Menyambungkan Pembeli, Penjual, dan UMKM dalam Satu Jaringan Terbuka ION: Sorotan Business Matching Hari Kedua IEF 2026 - Koran Mandalika

Menyambungkan Pembeli, Penjual, dan UMKM dalam Satu Jaringan Terbuka ION: Sorotan Business Matching Hari Kedua IEF 2026

Jumat, 13 Februari 2026 - 15:13

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rangkaian Indonesia Economic Forum (IEF) ke-12 di ARTOTEL Suites Mangkuluhur hari kedua berlanjut dengan sesi lanjutan business matching pada Jumat (6/2/2026). Sesi Buyer Apps & Marketplace Business Matching dan Seller Apps & MSME Enablers Business Matching menjadi ruang strategis untuk mempertemukan aplikasi pembeli, marketplace, UMKM, koperasi desa, serta enabler digital dalam satu jaringan ION, guna memastikan adopsi pasar yang lebih luas dan implementasi nyata di tingkat pelaku usaha.

Berbeda dari panel formal, sesi ini berlangsung sangat praktis. Para peserta bergiliran memperkenalkan diri, menjelaskan model bisnis mereka, lalu membedah bersama bagaimana ION bisa mengubah cara mereka beroperasi. Fokusnya bukan lagi “apa itu ION”, tetapi “bagaimana kita benar-benar memakainya di lapangan”.

Dari Platform Tertutup ke Jaringan Terbuka

Salah satu tema kuat yang muncul adalah bahwa ION bukan ancaman bagi marketplace yang sudah ada, melainkan perluasan pasar. Banyak pelaku e-commerce mengakui bahwa jangkauan mereka masih terbatas secara geografis dan kategori. Dengan ION, mereka bisa tetap menjalankan bisnis seperti biasa, tetapi memperoleh akses ke lebih banyak penjual, lebih banyak pembeli, dan wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Diskusi menegaskan perbedaan antara platform tradisional dan jaringan terbuka. Dalam model lama, satu aplikasi menguasai sekaligus sisi pembeli dan penjual. Dalam model ION, peran dipisah: buyer apps berfokus melayani kepentingan pembeli, sementara seller apps melayani kepentingan penjual. Peserta mencatat bahwa logika ini sebenarnya sudah akrab dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saat orang membeli tiket pesawat lewat Traveloka sementara maskapai tetap menjadi penyedia layanan penerbangan.

Peran Buyer Apps: Bank dan Telko sebagai Gerbang Pasar

Beberapa buyer apps potensial yang dibahas secara intens adalah bank dan operator telekomunikasi. Bank BRI, dengan puluhan juta rekening UMKM, diproyeksikan dapat menjadi pintu masuk belanja di ION langsung dari aplikasi perbankan. Pengguna tetap bisa transfer dan bayar seperti biasa, tetapi juga bisa “klik belanja ION” yang terhubung ke berbagai seller apps.

Baca Juga :  Besi Apa yang Dipilih Agar Tidak Mudah Berkarat? Pelajaran dari Proyek Nyata

Hal serupa dibayangkan untuk Telkomsel dan Indosat. Dengan basis pengguna yang sangat luas hingga daerah terpencil, kedua perusahaan ini dapat mengintegrasikan fitur ION ke dalam aplikasi mereka, sehingga masyarakat bisa berbelanja tanpa harus mengunduh marketplace baru.

Bagi marketplace yang sudah mapan, keuntungan bergabung dengan ION bukan hanya soal pasar baru, tetapi juga kemampuan menambahkan layanan yang sebelumnya tidak mereka miliki, seperti pembiayaan, asuransi, atau opsi logistik tambahan, tanpa harus membangunnya sendiri.

Perlindungan Konsumen dan Tata Kelola Jaringan

Sejumlah peserta mengangkat kekhawatiran: apakah jaringan terbuka berarti siapa saja bisa masuk tanpa standar? Jawabannya tegas, tidak. ION dirancang dengan mekanisme verifikasi, reputasi, dan penanganan keluhan berjenjang, serupa dengan model ONDC di India.

Jika terjadi sengketa transaksi, penyelesaian dimulai antara buyer app dan seller app. Hanya jika gagal, masalah akan naik ke tingkat jaringan. Ada juga sistem reputasi untuk menilai siapa yang konsisten mengirim tepat waktu dan menjaga kualitas produk.

Seller Apps: Membawa UMKM ke Pasar Nasional

Di sisi penjual, fokus besar diarahkan pada UMKM dan koperasi desa. Pemerintah tengah mendorong super app SAPA UMKM sebagai pintu identitas dan perdagangan digital bagi jutaan pelaku usaha. Dari sekitar 5 juta UMKM prioritas, 4 juta di antaranya dinilai sudah memiliki produk asli buatan Indonesia yang siap dikomersialkan, tetapi belum siap bertransaksi digital.

Salah satu strategi kunci yang dibahas adalah digitalisasi pasar tradisional. Setiap pasar rakyat bisa memiliki aplikasi berlabel putih sebagai seller app. Dari ratusan pedagang, dipilih sekitar sepuluh pelaku usaha awal untuk dilatih dan dihubungkan ke ION. Dengan cara ini, pasar demi pasar dapat membentuk kluster digital yang saling terhubung, memungkinkan distribusi barang antarpasar sesuai ketersediaan pasokan.

Baca Juga :  Peluang Baru di Awal Tahun, BRI Finance Rekrut Hingga 500 Talenta

Model ini diperluas hingga tingkat desa melalui koperasi. Target awal adalah 25.000 desa terhubung sebagai seller apps lokal. Kehadiran kantor pos di hampir setiap desa dipandang sebagai infrastruktur logistik minimum, sementara wirausaha lokal dapat tumbuh menjadi penyedia pengiriman setempat dengan dukungan pembiayaan dari bank.

Pemerintah bahkan menghitung dampak ketenagakerjaan: jika hanya sepuluh orang per desa terlibat dalam ekosistem digital, akan tercipta sekitar 800.000 pekerjaan baru. Jika meningkat menjadi dua puluh orang, potensi lapangan kerja bisa mencapai 1,6 juta.

Enabler: Pelatihan, Standar, dan Kualitas Produk

Organisasi seperti APINDO, Orbit Future Academy, dan AYDA menekankan bahwa keberhasilan ION bukan hanya soal teknologi, tetapi juga peningkatan kapasitas UMKM. Mereka mendorong pendampingan katalog produk, literasi digital, serta kepatuhan terhadap standar seperti BPOM, halal, dan perizinan usaha, agar UMKM tidak sekadar “masuk jaringan”, tetapi juga dipercaya pasar.

Visi Besar: Dari Domestik ke Lintas Negara

Di akhir sesi, diskusi melebar ke potensi perdagangan lintas batas. Pengalaman India dengan protokol ekspor ONDC menjadi rujukan awal. Meski tantangan logistik dan kepabeanan masih besar, peserta melihat ION sebagai fondasi integrasi perdagangan digital Indonesia dengan ASEAN.

Sesi ditutup dengan penegasan tiga prinsip yang berulang sepanjang forum: kesabaran, kolaborasi, dan kepercayaan. ION dipahami bukan proyek jangka pendek, melainkan transformasi ekosistem yang akan bergulir dalam bulan-bulan ke depan melalui pilot project dan kemitraan nyata.

Press Release ini juga tayang di VRITIMES

Berita Terkait

BRIDS Salurkan Bantuan untuk Dukung Pemulihan Pascagempa di Nusa Tenggara Timur
Waskita Beton Precast Kembali Tanam 228 Pohon pada September 2026, Lanjutkan Komitmen Pehijauan Bersama Pelanggan
SETC Perkuat Kolaborasi Pemerintah dan Swasta untuk Dorong UMKM Naik Kelas
Emas Kembali Tertekan di Bawah US$4.300, Ini Prediksi XAUUSD Hari Ini
Minat Internasional Meningkat Seiring Dimulainya Automechanika Jakarta Besok, Hadirkan Partisipasi Global
BP Tapera Perluas Sosialisasi KPR Sejahtera FLPP, Dorong Masyarakat Miliki Rumah Pertama
Harga Drone Pertanian DJI Agras 2026: Bandingkan T25P, T55, T70P, dan T100 Sebelum Beli
BIZTECH for Change 2026 Perkuat Peran BINUS @Bekasi sebagai Business, Service, and Technology Campus

Berita Terkait

Jumat, 9 Oktober 2026 - 15:45

MotoGP Mandalika 2026, Merchandise Veda Ega Pratama dan Marc Marquez Diminati Pembeli

Kamis, 8 Oktober 2026 - 21:18

Pertamina Mandalika International Circuit Naik Level! Homologasi Grade A FIM Resmi Dikantongi

Kamis, 8 Oktober 2026 - 19:46

Jelang Pilkades, DPMD Loteng Akui Konflik Horizontal Rentan Terjadi

Rabu, 7 Oktober 2026 - 06:28

RSUD Praya Naik Kelas, FP4 NTB Sorot ‘Wajah Lama’ di Struktur Baru

Senin, 5 Oktober 2026 - 19:08

Tiket MotoGP Mandalika Diburu, 4 Kategori Sudah di Atas 95 Persen

Senin, 5 Oktober 2026 - 18:41

Kades Kabul Dilaporkan ke Aparat, Warga Soroti Dugaan Penyimpangan Dana Desa

Senin, 5 Oktober 2026 - 16:12

Kades Kateng Mangkir dari Panggilan Polisi, Kasus Pemalsuan Surat Masuk Penyidikan

Jumat, 2 Oktober 2026 - 18:35

Jam Pengolahan hingga Bahan Baku Disorot, Ada Apa dengan SPPG MBG di Loteng?

Berita Terbaru