S&P 500 Cetak Rekor, Data Tenaga Kerja Lemah Buka Peluang The Fed Lebih Dovish - Koran Mandalika

S&P 500 Cetak Rekor, Data Tenaga Kerja Lemah Buka Peluang The Fed Lebih Dovish

Senin, 10 Agustus 2026 - 13:02

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

S&P 500 Cetak Rekor, Data Tenaga Kerja Lemah Buka Peluang The Fed Lebih Dovish

Pasar saham Amerika Serikat (AS) mengawali pekan dengan sentimen positif setelah Wall Street mencatat penguatan dalam dua pekan berturut-turut. Indeks S&P 500 bahkan berhasil mencetak rekor baru, sementara Nasdaq Composite menjadi salah satu indeks dengan kinerja paling kuat berkat kembali bergairahnya saham-saham teknologi dan semikonduktor.

Pada perdagangan pekan lalu, S&P 500 menguat sekitar 3,6%, sedangkan Nasdaq Composite melonjak 5,2%. Reli juga didukung oleh saham-saham yang berkaitan dengan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), termasuk sektor semikonduktor yang kembali menjadi motor penggerak pasar. Penguatan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve atau The Fed akan lebih berhati-hati dalam menaikkan suku bunga setelah muncul tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja AS.

Data Tenaga Kerja AS Jadi Perhatian Investor

Sentimen pasar berubah setelah data ketenagakerjaan AS menunjukkan pelemahan yang cukup tajam. Nonfarm payrolls pada Juli 2026 tercatat turun 23.000 pekerjaan, berlawanan dengan ekspektasi ekonom yang memperkirakan penambahan sekitar 80.000 pekerjaan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain penurunan payrolls, data sebelumnya juga mengalami revisi ke bawah. Pertumbuhan pekerjaan pada Mei direvisi dari 129.000 menjadi 63.000, sementara Juni direvisi dari 57.000 menjadi hanya 20.000. Tingkat pengangguran justru turun menjadi 4,1% dari 4,2%, tetapi penurunan tersebut terjadi bersamaan dengan turunnya tingkat partisipasi angkatan kerja.

Data tersebut memberikan sinyal bahwa pasar tenaga kerja AS mulai kehilangan momentum. Bagi investor, kondisi ini justru dapat menjadi katalis positif bagi aset berisiko karena tekanan terhadap The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat menjadi lebih rendah.

Pasar kini menilai peluang kenaikan suku bunga pada September semakin mengecil. Setelah data pekerjaan dirilis, probabilitas kenaikan suku bunga September di pasar futures turun ke kisaran 44%, dibandingkan sekitar 60% sebelumnya.

Baca Juga :  Rayakan KAI Expo 2026, KAI Bandara Hadirkan Promo Tiket hingga 30 Persen

Situasi ini mencerminkan fenomena “bad news is good news” bagi pasar saham. Data ekonomi yang lebih lemah dapat menjadi kabar buruk bagi pertumbuhan, tetapi sekaligus meningkatkan harapan bahwa The Fed tidak perlu menaikkan suku bunga lebih tinggi. Penurunan imbal hasil obligasi AS juga berpotensi memberikan dukungan bagi saham-saham teknologi yang sensitif terhadap perubahan suku bunga.

Inflasi Jadi Katalis Berikutnya

Meski demikian, reli pasar belum sepenuhnya aman. Fokus investor kini beralih ke sejumlah indikator ekonomi penting yang akan dirilis sepanjang pekan ini, terutama data inflasi.

Data Consumer Price Index (CPI) Juli akan menjadi perhatian utama karena dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan The Fed selanjutnya. Konsensus pasar memperkirakan inflasi utama berada di sekitar 3,4% secara tahunan, sementara inflasi inti diproyeksikan sekitar 2,5%. Jika data inflasi kembali menunjukkan perlambatan, ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan yang lebih dovish dapat semakin menguat.

Selain CPI, investor juga akan mencermati Producer Price Index (PPI), penjualan ritel, serta data sektor perumahan. PPI penting untuk melihat tekanan harga dari sisi produsen, sedangkan penjualan ritel dapat memberikan gambaran mengenai kekuatan konsumsi rumah tangga AS.

Jika kombinasi data tersebut menunjukkan inflasi yang terkendali dan aktivitas ekonomi yang mulai melambat secara terukur, ruang bagi The Fed untuk tidak menaikkan suku bunga akan semakin terbuka. Sebaliknya, apabila inflasi kembali meningkat, pasar dapat kembali mengantisipasi kebijakan moneter yang lebih ketat dan berpotensi menekan valuasi saham.

Baca Juga :  MAXY Academy Berpartisipasi di Gebyar Startup 2025: Dukung Talenta Muda di Industri Game dan Digital

Dengan S&P 500 berada di level rekor dan Nasdaq mencatat kenaikan signifikan, investor perlu mencermati apakah reli saat ini dapat berlanjut atau justru memasuki fase konsolidasi. Kinerja laba perusahaan yang kuat masih menjadi fondasi penting bagi pasar, terutama setelah sebagian besar perusahaan S&P 500 melaporkan kinerja kuartal kedua yang melampaui ekspektasi.

Pantau Pergerakan Saham AS, Kripto, dan Emas di Nanovest

Pergerakan Saham Amerika Serikat, aset kripto, dan emas digital saat ini bisa kamu cek melalui aplikasi Nanovest. Bagi kamu yang tertarik mulai berinvestasi di saham AS maupun mengeksplorasi aset kripto dan emas digital, Nanovest menawarkan akses ke berbagai pilihan aset dalam satu platform.

Nanovest memungkinkan pengguna mulai berinvestasi dengan modal dari Rp5.000. Berdasarkan informasi di situs resminya, layanan aset kripto Nanovest disediakan oleh PT Tumbuh Bersama Nano yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sementara transaksi emas digital dilakukan melalui mitra yang berizin Bappebti.

Dari sisi keamanan, Nanovest juga menyebut adanya perlindungan melalui Asuransi Sinarmas serta fitur keamanan NanoShield untuk membantu melindungi akun dan aset pengguna dari risiko keamanan siber.

Bagi investor pemula, Nanovest dapat menjadi salah satu pilihan untuk mulai mengenal investasi secara bertahap. Aplikasi Nanovest tersedia di Google Play Store dan App Store, sehingga pengguna dapat memantau pasar dan mengelola investasi melalui satu aplikasi.

Informasi lebih lanjut mengenai layanan dan produk Nanovest dapat ditemukan melalui situs resmi Nanovest.

Disclaimer: Investasi memiliki risiko. Investor perlu memahami karakteristik dan risiko setiap aset sebelum mengambil keputusan investasi.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Bukan Hanya Merek, Ini Faktor yang Memengaruhi Nilai Gadai Jam Tangan Mewah
Jakarta, Indonesia Bioluminesensi Nusantara: Fuguku Luncurkan “Nudi Series” yang Skulptural dan Bawa Streetwear Bertekstur Uniseks ke USS 2026
BRI Perkuat Kebersamaan dan Kepedulian Sosial melalui Jalan Sehat dan Berbagi Sembako
Website Company Profile Adalah Alamat Resmi Bisnis, Beda dengan Toko Online dan Media Sosial
VIHEF 2027 Perkuat Posisi Vietnam sebagai Pusat Perdagangan dan Pengadaan Produk Halal yang Berkembang
Split Bill Saat Nongkrong, Cara Simpel Mengatur Pengeluaran Bareng Teman
PLN NPC Dukung Pengelolaan Lingkungan, Terapkan WTP-WWTP di PLTU Sorong dan Sofifi
BRI Insurance Raih Penghargaan Best Corporate Culture Transformation di CNBC Indonesia Awards 2026

Berita Terkait

Sabtu, 7 November 2026 - 06:02

Bukan Hanya Merek, Ini Faktor yang Memengaruhi Nilai Gadai Jam Tangan Mewah

Sabtu, 7 November 2026 - 00:02

Jakarta, Indonesia Bioluminesensi Nusantara: Fuguku Luncurkan “Nudi Series” yang Skulptural dan Bawa Streetwear Bertekstur Uniseks ke USS 2026

Sabtu, 7 November 2026 - 00:02

BRI Perkuat Kebersamaan dan Kepedulian Sosial melalui Jalan Sehat dan Berbagi Sembako

Jumat, 6 November 2026 - 22:02

Website Company Profile Adalah Alamat Resmi Bisnis, Beda dengan Toko Online dan Media Sosial

Jumat, 6 November 2026 - 20:02

VIHEF 2027 Perkuat Posisi Vietnam sebagai Pusat Perdagangan dan Pengadaan Produk Halal yang Berkembang

Jumat, 6 November 2026 - 19:02

PLN NPC Dukung Pengelolaan Lingkungan, Terapkan WTP-WWTP di PLTU Sorong dan Sofifi

Jumat, 6 November 2026 - 19:02

BRI Insurance Raih Penghargaan Best Corporate Culture Transformation di CNBC Indonesia Awards 2026

Jumat, 6 November 2026 - 19:02

Bank Mandiri Taspen dan ASABRI Serahkan Manfaat Pensiun Terusan kepada Keluarga Mantan Panglima TNI Widodo A.S.

Berita Terbaru