Sinema Eksploitasi Orde Baru: Menguak Perspektif Baru untuk Pendidikan Film - Koran Mandalika

Sinema Eksploitasi Orde Baru: Menguak Perspektif Baru untuk Pendidikan Film

Senin, 11 Agustus 2025 - 09:17

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dalam upaya memperluas wacana
akademik dan kebudayaan di lingkungan kampus, BINUS kembali menyelenggarakan
BINUS Book Review dengan mengangkat salah satu karya terbaru dari akademisi dan
kritikus film terkemuka, Ekky Imanjaya, SS., MHum., MA., Ph.D. Acara ini
mengulas buku berjudul “The Real Guilty Pleasures: Menimbangulang Sinema
Eksploitasi Transnasional Orde Baru”, yang berlangsung pada 29 Juli 2025 di
BINUS @Kemanggisan Kampus Anggrek, dan diselenggarakan secara hybrid.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi
antara BINUS Library & Knowledge Center, Knowledge Management Innovation, BINUS
Media & Publishing, serta BINUS Press, yang secara konsisten menghadirkan
diskusi-diskusi penting untuk memperkuat budaya literasi kritis di lingkungan
akademik. Dalam sesi ini, para peserta diajak untuk menelusuri ulang sejarah
perfilman Indonesia dari sudut pandang yang jarang dibahas secara terbuka, yaitu
sinema eksploitasi yang berkembang pada masa Orde Baru dan bagaimana sinema
tersebut berjejaring secara transnasional.

Image

Dalam sambutan pembuka, Dr. Karto
Iskandar, S.Kom., M.M. selaku IS Development Manager at BINUS University,
menekankan pentingnya melihat sinema tidak hanya sebagai hiburan, tetapi
sebagai dokumen social politik yang merekam kompleksitas zamannya. Ia
menyampaikan bahwa melalui kegiatan ini, mahasiswa dan sivitas akademika dapat
memahami bagaimana film bisa menjadi medium kekuasaan, perlawanan, sekaligus
produk budaya global.

Image

Pada sesi bedah buku, Dr. Ekky
Imanjaya membedah gagasannya dengan penuh semangat. Ia menjelaskan bahwa
film-film eksploitasi yang kerap dipandang sebelah mata sesungguhnya menyimpan
banyak lapisan makna dan potensi kritik, terutama dalam konteks politik budaya
Orde Baru dan keterhubungannya dengan pasar internasional. “Melalui buku ini,
saya ingin menunjukkan bahwa sinema eksploitasi bukan hanya soal estetika yang
vulgar atau narasi yang sensasional, tetapi juga bagaimana Indonesia dilihat
dan melihat dirinya sendiri dalam lanskap global,” ujar Ekky.

Buku ini membahas film-film
Indonesia era 1970–1990-an yang sering kali diproduksi dengan gaya eksotik dan
eksploratif untuk memenuhi selera pasar luar negeri. Dalam penjelasannya, Bapak
Ekky menyoroti bagaimana sinema seperti ini justru membuka ruang untuk memahami
politik representasi, ekonomi budaya, dan negosiasi identitas nasional di bawah
rezim otoriter.

Baca Juga :  Pentingnya Menggunakan Centang Biru WhatsApp untuk Bisnis

Acara ini tidak hanya menjadi ajang
perkenalan buku, tetapi juga sebagai pemantik diskusi akademik lintas disiplin
mengenai sejarah kebudayaan visual Indonesia. Melalui pendekatan
interdisipliner yang diusung Bapak Ekky Imanjaya, buku ini diharapkan menjadi
referensi penting bagi peneliti, mahasiswa, dan sineas dalam membaca ulang
sejarah film nasional dari sudut pandang yang lebih kompleks dan jujur.

Image

Dengan penyelenggaraan kegiatan
ini, BINUS berkomitmen mendukung pengembangan kajian budaya dan seni di
Indonesia. Upaya seperti ini menjadi bagian dari misi universitas untuk terus
menumbuhkan ruang dialog kritis yang inklusif dan reflektif, serta membina dan
memberdayakan masyarakat melalui pembangunan pengetahuan yang menguatkan.

Berita Terkait

Memaksimalkan Gratis Transfer antarbank dari neobank hingga 200 Kali per Bulan
Menjaga Kualitas dan Keselamatan Berkendara, PT Jasamarga Tollroad Maintenance Laksanakan Pekerjaan Rekonstruksi Perkerasan di Ruas Tol Jagorawi
Pelindo Multi Terminal Perkuat Kesiapan Operasional dan Kualitas Layanan di Pelabuhan Sibolga
Menjadi Bagian dari Apple Developer Academy, Langkah Binusian Bandung Mengasah Potensi di Dunia Teknologi
Sanct Social Rilis Episode 7, Film Pendek tentang Dua Kakak Beradik di Jakarta dan Singapura pada Malam Setelah Kunjungan Keluarga Usai
Pasar Nikel Global Diproyeksi Tumbuh 21,39% hingga 2031, Hilirisasi Didorong Garap Produk Akhir
Jasa Marga Raih Dua Penghargaan dalam Ajang The 17th IICD Corporate Governance Award 2026
Dorong UMKM Naik Kelas, Jasa Marga Fasilitasi Lima UMKM Binaan di Trade Expo Indonesia 2026

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 18:10

Drama Kemenangan Tipis hingga Dominasi Tim Raksasa di Mandalika Festival of Speed

Minggu, 18 Oktober 2026 - 16:21

MGPA Dorong Potensi Pembalap Lokal NTB Kuasai Sirkuit Kebanggaan pada Ajang MFOS

Jumat, 16 Oktober 2026 - 08:57

Kasus DBD Loteng Belum Naik, Dinkes Tekankan Pencegahan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 19:01

Tuan Guru Bagu Tutup Usia, Nasihatnya Jadi Pegangan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 13:41

Kades Kateng Penuhi Panggilan Polisi, Kasus Dugaan Pemalsuan Surat Berlanjut

Kamis, 15 Oktober 2026 - 08:41

Job Fair Masmirah Lombok Tengah 2026 Hadirkan 57 Perusahaan dan 1.282 Lowongan Kerja

Rabu, 14 Oktober 2026 - 13:14

Pemkab Loteng Adakan Cek TBC Gratis, Kadinkes: Cek Kesehatan Sebelum Sakit

Rabu, 14 Oktober 2026 - 11:37

Hari Jadi ke-81, Lombok Tengah Siapkan APBD 2027 untuk Pembangunan Berkelanjutan

Berita Terbaru