuka kelas pertamanya yang bertajuk “Bisnis Properti Tanpa Modal Investor.”

Awalnya, kelas ini hanya diikuti teman-temannya.  Berkat permintaan kolega dan teman-teman terdekatnya, kelas-kelasnya menyebar ke Jakarta, Makassar, Surabaya, dan kota-kota lainnya. Ali semakin mantap untuk membuka kelas developer untuk audiens yang lebih luas melalui Sekolah Developer.

“Ilmu bisnis seperti ini kalau di bangku kuliah, kan, butuh 4 tahun, tapi di kelas ini bisa dipadatkan menjadi 2 hari, siapa saja bisa ikut,” ujarnya. Ia ingin orang-orang tanpa tanah, modal, atau latar belakang pun bisa punya kesempatan seperti dirinya.

Ali banyak terinspirasi dari tokoh besar seperti Ciputra, pemilik Ciputra Group yang membangnun bisnis developer hingga bernilai triliunan rupiah. Tapi tokoh paling berpengaruh justru ayahnya sendiri.

“Waktu saya bilang ingin masuk sekolah perawat (SPK), bapak saya bilang bahwa mimpi saya terlalu kecil, ‘Kenapa cuma jadi perawat? Kenapa mau jadi nggak punya rumah sakitnya?’ sejak saat itu saya berani untuk bermimpi besar,” kisahnya.

Beberapa pesan hidup yang ia pegang sampai sekarang:

1. Hidup harus punya mimpi

Mimpi itu gratis, Ali Sarbani mengajak untuk bermimpi setinggi-tingginya. Setelah bermimpi, cari caranya untuk mewujudkan.

2. Harus mau belajar & Bangun Koneksi

Lima tahun ke depan, kita tetap orang yang sama kecuali dua hal: ilmu dan lingkungan. Apabila ingin berubah, pastikan perbanyak ilmu untuk bertumbuh dan bangun koneksi dengan orang-orang yang tepat.

3. Hidup ini Bermula dari Kepura-puraan

Bagi Ali Sarbani, kunci untuk mencapai apa yang kita impikan adalah untuk “berpura-pura menjadi mereka”. Lambat laun, kita akan menemukan pola-polanya dan menjadi bagian dari mereka.

4. Kuat menahan sakit

Nilai terakhir yang diyakini oleh Ali adalah kekuatan untuk menahan rasa sakit dari penolakan dan ujian merupakan bagian dari proses. Kesuksesan tidak datang dari kemudahan, ia adalah akumulasi keberuntungan dan kegagalan yang terus menerus diterjang.

Ali Sarbani membuktikan bahwa sukses tidak harus dimulai dari warisan atau modal besar. Tapi dari mimpi, kerja keras, dan keberanian untuk terus mencoba.

Hari ini, ia bukan sekadar developer properti. Ia adalah mentor, inspirator, dan bukti hidup bahwa anak desa bisa membangun peradaban—satu rumah, satu proyek, satu mimpi dalam satu waktu.

Berita Terkait

Bittime Catatkan Kenaikan Nilai Aset Bitcoin hingga 3,21% Pasca De-eskalasi Geopolitik Timur Tengah
KA Siliwangi Jadi Primadona Lebaran 2026, Okupansi Tembus 201% di Lintas Cipatat–Sukabumi
Dua Hari Pasca Idul Fitri 1447 H, Volume Penumpang KA di Daop 2 Bandung Masih Tinggi
Dukung Mobilitas Lebaran, LRT Jabodebek Perkuat Integrasi Antarmoda dan Akses ke Destinasi Wisata
Perubahan Kepemimpinan Iran dan Dampaknya pada Geopolitik Timur Tengah
BRI Finance Jaga Stabilitas Pembiayaan Alat Berat di Tengah Dinamika RKAB Batubara
Masih Minta Customer Copy Paste Data di Chat? WA Form Barantum Solusinya
Dominasi BTC dan USDT Bittime Jadi Sorotan di Tengah Tekanan Politik Trump dan Gejolak Minyak Dunia

Berita Terkait

Senin, 23 Maret 2026 - 17:43

LPK ARK Jinzai Solusi Group Targetkan 1.000 Peserta ke Jepang

Senin, 23 Maret 2026 - 14:41

30 Rumah Terdampak, PDI Perjuangan Salurkan Bantuan untuk Korban Kebakaran di Alas

Rabu, 18 Maret 2026 - 21:36

Pemprov NTB Gelar Shalat Ied di Kantor Gubernur, Ada Open House di Pendopo

Senin, 16 Maret 2026 - 22:08

Hasil Seleksi Jabatan Eselon II Pemprov NTB Siap Diserahkan ke Gubernur

Senin, 16 Maret 2026 - 15:21

Dokter Mamang Jabat Kadis Kesehatan Lombok Tengah

Senin, 16 Maret 2026 - 15:07

‎Miras saat Pawai Ogoh-ogoh jadi Sorotan, Begini Imbauan Gubernur NTB

Minggu, 15 Maret 2026 - 20:19

Jelang Lebaran, Gubernur Iqbal Tinjau Sistem Penjualan Tiket dan Fasilitas di Terminal Mandalika

Jumat, 13 Maret 2026 - 20:23

Pastikan Pasokan Cabai Tercukupi, Pemprov NTB Siapkan Program Penguatan Produksi

Berita Terbaru