Bitcoin Melejit di Tengah Gencatan Senjata AS-Iran, Sinyal Awal Reli Baru? - Koran Mandalika

Bitcoin Melejit di Tengah Gencatan Senjata AS-Iran, Sinyal Awal Reli Baru?

Jumat, 10 April 2026 - 11:00

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, 10 April 2026 – Pergerakan harga Bitcoin kembali menarik perhatian pelaku pasar setelah mencatat kenaikan 1,0% dalam 24 jam terakhir pada Jumat (10/4) ke level US$72.258. Kenaikan ini bahkan melampaui pertumbuhan total pasar kripto yang hanya naik 0,79%, menandakan adanya dorongan kuat dari faktor eksternal, khususnya sentimen global.

Lonjakan harga ini terjadi di tengah kabar meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, yang memicu reli luas pada aset berisiko, termasuk saham dan kripto.

Sentimen Global Jadi Pemicu Utama

Kenaikan Bitcoin kali ini tidak terlepas dari pengumuman gencatan senjata sementara antara AS dan Iran yang berlangsung selama dua minggu pada awal April 2026. Kabar ini langsung menurunkan kekhawatiran pasar terhadap risiko geopolitik dan mendorong investor kembali masuk ke aset berisiko.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Efeknya terlihat jelas di berbagai pasar. Indeks S&P 500 naik 1,9%, sementara Bitcoin menunjukkan korelasi tinggi sebesar 0,88 terhadap indeks tersebut, menegaskan bahwa pergerakan kripto saat ini sangat dipengaruhi kondisi makro global.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menjelaskan bahwa kondisi ini menunjukkan peran Bitcoin sebagai aset berisiko dalam ekosistem keuangan global.

“Reli Bitcoin saat ini lebih mencerminkan perubahan sentimen makro global, terutama meredanya risiko geopolitik. Dalam situasi seperti ini, Bitcoin bergerak sejalan dengan aset berisiko lainnya, bukan didorong oleh faktor fundamental internal semata,” ujar Fyqieh.

Likuidasi Besar dan Breakout Teknikal Perkuat Kenaikan

Selain sentimen geopolitik, kenaikan harga Bitcoin juga diperkuat oleh faktor teknikal dan aktivitas di pasar derivatif. Dalam 24 jam terakhir, terjadi likuidasi posisi short senilai US$427 juta, yang memicu efek domino berupa aksi beli paksa.

Baca Juga :  KAI Perkuat Transformasi Transportasi Berkelanjutan dengan Semangat Kebangkitan Nasional

Tekanan beli ini semakin memperkuat momentum setelah Bitcoin berhasil menembus level penting Fibonacci di kisaran US$71.515. Secara teknikal, indikator RSI 7 hari berada di level 67,49, yang menunjukkan tren bullish namun belum memasuki kondisi jenuh beli.

Fyqieh menilai kombinasi ini menjadi faktor penting dalam mempercepat pergerakan harga. “Likuidasi di pasar derivatif menciptakan tekanan beli tambahan yang mempercepat kenaikan. Ditambah dengan breakout di level teknikal kunci, ini memberikan validasi bahwa tren naik masih memiliki kekuatan, setidaknya dalam jangka pendek,” jelasnya.

Peran Data Inflasi dan Kebijakan The Fed

Di sisi lain, data ekonomi Amerika Serikat turut memberikan sentimen positif. Inflasi PCE Februari tercatat sebesar 2,8% secara tahunan, sesuai ekspektasi pasar, sementara inflasi inti berada di level 3%. Stabilnya inflasi ini menjadi sinyal bahwa tekanan harga tidak meningkat signifikan, sehingga memberi ruang bagi kebijakan moneter yang lebih fleksibel.

Namun demikian, perhatian pasar kini tertuju pada rilis data inflasi CPI Maret yang diperkirakan naik menjadi 3,3% secara tahunan. Data ini menjadi penting karena mencerminkan dampak langsung dari konflik geopolitik terhadap inflasi, terutama melalui kenaikan harga energi.

“Pasar saat ini berada dalam fase yang sensitif terhadap data ekonomi. Jika inflasi lebih tinggi dari ekspektasi, maka narasi suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama dan bisa menekan Bitcoin. Sebaliknya, data yang lebih rendah dapat membuka ruang bagi penguatan lanjutan,” kata Fyqieh.

Baca Juga :  Dorong Potensi Wisata, Sampoerna Gelar Pelatihan di Desa Ranupane

Outlook Jangka Pendek: Peluang Naik Masih Terbuka, Tapi Rapuh

Dalam jangka pendek, Bitcoin masih menunjukkan potensi kenaikan lanjutan selama mampu bertahan di atas level US$71.500. Jika level ini terjaga, harga berpeluang menguji resistance di kisaran US$72.545 hingga US$73.500.

Namun, risiko koreksi tetap terbuka, terutama jika gencatan senjata antara AS dan Iran tidak bertahan atau ketegangan geopolitik kembali meningkat. Dalam skenario analisis Tokocrypto, Bitcoin berpotensi turun ke area support di sekitar US$68.700.

Fyqieh menegaskan bahwa stabilitas makro menjadi kunci utama pergerakan pasar saat ini. “Tren saat ini memang bullish, tetapi sangat bergantung pada faktor eksternal, terutama geopolitik dan kebijakan ekonomi global. Investor perlu tetap waspada terhadap perubahan sentimen yang bisa terjadi dengan cepat,” ujarnya.

Pergerakan Bitcoin saat ini menunjukkan bagaimana aset kripto semakin terintegrasi dengan dinamika global. Reli yang terjadi bukan hanya hasil dari faktor internal, tetapi juga refleksi dari perubahan sentimen investor terhadap risiko global.

Kombinasi sentimen geopolitik, tekanan derivatif, dan dukungan teknikal, Bitcoin memiliki peluang untuk melanjutkan kenaikan. Namun, ketidakpastian yang masih tinggi membuat pasar tetap berada dalam kondisi yang rapuh.

Pelaku pasar diharapkan tidak hanya melihat peluang, tetapi juga mempertimbangkan risiko yang dapat muncul sewaktu-waktu seiring perubahan kondisi global.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Holding Perkebunan Nusantara Perkuat Daya Saing SDM, PalmCo Targetkan 5.120 Sertifikasi Kompetensi
Trend Flower Gifting Meningkat, Athaya Secara Resmi Membuka Floral Studio Pertamanya di Area Cibubur
WGS dan Mavvrik jalin kemitraan strategis untuk menghadirkan solusi FinOps generasi baru di Indonesia dan Asia Tenggara
Mengapa e Signature Jadi Kunci Efisiensi Operasional di Berbagai Perusahaan
Mengenal Peluang Menabung Saham AS bagi Investor Indonesia
5.000 Batang Ganja Terungkap, TNI Habema Gagalkan Peredaran Narkotika
Retail Multi Cabang Makin Efisien Berkat Integrasi Odoo Accounting dan Inventory
BRI Finance Catat Pertumbuhan Pembiayaan Multiguna 44,74% pada Semester I 2026

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 22:02

Holding Perkebunan Nusantara Perkuat Daya Saing SDM, PalmCo Targetkan 5.120 Sertifikasi Kompetensi

Selasa, 21 Juli 2026 - 21:02

Trend Flower Gifting Meningkat, Athaya Secara Resmi Membuka Floral Studio Pertamanya di Area Cibubur

Selasa, 21 Juli 2026 - 17:02

Mengapa e Signature Jadi Kunci Efisiensi Operasional di Berbagai Perusahaan

Selasa, 21 Juli 2026 - 17:02

Mengenal Peluang Menabung Saham AS bagi Investor Indonesia

Selasa, 21 Juli 2026 - 16:02

5.000 Batang Ganja Terungkap, TNI Habema Gagalkan Peredaran Narkotika

Selasa, 21 Juli 2026 - 16:02

Retail Multi Cabang Makin Efisien Berkat Integrasi Odoo Accounting dan Inventory

Selasa, 21 Juli 2026 - 16:02

BRI Finance Catat Pertumbuhan Pembiayaan Multiguna 44,74% pada Semester I 2026

Selasa, 21 Juli 2026 - 16:02

Nikmati Perjalanan Lebih Maksimal, BRI Finance Tawarkan Pembiayaan Motor Baru Mulai 0,7% per Bulan

Berita Terbaru