Perundingan I-EU CEPA Membajak Hak-Hak Demokrasi dan Mengabaikan Dampak bagi Masyarakat - Koran Mandalika

Perundingan I-EU CEPA Membajak Hak-Hak Demokrasi dan Mengabaikan Dampak bagi Masyarakat

Senin, 1 Juli 2024 - 16:00

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Indonesia AIDS Coalition (IAC), bersama mitra lain mengkritik putaran perundingan ke-19 Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (Indonesia-EU CEPA) yang diadakan pada tanggal 1-5 Juli 2024. Perundingan ini dinilai telah mengabaikan hak-hak demokrasi dan berdampak negatif pada masyarakat. Salah satunya adalah akses masyarakat ke obat terjangkau.

Indonesia AIDS Coalition (IAC), bersama
mitra lainnya, mengkritik putaran perundingan ke-19 Perjanjian Kemitraan
Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (Indonesia-EU CEPA) yang diadakan pada
tanggal 1-5 Juli 2024. Perundingan ini dinilai telah mengabaikan hak-hak
demokrasi dan berdampak negatif pada masyarakat.

Ferry Norila, Koordinator Komunikasi,
Kampanye, & Advokasi IAC, menambahkan bahwa monopoli paten telah berdampak
negatif pada akses masyarakat ke obat, terutama untuk pasien seperti HIV, TB,
dan hipertensi paru yang perlu meminum obat secara rutin. “Kelompok pasien
dengan tegas menolak klausul TRIPS Plus yang akan memperkuat monopoli dan
meningkatkan harga obat. Perjanjian ini melukai dan berdampak serius pada akses
masyarakat ke obat,” ujar Ferry.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Rahmat Maulana Sidik, Direktur
Eksekutif IGJ, menekankan bahwa perundingan I-EU CEPA dilakukan tanpa mendengar
aspirasi publik dan partisipasi masyarakat sipil yang bermakna. “Perundingan
I-EU CEPA ini harus dihentikan karena tidak mengakomodir kepentingan rakyat.
Proses yang tertutup dan tidak transparan akan merugikan masyarakat,” ungkap
Maulana.

Baca Juga :  KAI Logistik Perkuat Angkutan KA Kontainer sebagai Solusi Logistik Berkelanjutan

Dampak I-EU CEPA pada Akses Masyarakat
ke Obat-Obatan yang Terjangkau

Lutfiyah Hanim, Peneliti Senior IGJ,
menjelaskan bahwa I-EU CEPA akan berdampak buruk pada akses masyarakat ke
obat-obatan yang terjangkau. Bab Kekayaan Intelektual dalam perjanjian ini
mengandung klausul ‘TRIPS Plus’ yang memperketat perlindungan Hak Kekayaan
Intelektual di atas standar internasional. “Perpanjangan masa perlindungan
paten dan larangan impor paralel akan memperlambat masuknya obat generik dan
menyebabkan harga obat menjadi mahal,” jelas Hanim.

Arni Rismayanti, Ketua Yayasan
Hipertensi Paru Indonesia (YHPI), juga mengungkapkan kekhawatirannya terkait
akses pasien hipertensi paru ke obat-obatan yang terjangkau. “Banyak obat yang
dibutuhkan tidak tersedia atau dijual dengan harga sangat mahal di Indonesia.
Kami menolak klausul TRIPS Plus dalam I-EU CEPA karena akan semakin membebani
pasien,” jelas Arni.

Contohnya adalah Macitentan, yang
harganya di Indonesia mencapai 31 juta Rupiah 
untuk satu bulan. Sedangkan versi generiknya hanya 1,5 juta Rupiah per
bulan. Variasi jenis obat hipertensi paru amat dibutuhkan oleh pasien karena
sifat penyakitnya yang progresif, sehingga seiring dengan berjalannya waktu
pasien membutuhkan penyesuaian dosis dan variasi jenis obat hipertensi paru
untuk dapat bertahan hidup.

Baca Juga :  NFP Jadi Penentu Harga Emas, Dupoin Futures Pantau Level 4.236

“Di antara 15 jenis obat hipertensi
paru yang ada di dunia, obat golongan Endothelin Receptor Antagonist (Bosentan,
Ambrisentan, dan Macitentan) adalah yang terjangkau selain Beraprost, Iloprost,
dan Sildenafil yang memang sudah tersedia di Indonesia. Sedangkan sisanya bisa mencapai ratusan
juta untuk kebutuhan satu bulan,” tambah Arni.

Seruan untuk Pemerintah Indonesia

IAC dan para mitranya mendesak
Pemerintah Indonesia untuk menolak klausul TRIPS Plus yang diusulkan oleh Uni
Eropa. Hal tersebut mencakup
perpanjangan masa perlindungan paten, eksklusivitas data dan pasar, serta
pembatasan impor paralel. Ferry Norila menegaskan bahwa perundingan tidak boleh
dilakukan secara terburu-buru, terlepas dari target bersama untuk menyelesaikan
perundingan sebelum bulan Oktober 2024. “Kami tidak ingin Pemerintah Indonesia
melakukan perundingan secara terburu-buru sehingga menyetujui klausul yang
jelas-jelas merugikan, salah satunya adalah TRIPS Plus. Untuk itu, kami
mendorong Pemerintah Indonesia untuk terus mempertahankan posisi sebagai negara
yang berdaulat dan tidak tunduk kepada tuntutan pihak lain. No deal is better than a bad deal,” tutup Ferry.

Dokumen lainnya:

Siaran Pers: Lebih dari
90 Organisasi Masyarakat Sipil Internasional Mendesak Uni Eropa Menghapus TRIPS
Plus dalam Indonesia-EU CEPA

Surat Terbuka Masyarakat
Sipil Menolak Usulan TRIPS Plus dalam I-EU CEPA

Berita Terkait

5 Hal Tidak Terduga yang Terjadi ketika Sedang Liburan ke Luar Negeri
KAI Daop 2 Bandung Layani Lebih dari 56ribu Wisatawan Mancanegara pada Januari–Agustus 2026
Sebelum Jual Emas Perhiasan atau Logam Mulia, Pandai Emas Ingatkan 7 Hal yang Perlu Dicek
Kemendag dan Nestlé Indonesia Teken MoU Dorong Ekspor dari Hulu di TEI 2026
FLOQ Borong Tiga Penghargaan di Marketeers Editor’s Choice Award 2026
Spesifikasi Besi di Gambar Kosong di Pasaran, Apa yang Harus Dilakukan?
Raih Dua Penghargaan di The Iconomics Forum 2026, Jasa Marga Buktikan Keunggulan Layanan Pelanggan dan Tata Kelola Korporasi
Proyek Beda Jenis, Harus Ganti Kontraktor Juga?

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 18:02

5 Hal Tidak Terduga yang Terjadi ketika Sedang Liburan ke Luar Negeri

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 17:02

KAI Daop 2 Bandung Layani Lebih dari 56ribu Wisatawan Mancanegara pada Januari–Agustus 2026

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:02

Sebelum Jual Emas Perhiasan atau Logam Mulia, Pandai Emas Ingatkan 7 Hal yang Perlu Dicek

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 13:02

Kemendag dan Nestlé Indonesia Teken MoU Dorong Ekspor dari Hulu di TEI 2026

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 11:02

Spesifikasi Besi di Gambar Kosong di Pasaran, Apa yang Harus Dilakukan?

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 11:02

Raih Dua Penghargaan di The Iconomics Forum 2026, Jasa Marga Buktikan Keunggulan Layanan Pelanggan dan Tata Kelola Korporasi

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 11:02

Proyek Beda Jenis, Harus Ganti Kontraktor Juga?

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 09:02

7 Cara Mengevaluasi Performa Telepon Bisnis dengan Call Tracking

Berita Terbaru

NTB Terkini

Ironi di Jalur Rinjani, Fasilitas untuk Pendaki Malah Raib

Sabtu, 17 Okt 2026 - 19:01