Mengapa Uang Masih Jadi Topik yang Sensitif untuk Dibicarakan? - Koran Mandalika

Mengapa Uang Masih Jadi Topik yang Sensitif untuk Dibicarakan?

Senin, 28 Juli 2025 - 17:11

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kita sering mendengar istilah “uang itu sensitif”. Karena itulah cerita soal kondisi keuangan ke orang terdekat, seringkali takut dianggap mengeluh, pamer, atau tidak tahu harus mulai dari mana? Akhirnya banyak orang memilih diam. Di Indonesia dan banyak tempat lain, bicarakan uang masih dianggap tabu.

Padahal, menurut ahli perilaku seperti Wendy De La Rosa, diam-diam menyimpan masalah keuangan justru bikin situasinya makin rumit. Kita jadi merasa sendirian, bingung cari solusi, dan akhirnya terjebak dalam tekanan finansial yang tak kunjung selesai.

Ketika diam menjadi kebiasaan, kita makin jauh dari solusi. Di sinilah muncul pertanyaan “mengapa uang jadi topik yang begitu sensitif?”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mengapa Uang Jadi Topik yang Sensitif?

Dalam banyak budaya, uang bukan sekadar alat tukar. Ia melekat dengan status, harga diri, bahkan perasaan sukses atau gagal. Di Indonesia, konteks ini makin kompleks karena beberapa hal, di antaranya: 

1. Budaya komunal dan jaga image

Kita tumbuh dalam masyarakat yang menjunjung tinggi keharmonisan dan citra baik. Akibatnya, banyak orang enggan jujur tentang kondisi keuangannya karena takut dianggap gagal atau mempermalukan keluarga. Ada beban psikologis tersendiri jika harus mengakui sedang kesulitan apalagi di depan orang tua, pasangan, atau lingkungan sosial.

2. Takut dimanfaatkan atau dianggap gagal

Kalau kamu terlihat punya uang, ada kekhawatiran bakal dimintai pinjaman (yang belum tentu kembali). Sebaliknya, kalau terbuka soal kesulitan, takut jadi bahan gunjingan atau dianggap “menyusahkan”. Akhirnya, banyak orang memilih diam, dan ini justru memperparah situasi.

3. Pantangan sosial yang masih kuat

Pernah dengar ungkapan, “jangan ngomongin uang di depan makanan”? Atau, “tidak baik bicarakan uang terus-terusan”? Meskipun terdengar sederhana, kepercayaan seperti ini ikut menguatkan bahwa uang adalah topik yang “kotor” atau pantas dibicarakan hanya dalam ruang tertutup. Padahal, keuangan adalah bagian dari hidup yang sangat nyata dan penting.

Baca Juga :  Konsisten Terapkan GCG, WSBP Kembali Raih 2 Penghargaan di TOP GRC Awards 2024

4. Ekspektasi keluarga dan peran generasi

Banyak anak muda merasa tertekan karena standar hidup yang harus dipenuhi. Ada tuntutan untuk “sukses” secepat mungkin, bantu keluarga, dan tetap terlihat mapan. Ini membuat banyak generasi muda menutup-nutupi masalah finansial agar tidak dianggap gagal oleh keluarga atau lingkungan. 

Semua tekanan ini membuat banyak orang bingung harus mulai dari mana untuk memperbaiki kondisi keuangannya. Padahal, setelah berani terbuka, ada langkah-langkah konkret yang bisa diambil.

Dari Tabu ke Aksi Nyata Memilih Instrumen Keuangan yang Sesuai

Setelah berani mulai terbuka, langkah selanjutnya adalah menyusun strategi finansial yang realistis dan sesuai dengan kebutuhan pribadi. Namun, ini pun bisa jadi tantangan kalau belum terbiasa. Salah satu kunci yang sering terlewat? Memilih instrumen keuangan atau bank yang benar-benar bisa mendukung tujuan kita.

Misalnya, kamu ingin menyisihkan dana secara rutin untuk kebutuhan jangka pendek. Produk seperti tabungan berjangka atau deposito bisa jadi pilihan karena sifatnya yang “mengunci uang” dan membuat kamu tidak gampang tergoda untuk membelanjakan dana tersebut.

Namun, kalau tujuanmu adalah untuk jangka panjang, seperti dana pensiun atau rumah, kamu bisa mulai mempertimbangkan reksa dana, emas, atau bahkan investasi jangka panjang lainnya. Nah, di sinilah pentingnya memilih lembaga keuangan yang transparan, punya edukasi yang memadai, dan tentunya aman secara legal.

Menemukan Platform Finansial yang Mendukung

Rekomendasi bank dengan layanan digital atau platform keuangan bukan cuma tempat menyimpan uang. Platform ini juga bisa jadi mitra dalam perjalanan finansialmu. Dari banyaknya daftar bank dengan layanan digital,  pastikan kamu memilih rekomendasi bank dengan layanan digital dengan beberapa kriteria berikut ini:

1. Menyediakan fitur edukasi finansial seperti kalkulator investasi, tips budgeting, atau perencana keuangan digital.

Baca Juga :  Nusantara Global Network Menjalin Kemitraan Strategis dengan Errante Broker untuk Memberdayakan Introducing Broker (IB) dan Master IB (MIB)

2. Transparan dalam biaya dan bunga agar kamu tahu betul risiko dan potensi yang diambil.

3. Fleksibel dan relevan dengan kebutuhan anak muda, termasuk yang mendukung metode pembayaran digital seperti QRIS, untuk transaksi harian yang lebih praktis dan terkontrol.

Karena saat uang tak lagi jadi rahasia yang menakutkan, kita bisa saling belajar, saling dukung, dan tumbuh bersama. Inilah yang kita butuhkan saat ini, membangun kebiasaan keuangan yang sehat dengan langkah kecil yang konsisten.

Salah satu cara paling sederhana dan berdampak adalah menabung dengan tujuan yang jelas. Namun tentu saja, agar prosesnya terasa lebih terarah, penting untuk memilih produk tabungan yang sesuai kebutuhan. Bukan cuma soal tempat menyimpan uang, namun juga bagaimana tabungan itu bisa bantu kamu berkembang.

Bank Neo Commerce melalui aplikasi neobank menghadirkan Tabungan NOW, yang dirancang agar proses menabung jadi lebih praktis dan terasa hasilnya. Produk ini cocok untuk kamu yang ingin membangun kebiasaan finansial sehat tanpa ribet. Kamu bisa mulai kapan saja dan dari nominal berapa pun.

Keunggulan lain dari Tabungan NOW adalah bunga kompetitif sebesar 4,25% per tahun yang cair setiap hari. Artinya, kamu bisa melihat tabunganmu bertumbuh secara real-time, bukan sekadar angka statis di layar. Ini bisa jadi motivasi tambahan untuk terus menabung secara konsisten.

Download aplikasi neobank di PlayStore atau App Store dan persiapan biaya menikah dan berumah tangga di Tabungan NOW sekarang. 

Cek info lebih lanjut dan terbaru di link Tabungan NOW.

***

PT Bank Neo Commerce Tbk berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) & Bank Indonesia (BI), serta merupakan bank peserta penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Berita Terkait

Meningkatkan Kesiapan Karier Anak: BINUS @Malang Jawab Kekhawatiran Orang Tua dalam Memilih Kampus
Alphabet Melesat: AI dan Cloud Dorong Laba 85%, Saham Langsung Terbang 9,3%
Tips Kirim Uang ke Luar Negeri: Lebih Efisien di Tengah Kurs yang Dinamis
BINUS Online Future Festival Bekali Generasi Muda untuk Memahami Potensi Diri & Lebih Siap Memulai Karier
Apa Itu Flight to Safety? Strategi saat Pasar Tidak Stabil
Berdayakan Generasi Muda, BINUS @Medan Perkuat Peran sebagai Penggerak Pengembangan Talenta Kota Medan
NPF Terkendali di 2,23%, BRI Finance Tunjukkan Ketahanan Kualitas Aset
Kinerja Q1 2026 Tumbuh Signifikan, Hypefast Catat Lonjakan Net Income Lebih Dari 300 Persen YoY

Berita Terkait

Senin, 4 Mei 2026 - 17:00

Meningkatkan Kesiapan Karier Anak: BINUS @Malang Jawab Kekhawatiran Orang Tua dalam Memilih Kampus

Senin, 4 Mei 2026 - 16:01

Alphabet Melesat: AI dan Cloud Dorong Laba 85%, Saham Langsung Terbang 9,3%

Senin, 4 Mei 2026 - 16:01

Tips Kirim Uang ke Luar Negeri: Lebih Efisien di Tengah Kurs yang Dinamis

Senin, 4 Mei 2026 - 16:01

BINUS Online Future Festival Bekali Generasi Muda untuk Memahami Potensi Diri & Lebih Siap Memulai Karier

Senin, 4 Mei 2026 - 15:01

Berdayakan Generasi Muda, BINUS @Medan Perkuat Peran sebagai Penggerak Pengembangan Talenta Kota Medan

Senin, 4 Mei 2026 - 14:00

NPF Terkendali di 2,23%, BRI Finance Tunjukkan Ketahanan Kualitas Aset

Senin, 4 Mei 2026 - 13:00

Kinerja Q1 2026 Tumbuh Signifikan, Hypefast Catat Lonjakan Net Income Lebih Dari 300 Persen YoY

Senin, 4 Mei 2026 - 12:00

54% Investor Pasar Modal Indonesia di Bawah 30 Tahun, BRIDS Catat Lonjakan Transaksi Digital 1.327% di 2025

Berita Terbaru