Krisis Akan Selalu Ada, Menunggu Kondisi Ideal Justru Bisa Membuat Investor Kehilangan Peluang - Koran Mandalika

Krisis Akan Selalu Ada, Menunggu Kondisi Ideal Justru Bisa Membuat Investor Kehilangan Peluang

Rabu, 12 Agustus 2026 - 10:02

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di tengah dinamika ekonomi global yang masih dibayangi berbagai ketidakpastian, banyak calon investor masih bertanya: apakah sekarang waktu yang tepat untuk mulai berinvestasi? Ketika pasar bergerak fluktuatif, suku bunga berubah, dan sentimen geopolitik memengaruhi ekonomi dunia, tidak sedikit yang memilih menunggu hingga kondisi dianggap lebih aman sebelum mengambil keputusan investasi.

Padahal, jika melihat perjalanan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir, ketidakpastian bukanlah sesuatu yang bersifat sementara. Mulai dari pandemi COVID-19 pada 2020, penyebaran varian Delta dan Omicron pada 2021, lonjakan inflasi dan kenaikan suku bunga global pada 2022, konflik Rusia-Ukraina pada 2023, kekhawatiran resesi serta perkembangan artificial intelligence yang memicu volatilitas pasar pada 2024, perang tarif Amerika Serikat pada 2025, hingga memanasnya konflik di Timur Tengah sepanjang 2026. Berbagai peristiwa tersebut menunjukkan bahwa selalu ada faktor baru yang memengaruhi pasar dan membentuk sentimen investor.

Bagi Chief Marketing Officer (CMO) Nanovest, Jovita Widjaja, kondisi tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk terus menunda investasi. Menurutnya, ketidakpastian merupakan bagian dari siklus pasar yang akan selalu ada. Karena itu, keputusan investasi tidak seharusnya didasarkan pada ada atau tidaknya krisis, melainkan pada tujuan keuangan dan strategi investasi yang konsisten.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kalau melihat perjalanan ekonomi global, hampir setiap tahun selalu ada peristiwa yang memicu kekhawatiran pasar. Artinya, krisis akan selalu ada dalam berbagai bentuk. Kalau kita terus menjadikan krisis sebagai alasan untuk menunda investasi, kemungkinan besar kita tidak akan pernah mulai. Ketakutan pasar akan selalu muncul, tetapi jika melihat sejarahnya, pasar selalu mampu pulih dan kembali bertumbuh. Yang berisiko bukan hanya menghadapi volatilitas, tetapi juga kehilangan peluang pertumbuhan karena terlalu lama menunggu,” ujar Jovita.

Baca Juga :  Delegasi Bisnis Indonesia Hadiri Global Digital Trade Expo 2026 di Hangzhou: 31 Delegasi dari 16 Perusahaan, Empat Lembaga Pemerintah, dan Dua Asosiasi

Mengubah Cara Pandang Terhadap Krisis

Menurut Jovita, salah satu tantangan terbesar yang masih dihadapi investor adalah belum memahami profil risiko masing-masing. Akibatnya, banyak investor mudah panik ketika pasar mengalami volatilitas dan mengambil keputusan berdasarkan emosi, seperti menjual aset saat harga sedang turun. Padahal, sebelum mulai berinvestasi, langkah pertama yang perlu dilakukan bukan hanya memilih produk investasi, tetapi juga memahami diri sendiri dan mengenali tingkat risiko yang mampu dihadapi.

Berbekal pengalaman lebih dari 14 tahun di industri investasi dan sekuritas, Jovita telah melewati berbagai siklus pasar, mulai dari periode pertumbuhan hingga berbagai krisis global yang memicu koreksi signifikan.

“Selama 14 tahun terakhir saya bekerja di bidang ini, sudah banyak krisis yang terjadi. Namun tidak lama setelah krisis apapun itu, pasar kembali pulih bahkan mencatatkan kenaikan yang lebih tinggi dari penurunannya. Pengalaman itu mengajarkan bahwa pertanyaannya bukan lagi if the market will rebound, melainkan when. Yang terpenting adalah memiliki strategi investasi dan tetap disiplin menjalaninya.“

Menurutnya, volatilitas merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan investasi. Investor yang memahami profil risikonya akan lebih siap menghadapi fluktuasi pasar tanpa mudah terbawa kepanikan, karena mereka telah memilih instrumen yang sesuai dengan tujuan keuangan dan tingkat toleransi risikonya.

“Tidak ada yang bisa secara konsisten menentukan kapan pasar berada di titik terendah atau tertinggi. Karena itu, membangun kebiasaan berinvestasi secara rutin jauh lebih realistis dibanding terus menunggu momentum yang dianggap sempurna. Ketika kita memahami profil risiko sendiri, kita juga akan lebih tenang menghadapi pergerakan pasar karena sudah mengetahui strategi investasi yang paling sesuai dengan diri kita.“

Baca Juga :  MuslimAi.ai – Ruang Aman untuk Jiwa yang Penuh Tapi Tak Tahu Harus Bicara ke Siapa

Untuk mendukung kebutuhan investor dengan karakter yang berbeda-beda, Nanovest menyediakan berbagai pilihan produk investasi sesuai profil risiko masing-masing. Investor dengan profil yang lebih konservatif dapat memilih Earn Program Nanovest atau Digital Gold sebagai alternatif yang lebih stabil, sementara investor dengan toleransi risiko yang lebih tinggi dapat berinvestasi di saham Amerika Serikat maupun aset kripto. Dengan memahami profil risiko sejak awal, investor dapat membangun portofolio yang lebih sesuai dengan kebutuhannya dan tetap konsisten menjalankan strategi investasi, meskipun pasar sedang bergejolak.

Konsistensi Lebih Penting daripada Menunggu Momentum

Meningkatnya jumlah investor Indonesia menjadi sinyal positif bagi perkembangan industri keuangan. Namun, di tengah derasnya arus informasi dan perubahan kondisi ekonomi global, investor membutuhkan lebih dari sekadar akses transaksi. Mereka membutuhkan pemahaman yang tepat agar tidak mudah dipengaruhi ketakutan jangka pendek.

Jovita menilai kepercayaan dibangun melalui edukasi yang berkelanjutan, transparansi, serta kemampuan membantu masyarakat memahami bahwa fluktuasi pasar merupakan bagian alami dari perjalanan investasi.

“Pada akhirnya, investasi bukan tentang menunggu waktu yang benar-benar sempurna untuk mulai, karena kondisi tersebut mungkin tidak akan pernah datang. Krisis akan selalu menjadi bagian dari perjalanan pasar, tetapi sejarah juga menunjukkan bahwa pasar memiliki kemampuan untuk pulih dan terus bertumbuh. Karena itu, yang paling penting bukan menghindari setiap gejolak, melainkan membangun kebiasaan berinvestasi yang konsisten agar tidak kehilangan peluang pertumbuhan dalam jangka panjang.“

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Gratis Transfer antarbank di neobank hingga 200 Kali per Bulan
Dulu Cukup Ganti Air, Kini Air Penggantinya Harus Steril: FisTx Hadirkan Baskara UV dan Cakra Elektrolisis
Bagaimana Sistem Keamanan Dana dan Data Bekerja pada Aplikasi Trading Online?
1 Juta Pergerakan Penumpang, KAI Bandara Perkuat Konektivitas Sekaligus Tebar Kepedulian di Lubuk Pakam
Pertamina SMEXPO Yogyakarta Bukukan Capaian Rp3,8 Miliar, Buka Peluang Pasar Lebih Luas bagi UMKM
PLN NPC dan TSG Teken Kontrak Kolaborasi Proyek Gas Insulated Switchgear
Pelindo Multi Terminal Perkuat Layanan Nonpetikemas Pelabuhan Belawan
Buktikan Daya Saing Global, Siswa BINUS SCHOOL Torehkan Nilai IB dan Cambridge di Atas Rata-Rata Dunia

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 19:02

Gratis Transfer antarbank di neobank hingga 200 Kali per Bulan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:02

Dulu Cukup Ganti Air, Kini Air Penggantinya Harus Steril: FisTx Hadirkan Baskara UV dan Cakra Elektrolisis

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:02

Bagaimana Sistem Keamanan Dana dan Data Bekerja pada Aplikasi Trading Online?

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:02

1 Juta Pergerakan Penumpang, KAI Bandara Perkuat Konektivitas Sekaligus Tebar Kepedulian di Lubuk Pakam

Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:02

Pertamina SMEXPO Yogyakarta Bukukan Capaian Rp3,8 Miliar, Buka Peluang Pasar Lebih Luas bagi UMKM

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:02

Pelindo Multi Terminal Perkuat Layanan Nonpetikemas Pelabuhan Belawan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:02

Buktikan Daya Saing Global, Siswa BINUS SCHOOL Torehkan Nilai IB dan Cambridge di Atas Rata-Rata Dunia

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:02

KAI Bandara Salurkan Bantuan Pendidikan untuk Anak-anak Panti Asuhan Al Washliyah Lubuk Pakam

Berita Terbaru

Daerah

Tuan Guru Bagu Tutup Usia, Nasihatnya Jadi Pegangan

Kamis, 15 Okt 2026 - 19:01