Harga Emas Koreksi Setelah Rekor Tertinggi, Tren Kenaikan Masih Terjaga - Koran Mandalika

Harga Emas Koreksi Setelah Rekor Tertinggi, Tren Kenaikan Masih Terjaga

Jumat, 2 Januari 2026 - 21:53

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Harga emas dunia (XAU/USD) tercatat mengalami pelemahan pada perdagangan terbaru setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di kisaran mendekati US$4.526 pada Rabu (24/12). Pada awal pekan ini, Senin (29/12) sesi Asia, pergerakan emas terlihat melemah dan diperdagangkan di area US$4.470. Kondisi tersebut terjadi di tengah meningkatnya volatilitas pasar akibat menurunnya likuiditas menjelang libur Natal. Meski mengalami koreksi, emas masih membukukan penguatan hampir 3% secara mingguan, yang mencerminkan bahwa tren bullish masih tetap mendominasi.

Analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, menilai pelemahan harga emas saat ini lebih dipicu oleh aksi ambil untung jangka pendek setelah lonjakan harga yang cukup signifikan. Menurutnya, dari sudut pandang teknikal, struktur pergerakan emas masih menunjukkan kecenderungan naik. Analisis berbasis pola candlestick yang dikombinasikan dengan indikator Moving Average memperlihatkan bahwa XAU/USD masih bergerak dalam jalur uptrend yang kuat.

Andy Nugraha menjelaskan bahwa selama harga emas mampu bertahan di atas zona support utama, dominasi tekanan beli masih relatif terjaga. Ia menambahkan bahwa koreksi yang terjadi saat ini merupakan hal yang wajar secara teknikal, mengingat kenaikan harga yang berlangsung cukup agresif dalam beberapa waktu terakhir.

Dalam proyeksi pergerakan harian, Dupoin Futures Indonesia memperkirakan bahwa jika momentum bullish kembali menguat, harga emas berpeluang melanjutkan kenaikan menuju area US$4.575 sebagai target terdekat. Sebaliknya, apabila tekanan jual meningkat dan penguatan gagal berlanjut, maka potensi penurunan diperkirakan mengarah ke level US$4.470 yang berfungsi sebagai support jangka pendek.

Dari sisi fundamental, reli emas sepanjang tahun ini tercatat sebagai salah satu yang paling kuat dalam beberapa dekade terakhir. Sejak awal tahun, harga emas telah melonjak lebih dari 70%, menempatkannya pada jalur performa tahunan terbaik sejak 1979. Kenaikan tersebut didorong oleh meningkatnya minat terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik global, risiko perlambatan ekonomi, serta derasnya aliran dana institusional ke logam mulia.

Faktor lain yang turut menopang pergerakan emas adalah pelemahan dolar Amerika Serikat. Tekanan terhadap mata uang AS dipengaruhi oleh kebijakan perdagangan proteksionis Presiden AS Donald Trump serta sikap kebijakan moneter Federal Reserve yang cenderung dovish. Sepanjang 2025, The Fed telah memangkas suku bunga acuan sebesar total 75 basis poin, dan pasar masih memproyeksikan adanya dua kali pemangkasan tambahan pada tahun depan. Lingkungan suku bunga rendah ini meningkatkan daya tarik emas karena menurunkan biaya peluang kepemilikan aset tanpa imbal hasil.

Baca Juga :  Kebijakan The Fed Sukses Melawan Inflasi, Pemangkasan Suku Bunga Jadi Opsi

Sementara itu, rilis data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan sinyal yang beragam. Klaim pengangguran awal tercatat menurun menjadi 214 ribu, lebih rendah dari ekspektasi pasar. Namun, klaim pengangguran berkelanjutan justru meningkat ke level 1,923 juta. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal ketiga tercatat cukup solid di angka 4,3%, melampaui perkiraan sebelumnya.

Ke depan, Andy Nugraha memperkirakan harga emas berpotensi bergerak dalam fase konsolidasi dalam jangka pendek, seiring terbatasnya katalis baru serta meningkatnya kecenderungan profit taking menjelang akhir tahun. Meski demikian, prospek kenaikan dalam jangka menengah hingga panjang dinilai masih tetap terbuka, dengan peluang berlanjutnya reli emas hingga 2026 selama ketidakpastian global dan kebijakan moneter longgar masih menjadi faktor utama di pasar.

Press Release ini juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Renovasi Lobi Drop Off Gedung BRI Region 6 Resmi Rampung, Tingkatkan Kenyamanan dan Kelancaran Akses
Meluncur di IIMS 2026, AEROX ALPHA Pamerkan Warna & Grafis Anyar yang Anti-Mainstream
Inovasi Untuk IKN Dari IA-ITB Kaltim Hadirkan Ganesha Hub
FLOQ Dukung Bulan Literasi Kripto 2026 dan Penguatan Literasi Aset Digital di Indonesia
Kontribusi Freeport ke Negara Sentuh Rp 187 Triliun
Kesalahan Psikologis yang Sering Dilakukan Trader di Pasar Keuangan
Hari Pertama WFH ASN, Pengguna LRT Jabodebek Turun 10 Persen, Layanan Tetap Optimal
Promo Hadiah Miliaran Kian Ramai, Pemenang Baru Terus Bermunculan

Berita Terkait

Senin, 16 Maret 2026 - 15:21

Dokter Mamang Jabat Kadis Kesehatan Lombok Tengah

Selasa, 24 Februari 2026 - 08:16

FUGUKU NYALAKAN SEMANGAT 2026: HADIRKAN INSTALASI SENI NASIONAL, KOLEKSI RAMADAN, DAN EKSPANSI MANCANEGARA

Kamis, 5 Februari 2026 - 00:17

Hadapi Dinamika Bisnis 2026: KitaLulus dan Smart Salary Gelar Forum Strategis bagi HR Leaders di Jakarta

Rabu, 4 Februari 2026 - 21:27

Satu Tahun Melayani: KA Madiun Jaya Catatkan 43.387 Penumpang dan Terus Bertransformasi

Rabu, 4 Februari 2026 - 20:04

Penjualan Tiket KA Jarak Jauh Lebaran 2026 dari Daop 2 Bandung Diminati Masyarakat

Senin, 2 Februari 2026 - 20:30

KAI Daop 1 Jakarta Sambut Kunjungan SMK Jayawisata1 Kenalkan Pelayanan Prima di Stasiun Gambir

Minggu, 1 Februari 2026 - 10:17

Harga Emas Bertahan Bullish, Sentimen Geopolitik Jadi Penggerak Utama

Rabu, 28 Januari 2026 - 20:31

PTPP Rampungkan RSUD Tarempa, Dukung Asta Cita Pemerintah Perkuat Layanan Kesehatan di Wilayah Terluar

Berita Terbaru

Teknologi

Inovasi Untuk IKN Dari IA-ITB Kaltim Hadirkan Ganesha Hub

Minggu, 12 Apr 2026 - 21:00