Steward Leo: Nyaris Dijual Saat Kecil, Kini Jadi Pendiri First Wave Coffee - Koran Mandalika

Steward Leo: Nyaris Dijual Saat Kecil, Kini Jadi Pendiri First Wave Coffee

Selasa, 17 Juni 2025 - 13:36

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tidak semua orang memulai hidup dengan keistimewaan. Beberapa justru lahir dari tekanan dan kemiskinan ekstrem seperti Leo. Dari nyaris dijual saat bayi karena lilitan utang, kini ia berhasil membangun bisnis kopi modern yang dikenal luas: First Wave Coffee.

Hidup dalam Ancaman Kemiskinan

Lahir tahun 1996, Leo dibesarkan dalam keluarga sederhana. Ayahnya seorang pedagang kecil, ibunya ibu rumah tangga. Saat ia belum genap dua tahun, kondisi keluarga begitu terpuruk hingga sang ibu sempat mempertimbangkan menjualnya ke keluarga kaya yang tidak punya anak.

Sang Ibu sempat membawa Leo ke pasar dan menyampaikan kisahnya ke salah seorang tukang kwetiau yang mereka kenal. Tukang kwetiau yang melihat kondisi itu hanya berkata, “Jangan dijual, siapa tahu nanti dia yang jagain kamu terus,”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tanpa mereka sangka, kata-kata itu menjadi titik awal dari kisah “zero to hero” yang luar biasa.

Jiwa Wirausaha Sejak Dini

Sejak SD, Leo sudah berdagang kecil-kecilan: permen, es cendol, susu gym, apa pun yang bisa dijual. Ia tumbuh tanpa mentor bisnis, hanya mengandalkan naluri dan pengalaman coba-coba.

Baca Juga :  Hisense Bermitra dengan Black Myth: Wukong untuk Meningkatkan Pengalaman Bermain Game dengan Fitur Gameplay Baru

Ketika lulus kuliah, ia mantap untuk tidak kerja kantoran. Ia memutuskan belajar bisnis mainan anak dari seorang sepupu di Medan. Namun, justru pengalaman awalnya pahit. Uang Rp72 juta untuk modal mainan dibawa kabur. Total tabungan Rp80 juta miliknya ludes.

Akan tetapi, dari kegagalan itu, ia perlahan membangun bisnis mainan anaknya sendiri yang ia beri nama Evokids. Dari bisnis ini, jerih payah Leo akhirnya perlahan terbayarkan. Bisnis ini berhasil berkembang selama lebih dari 5 tahun, bahkan kini sudah bisa berjalan secara autopilot.

Dari Kandas Cinta ke First Wave Coffee

Saat Evokids stabil, Leo berencana menikah. Ia mencairkan modal, bahkan berutang demi mewujudkan pernikahan impian. Sayangnya, hubungan itu gagal. Bagi Leo, ini adalah titik balik terendah sebab kehilangan pasangan dan secara finansial hampir bangkrut.

Namun, ia memilih bangkit. Bersama temannya Michael, ia mendirikan First Wave Coffee, sebuah kafe modern yang menawarkan lebih dari sekadar kopi: ambience nyaman, coffee mocktail unik, dan customer experience yang serius.

Baca Juga :  Holding Perkebunan Nusantara Perkuat Kompetensi SDM, PTPN IV Regional VII Gelar Pelatihan dan Sertifikasi Mandor Panen

Modalnya terbatas, tantangan terus berdatangan. Ia harus membangun ulang tim, beradaptasi dengan pelanggan, dan belajar setiap hari. Dari kesulitan membayar cicilan renovasi hingga kehilangan semua staf awal, setiap krisis menjadi ajang pertumbuhan mental dan bisnis.

Filosofi dan Harapan

Bagi Leo, bisnis adalah tentang keyakinan dan konsistensi. Ia tahu tidak semua orang akan memahami visinya sejak awal. Tapi selama ia percaya, maka jalan itu layak diperjuangkan.

“Kalau kamu yakin, terus jalan. Cerita ke orang yang salah bisa bikin buyar, jadi jaga fokus.”

Kini, logo angka 1 pada First Wave Coffee bukan sekadar desain. Itu adalah simbol perjuangan dari titik nol menuju gelombang pertama kesuksesan. Leo berharap, suatu hari nanti, angka 1 ini menjadi ikon kafe lokal yang tersebar di berbagai kota di Indonesia.

Dari hampir dijual, menjadi pemilik brand kopi yang tumbuh. Kisah Leo adalah bukti bahwa asal tidak menyerah, selalu ada jalan naik dari titik paling bawah.

Berita Terkait

Transaksi Kripto Indonesia Naik 12,87 Persen, Apa yang Mendorongnya?
Sinergi UGM, Sanggabiz, dan Komunitas Lokal: Mewujudkan Modernisasi Wellness Tourism Desa Sidorejo Berbasis Manuskrip Kuno Pawukon
Tak Harus Jadi Komika, Zie Brb Ajak Pembaca Mencoba Stand-up Comedy lewat Buku Pertamanya
Gempa Mengguncang, Mutu Tulangan Beton Ikut Diuji
PTPP Raih Kontrak Baru Rp9,3 Triliun hingga Agustus 2026
BRILiaN Culture Festival BRI Region 6, Lomba Bola Voli Jadi Ajang Perkuat Kekompakan Pekerja
Lewat BRILiaN Culture Festival, BO Segitiga Senen Tumbuhkan Semangat Kebersamaan dan Budaya Kerja
Ekspor Timur Tengah Naik, Harga WTI Berpotensi Lanjut Turun

Berita Terkait

Jumat, 31 Juli 2026 - 06:28

Uang Rp50 Ribu Jadi Umpan, 7 Anak Jonggat Diduga Jadi Korban

Rabu, 3 Juni 2026 - 16:12

Korupsi Pengadaan Dump Truck dan Arm Roll DLH Lombok Tengah, Empat Tersangka Resmi Ditahan

Senin, 25 Mei 2026 - 19:42

Hutang Berujung Maut, Penyidik Satreskrim Polresta Mataram Tetapkan Satu Tersangka

Rabu, 20 Mei 2026 - 19:01

Ahli Pidana dari JPU Sebut Pasal Gratifikasi Tidak Bisa Menjerat Pemberi

Jumat, 15 Mei 2026 - 11:58

Suliadi Protes Tuntutan Berat Kasus Sewa Tower: Saya Hanya Warga Biasa

Selasa, 5 Mei 2026 - 14:53

Sekda Lombok Tengah Jadi Saksi, Jaksa Dalami Dugaan Korupsi Dump Truck

Selasa, 5 Mei 2026 - 10:05

Sekda Lombok Tengah Dipanggil Jaksa, Pemeriksaan Berkaitan dengan Kasus Dump Truck?

Selasa, 28 April 2026 - 08:42

Personel Berprestasi Diguyur Penghargaan, Kapolres Lombok Tengah: Jangan Cepat Puas!

Berita Terbaru

Teknologi

Gempa Mengguncang, Mutu Tulangan Beton Ikut Diuji

Selasa, 6 Okt 2026 - 15:02

Teknologi

PTPP Raih Kontrak Baru Rp9,3 Triliun hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Okt 2026 - 15:02