Koran Mandalika, Lombok Tengah — Penyelenggaraan jalan sehat dalam rangka menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia di Kelurahan Leneng, Kecamatan Praya, Lombok Tengah, menuai sorotan.
Pasalnya, kegiatan tersebut dinilai tidak melibatkan unsur pemuda secara maksimal. Selain itu, penyelenggara disebut menggunakan jasa Event Organizer (EO) dari luar Kelurahan Leneng. Kondisi tersebut memantik kritik dari sejumlah warga.
Salah seorang warga Lingkungan Tebero, Kelurahan Leneng, Muhamad Ilmi, menilai penggunaan EO luar terkesan meremehkan kapasitas pemuda setempat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Dalam kegiatan-kegiatan besar, EO boleh saja digunakan. Barangkali EO itu berasal dari Leneng dan memberdayakan pemuda Leneng, tidak ada soal. Tapi ini EO-nya bukan orang Leneng. Artinya, sekali lagi, pemuda Leneng yang notabene 80 persen berpendidikan diragukan kemampuannya dalam mengelola agenda jalan sehat,” katanya.
Menurut Ilmi, penggunaan jasa EO juga berpotensi membuat anggaran kegiatan menjadi lebih besar. Padahal, menurutnya, pemuda Leneng memiliki kemampuan untuk menyelenggarakan kegiatan serupa.
“Saya pikir Kelurahan Leneng terlalu menghamburkan uang. Anggaran untuk sewa EO tidak mungkin harganya Rp500 ribu sampai Rp1 juta, pasti di atas itu. Kenapa tidak kalau pemuda Leneng dilibatkan dalam agenda ini, anggaran untuk sewa EO bisa digunakan untuk hal-hal lain,” ujarnya.
Ilmi kemudian membandingkan penyelenggaraan jalan sehat saat ini dengan kegiatan serupa pada tahun-tahun sebelumnya. Ia mengatakan, pada 2020 lalu, pemuda dari setiap lingkungan di Kelurahan Leneng dilibatkan sebagai panitia dalam penyelenggaraan jalan sehat se-Kabupaten Lombok Tengah.
“Tahun 2020 lalu pemuda Leneng per lingkungan dikumpulkan lalu dijadikan kepanitiaan untuk mengadakan jalan sehat se-Kabupaten Lombok Tengah. Murni semua anak muda Leneng yang mengerjakan. Alhamdulillah, kegiatan berjalan lancar dan sangat meriah,” tuturnya.
Ia menilai minimnya keterlibatan pemuda menunjukkan bahwa keberadaan pemuda di Kelurahan Leneng belum mendapat perhatian yang semestinya. Terlebih, kata dia, Karang Taruna Kelurahan Leneng dalam beberapa tahun terakhir dinilai tidak aktif.
“Berapa tahun Karang Taruna vakum atau mati suri di Leneng. Itu sebagai tolok ukur bahwa pemuda tidak dilihat oleh kelurahan. Padahal, Karang Taruna merupakan mitra untuk melakukan hal-hal besar,” ujarnya.
Ilmi juga mengkritisi pernyataan Plt Lurah Leneng, Tris Naning Hati, yang menyebut kepala lingkungan (kaling) dapat menjadi perwakilan unsur pemuda dalam kegiatan tersebut.
“Unsur pemuda yang mana? Apakah Kaling? Kaling tugasnya berbeda dengan pemuda. Masa iya Kaling mengambil tugas, fungsi, dan ranah pemuda. Ini sudah cacat dalam berpikir,” kata Ilmi.
Terkait rapat persiapan kegiatan, Ilmi mengaku tidak mengetahui adanya pelibatan pemuda dalam pembahasan tersebut. Menurutnya, pihak kelurahan tidak pernah mengundang dirinya maupun ketua-ketua remaja di lingkungan untuk terlibat sebagai panitia.
“Pernah tidak pihak kelurahan mengundang, atau tiap-tiap ketua remaja lingkungan diundang?” ucapnya.
Ia membenarkan bahwa agenda peringatan HUT RI sempat disampaikan oleh kepala lingkungan. Namun, menurutnya, pemberitahuan tersebut sebatas informasi mengenai agenda, bukan undangan untuk melibatkan pemuda sebagai panitia.
“Pak Kaling pernah memberi tahu agenda 17 Agustus yang di kelurahan. Tapi untuk diundang sebagai panitia tidak pernah. Beberapa Kaling juga ada yang cukup kecewa dengan agenda ini karena merasa pemuda tidak dilibatkan,” tuturnya.
Sebelumnya, Plt Lurah Leneng Tris Naning Hati menyampaikan bahwa pihak kelurahan telah melibatkan berbagai unsur dalam proses penyelenggaraan jalan sehat.
“Kita melibatkan banyak unsur, termasuk beberapa pemuda yang ada di Leneng. Kaling juga kita libatkan, yang mana Kaling-Kaling di Leneng juga bisa sebagai perwakilan dari pemuda-pemuda yang ada di Leneng,” kata Naning.
Pernyataan tersebut kemudian mendapat tanggapan dari Ilmi. Ia menegaskan bahwa kepala lingkungan tidak dapat disamakan dengan unsur pemuda karena memiliki tugas dan fungsi yang berbeda.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak Kelurahan Leneng belum memberikan konfirmasi lebih lanjut terkait penggunaan jasa EO dari luar maupun besaran anggaran untuk kegiatan jalan sehat tersebut. Upaya konfirmasi kepada Plt Lurah Leneng terus dilakukan, namun belum mendapat jawaban. (dik)
