Bullish Emas Masih Terjaga, Awas Risiko Koreksi Jika Fed Tahan Suku Bunga - Koran Mandalika

Bullish Emas Masih Terjaga, Awas Risiko Koreksi Jika Fed Tahan Suku Bunga

Kamis, 23 Oktober 2025 - 10:15

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Harga emas (XAU/USD) terus menunjukkan performa impresif di awal pekan, didorong oleh meningkatnya spekulasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) dan melemahnya dolar AS. Logam mulia ini kembali menjadi pilihan utama investor yang mencari perlindungan di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tensi geopolitik yang belum mereda. Meski tren kenaikan masih kuat, sebagian pelaku pasar mulai berhati-hati karena potensi koreksi teknikal bisa muncul kapan saja jika arah kebijakan moneter The Fed berubah.

Menurut Andy Nugraha, Analis Dupoin Futures Indonesia, tren emas masih bergerak di jalur bullish yang solid. “Selama tekanan beli tetap dominan, harga emas berpeluang menembus area $4.750 per troy ons dalam waktu dekat,” ujarnya. Namun, Andy juga menekankan pentingnya mengantisipasi kemungkinan pembalikan arah. “Jika harga gagal mempertahankan momentum dan turun menembus level kunci di $3.800, maka peluang koreksi menuju $3.628 kembali terbuka minggu depan,” tambahnya.

Secara teknikal, pergerakan emas masih konsisten membentuk pola higher high dan higher low, memperkuat sinyal tren naik jangka menengah. Indikator Moving Average juga menunjukkan bahwa sentimen beli masih mendominasi. Selama harga mampu bertahan di atas area support $3.950–$3.800, potensi penguatan masih besar dengan target terdekat di kisaran $4.700–$4.750. Namun, jika tekanan jual meningkat, area tersebut bisa menjadi titik pantulan untuk koreksi terbatas sebelum tren naik berlanjut.

Dari sisi fundamental, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter menjadi bahan bakar utama reli emas. Pasar semakin yakin bahwa The Fed akan segera memangkas suku bunga acuan setelah serangkaian data menunjukkan tanda-tanda perlambatan ekonomi. Pemangkasan suku bunga cenderung menguntungkan emas karena menurunkan opportunity cost untuk memegang aset tanpa imbal hasil tetap. Namun, kehati-hatian tetap diperlukan.

The Fed tidak akan terburu-buru,” jelas Andy. “Jika inflasi tetap tinggi atau pasar tenaga kerja masih terlalu kuat, mereka bisa menahan laju pemangkasan suku bunga. Hal itu akan memberikan tekanan jangka pendek pada harga emas.”

Selain faktor kebijakan moneter, ketegangan geopolitik juga menjadi katalis penting bagi kenaikan emas. Perseteruan dagang antara AS dan Tiongkok, terutama terkait kebijakan ekspor bahan langka (rare earth), menciptakan kekhawatiran baru di pasar global. Ketegangan ini memperkuat minat investor terhadap aset safe-haven seperti emas. Sejalan dengan itu, HSBC telah menaikkan proyeksi harga emas untuk periode 2025–2026, menilai permintaan akan tetap tinggi di tengah volatilitas global.

Baca Juga :  Selenggarakan RUPO, WSBP Bahas Perkembangan Kinerja bersama Pemegang Obligasi

Sementara itu, Bank of America juga menunjukkan optimisme serupa. Dalam laporan terbarunya, bank tersebut memperkirakan harga emas dapat mencapai USD 5.000 per troy ons pada tahun 2026, seiring peningkatan pembelian oleh bank sentral dan investor institusional yang mencari diversifikasi cadangan.

Faktor pelemahan dolar AS turut memberikan dorongan tambahan pada harga emas. Dolar yang melemah membuat emas lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya, meningkatkan daya tariknya di pasar global. Namun, jika imbal hasil obligasi AS kembali naik atau ekspektasi inflasi melonjak, maka tekanan terhadap emas bisa meningkat kembali.

Secara keseluruhan, prospek emas masih positif selama harga tetap bertahan di atas level $3.800. Kenaikan menuju $4.750 menjadi skenario utama, dengan sentimen didorong oleh pelemahan dolar, ketidakpastian geopolitik, dan prospek rate cut dari The Fed. Meski begitu, risiko koreksi tetap mengintai, terutama jika The Fed memberikan sinyal hawkish atau data ekonomi AS menunjukkan ketahanan yang lebih kuat dari perkiraan.

Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES.

Berita Terkait

Harga Drone Pertanian DJI Agras 2026: Bandingkan T25P, T55, T70P, dan T100 Sebelum Beli
BIZTECH for Change 2026 Perkuat Peran BINUS @Bekasi sebagai Business, Service, and Technology Campus
Semarak Kemerdekaan, BRI Finance Hadirkan Pembiayaan Motor Baru Mulai 0,7% per Bulan
Ikatan Perencana Desa (IPD) Jadikan Layar Desa Sebagai Metode, Hidupkan Desa dan Ajak Perencana Lebih Memahami Desa
Polda NTT Dampingi Wapres Gibran dari Sekolah hingga Tenda Pengungsian, Pastikan Korban Gempa Terlayani
AGE Strategic Perkuat Ekosistem Strategy-to-Execution untuk Mendukung Pertumbuhan Bisnis di Indonesia
Momentum Strategis Indonesia Emas 2045! Infrastruktur AI Marketing Tigo AI Membantu Brand Merebut Pasar Ekonomi Digital Bernilai 300 Miliar
Memperkuat Pemasaran Digital Asia Tenggara: Tigo AI Meluncurkan Sistem Terpadu Produksi Iklan AI dan Distribusi Konten Native

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 00:02

Sanct, Sosial Media yang Pertemanannya Dimulai dari Bertemu Langsung, Rilis Film Pendek tentang Perantau yang Belum Bisa Pulang

Senin, 14 September 2026 - 23:02

68% Pencarian Kini Berakhir Tanpa Klik, Merek yang Tak Disebut AI Otomatis Tersingkir

Senin, 14 September 2026 - 18:02

Tindak Tegas Pelanggaran Etika di Maros, Elnusa Petrofin Pastikan Distribusi BBM Tetap Aman

Senin, 14 September 2026 - 18:02

Spicelab.ai Resmi Hadir: Platform Marketing AI yang Bisa Diatur Sendiri oleh Pemilik Bisnis

Senin, 14 September 2026 - 18:02

Peringatan Bos AI Guncang Pasar, Investor Mulai Waspadai Saham Teknologi

Senin, 14 September 2026 - 17:02

Hampir 23 Juta Investor Kripto, Indonesia Siap Jadi Pemain Global?

Senin, 14 September 2026 - 16:02

ENSIA 2026 Perkuat Ekonomi Kerthi Bali melalui Inovasi Lingkungan dan Sosial

Senin, 14 September 2026 - 16:02

Cara Memilih Jenis Tanda Tangan Elektronik untuk Kontrak Bernilai Besar

Berita Terbaru