Harga Emas di Tengah Penundaan Tarif dan Fokus Kebijakan The Fed - Koran Mandalika

Harga Emas di Tengah Penundaan Tarif dan Fokus Kebijakan The Fed

Rabu, 9 Juli 2025 - 09:50

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Harga emas (XAU/USD) menunjukkan tekanan jual menjelang pembukaan pasar Selasa (8/7) pagi, setelah kabar penundaan penerapan tarif impor timbal balik oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Awalnya dijadwalkan berlaku pada 9 Juli, tarif baru kini baru akan diterapkan pada 1 Agustus. Penundaan ini sementara meredam minat beli logam mulia, sekaligus meningkatkan daya tarik Dolar AS di tengah likuiditas yang menyusut sebelum libur perayaan Hari Kemerdekaan.

Dari sisi teknikal, analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha mencatat bahwa meski harga sempat terkoreksi, sinyal bullish perlahan mulai muncul kembali. Pola candlestick terbaru memperlihatkan rangkaian higher low dan higher high, sementara Moving Average jangka pendek menunjukkan kecenderungan menanjak melewati garis MA jangka menengah. Menurut Andy, pergerakan ini menandakan bahwa tekanan beli sedang membangun landasan, kendati sentimen pasar tetap dikendalikan oleh ketidakpastian geopolitik dan kebijakan moneter global.

Proyeksi pergerakan harian menunjukkan bahwa apabila tekanan bearish berlanjut, XAU/USD bisa terdorong menuju level support di sekitar US$ 3.276 per troy ounce. Namun, andai harga gagal menembus batas bawah tersebut dan justru memantul, prospek rebound menuju US$ 3.343 terbuka lebar. Trader disarankan untuk menggunakan kedua level ini sebagai acuan titik masuk maupun keluar posisi, sembari mencermati indikator teknikal untuk konfirmasi sinyal.

Sementara itu, kebijakan perdagangan AS kembali menjadi sorotan pasar setelah Trump menandatangani perintah eksekutif yang menunda bea tambahan pada impor, memberi jeda bagi mitra dagang seperti Jepang, yang akan dikenakan tarif 25%, dan Korea Selatan sebesar 30%. Penundaan ini, meski tidak secara resmi disebut jeda 90 hari, memberikan kesempatan bagi negara-negara terkait untuk merundingkan ulang syarat dagang dan mengurangi risiko sengketa yang lebih luas.

Kondisi risk-on mulai terasa di aset-aset berisiko, menekan permintaan terhadap safe-haven seperti emas. Indeks Dolar AS (DXY) sempat terkoreksi dari puncak mingguan 97,66 ke kisaran 97,35, namun kembali menguat saat pelaku pasar memproses data ekonomi terbaru dan pernyataan dari pejabat Federal Reserve. Penguatan Dolar ini semakin menahan laju kenaikan emas, karena emas yang dihargai dalam Greenback menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

Baca Juga :  Dukung Peningkatan Keamanan dan Kesejahteraan Petani, Eratani Lakukan Sinergi dengan BPJS Ketenagakerjaan

Investor kini membidik publikasi risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) periode Juni yang akan keluar Rabu (9/7). Dokumen tersebut diyakini akan mengungkapkan argumen para pembuat kebijakan dalam memutuskan untuk mempertahankan suku bunga antara 4,25%–4,50%, atau membuka pintu bagi pelonggaran lebih lanjut. Selain itu, data Produksi Industri Jerman per Mei yang tumbuh 1,2% juga menambah optimisme pemulihan ekonomi Eropa, sekaligus menambah tekanan pada logam mulia dalam persaingan dengan aset-aset berimbal hasil.

Dengan memadukan gambaran teknikal yang menunjukkan potensi pembalikan harga, situasi perdagangan internasional yang dinamis, serta kebijakan moneter yang masih menunggu sinyal kuat, prediksi harga emas pada hari ini bergerak di rentang US$ 3.276 hingga US$ 3.343. Pelaku pasar dianjurkan untuk secara aktif memantau setiap rilis data dan perkembangan geopolitik, mengingat fluktuasi yang bisa meningkat seiring berjalannya pekan.

Berita Terkait

Momentum TEI ke-41 Dorong Ekspor dan Tingkatkan Daya Saing Produk
Kedutaan Besar India di Jakarta Luncurkan AI Avatar DEWI untuk Perluas Akses Informasi bagi Masyarakat Indonesia
Purana Mempersembahkan “Regal Bloom” di IN2MOTIONFEST x JMFW 2026: Dialog Elegan Antara Timur dan Barat dalam Modest Fashion
Konsumen Kripto di Indonesia Capai 23,21 Juta, Bittime: Pilihan Aset Digital Semakin Beragam
Restoran Halal di Bali Nikmati Hidangan Autentik Timur Tengah di Arabian Knight
Siaran Media – 10 Tahun Astra Property, Perkuat Portofolio Komersial dan Industrial untuk Menjawab Peluang Baru di Pasar Properti Indonesia
PPATK dan MIND ID Perkuat Kolaborasi, Jaga Integritas Industri Pertambangan Nasional
KAI Logistik Catat Volume Pra-Purna Angkutan CPO Sekitar 62 Ribu Ton, Perkuat Integrasi Rantai Pasok Komoditas Strategis

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 00:02

Momentum TEI ke-41 Dorong Ekspor dan Tingkatkan Daya Saing Produk

Rabu, 14 Oktober 2026 - 20:02

Kedutaan Besar India di Jakarta Luncurkan AI Avatar DEWI untuk Perluas Akses Informasi bagi Masyarakat Indonesia

Rabu, 14 Oktober 2026 - 20:02

Purana Mempersembahkan “Regal Bloom” di IN2MOTIONFEST x JMFW 2026: Dialog Elegan Antara Timur dan Barat dalam Modest Fashion

Rabu, 14 Oktober 2026 - 19:02

Konsumen Kripto di Indonesia Capai 23,21 Juta, Bittime: Pilihan Aset Digital Semakin Beragam

Rabu, 14 Oktober 2026 - 19:02

Restoran Halal di Bali Nikmati Hidangan Autentik Timur Tengah di Arabian Knight

Rabu, 14 Oktober 2026 - 18:02

PPATK dan MIND ID Perkuat Kolaborasi, Jaga Integritas Industri Pertambangan Nasional

Rabu, 14 Oktober 2026 - 17:02

KAI Logistik Catat Volume Pra-Purna Angkutan CPO Sekitar 62 Ribu Ton, Perkuat Integrasi Rantai Pasok Komoditas Strategis

Rabu, 14 Oktober 2026 - 17:02

Gudang Mau Ditambah Lantai Mezanin, Rangkanya Jangan Asal Pilih

Berita Terbaru