Mineral Strategis Indonesia Jadi Mesin Pendongkrak Daya Saing Industri - Koran Mandalika

Mineral Strategis Indonesia Jadi Mesin Pendongkrak Daya Saing Industri

Rabu, 10 Juni 2026 - 18:01

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA — Pengelolaan mineral strategis di Indonesia semakin progresif, ditandai dengan proyek hilirisasi yang terus berjalan sekaligus kuatnya kinerja operasional perusahaan-perusahaan tambang nasional. Kinerja positif yang dibukukan perusahaan-perusahaan dalam Grup MIND ID sepanjang kuartal I 2026 menjadi sinyal kuat bahwa pengelolaan mineral strategis nasional akan memainkan peran semakin besar dalam memperkuat daya saing industri Indonesia dan memberikan dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Di tengah tantangan ekonomi global dan tekanan pasar komoditas yang masih berlanjut, sejumlah anggota Grup MIND ID mampu mencatatkan pertumbuhan produksi dan penjualan yang solid. Kinerja tersebut memperlihatkan bagaimana komoditas strategis seperti timah, nikel, tembaga, emas, bauksit, alumina, dan batu bara tetap menjadi fondasi penting bagi pembangunan industri nasional.

Direktur Eksekutif Indonesia Mining & Energy Watch, Ferdy Hasiman, menilai kinerja operasional anggota Grup MIND ID sepanjang tiga bulan pertama tahun ini menunjukkan arah yang positif dan konsisten.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kuartal I ini lumayan bagus. Hanya mungkin belum terlalu maksimal karena Freeport belum maksimal produksinya. Kontribusi dividen dari Freeport lumayan besar. Lalu dari Antam, labanya besar. Saya juga mengapresiasi PT Timah. Ini menjadi sejarah karena baru kuartal I saja sudah mencetak laba lebih dari Rp1 triliun. Ini sangat baik,” ujar Ferdy.

Salah satu capaian paling menonjol datang dari PT Timah Tbk. Perseroan berhasil meningkatkan produksi bijih timah hingga 96 persen menjadi 6.312 ton Sn dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 3.224 ton. Produksi logam timah juga meningkat 82 persen menjadi 5.630 metrik ton, sementara penjualan logam timah melonjak 113 persen menjadi 6.009 metrik ton. Kinerja tersebut memperlihatkan semakin kuatnya posisi Indonesia sebagai salah satu produsen timah utama dunia.

Di sektor mineral hilir, PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) mencatatkan kemajuan signifikan pada bisnis bauksit dan alumina. Penjualan bauksit meningkat 9 persen menjadi 593.476 wet metric ton (wmt), sedangkan produksi Chemical Grade Alumina (CGA) naik 13 persen menjadi 49.566 ton dan penjualannya meningkat 11 persen menjadi 49.072 ton. Capaian tersebut menunjukkan semakin pentingnya peran hilirisasi dalam menciptakan nilai tambah mineral di dalam negeri.

Sementara itu, PT Vale Indonesia Tbk berhasil meningkatkan volume penjualan nikel sebesar 15 persen menjadi 45 ribu ton pada kuartal I 2026. Kinerja ini menjadi indikator kuat bahwa permintaan terhadap mineral kritis untuk kebutuhan baterai kendaraan listrik dan energi bersih masih terus bertumbuh.

Baca Juga :  Penumpang Makin Dimanjakan, KAI Daop 6 Yogyakarta Tambah Luxury Lounge di Lantai 2 Stasiun Yogyakarta Mulai 1 Agustus 2025

Di sisi lain, PT Freeport Indonesia masih menghadapi dampak insiden mud rush yang terjadi pada September 2025. Produksi tembaga tercatat 95 juta pound dan produksi emas sebesar 92 ribu ounce. Meski demikian, perusahaan tetap mempertahankan operasional dan melanjutkan berbagai proyek strategis yang akan memperkuat posisi Indonesia dalam industri pengolahan tembaga dan logam mulia bernilai tambah.

Menurut Ferdy, capaian tersebut menunjukkan bahwa komoditas strategis seperti nikel, emas, timah, tembaga, dan batu bara masih menjadi penopang penting bagi penguatan industri nasional. Apalagi kebutuhan dunia terhadap mineral kritis terus meningkat seiring perkembangan industri kendaraan listrik, energi terbarukan, dan teknologi tinggi.

“Capaian tersebut menunjukkan bahwa komoditas strategis seperti nikel, emas, timah, tembaga, dan batu bara masih menjadi penopang penting bagi penguatan industri nasional. Apalagi, kebutuhan dunia terhadap mineral kritis terus meningkat seiring perkembangan industri kendaraan listrik, energi terbarukan, dan teknologi tinggi,” jelasnya.

Selain didukung kinerja operasional, penguatan daya saing industri nasional juga ditopang oleh sejumlah proyek strategis yang dijalankan anggota Grup MIND ID. Proyek-proyek tersebut menjadi bagian dari upaya Indonesia meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral melalui hilirisasi dan pengembangan industri pengolahan di dalam negeri.

Di sektor tembaga, PT Freeport Indonesia terus melanjutkan pengembangan tambang bawah tanah Grasberg di Papua serta pengoperasian fasilitas Precious Metal Refinery (PMR) di Gresik. Kehadiran PMR menjadi tonggak penting karena memungkinkan pemurnian emas dan perak dilakukan di dalam negeri sehingga memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.

Pada komoditas batu bara, PT Bukit Asam (PTBA) melanjutkan pengembangan proyek hilirisasi Dimethyl Ether (DME) yang diproyeksikan menjadi substitusi impor LPG nasional. Proyek ini menjadi salah satu agenda strategis pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah batu bara sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

“Seperti proyek DME milik PTBA. Dana negara sudah dikucurkan melalui injeksi modal. Hanya pertanyaannya, apakah PTBA bisa melanjutkan proyek itu? Karena sebelumnya investor asing sudah mundur,” kata Ferdy.

Meski demikian, ia berharap proyek tersebut dapat berjalan dengan model bisnis yang sehat dan memberikan manfaat ekonomi yang optimal.

“Kita berharap proyek ini memang ekonomis dan tidak membebani keuangan PTBA ke depan,” ujarnya.

Di sektor mineral kritis, ANTAM mempercepat pengembangan proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat. Proyek ini menjadi bagian penting dalam meningkatkan nilai tambah bauksit nasional melalui produksi alumina di dalam negeri. Selain itu, ANTAM juga terlibat dalam pembangunan proyek ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi di Halmahera Timur bersama Indonesia Battery Corporation (IBC) dan Huayou, yang diharapkan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok kendaraan listrik global.

Baca Juga :  Keunggulan dan Aplikasi dari Fabrikasi CNC Custom untuk Industri

“Lalu PT Antam di Halmahera Timur juga harus berjalan lebih baik. Selain itu ada proyek alumina di Mempawah yang harus segera diselesaikan. Kalau realisasi proyek-proyek tersebut berjalan cepat, ke depan kinerja mereka akan semakin baik,” ujar Ferdy.

Sementara itu, PT Timah juga mulai mengembangkan potensi logam tanah jarang atau rare earth elements (REE) melalui pengolahan mineral ikutan monasit. Meski masih berada pada tahap pilot project, pengembangan REE dinilai strategis karena komoditas tersebut menjadi bahan baku penting bagi industri elektronik, energi terbarukan, kendaraan listrik, hingga teknologi pertahanan.

“Proyek tanah jarang itu memang belum berjalan. Masih tahap pilot project. Cuma isunya sekarang, kalau memang mau berjalan, akan bermitra dengan siapa?” kata Ferdy.

Menurut dia, keberhasilan proyek-proyek hilirisasi mineral tidak hanya ditentukan oleh kesiapan perusahaan, tetapi juga kepastian regulasi dan iklim investasi yang kondusif.

“Investasi akan berjalan kalau kebijakannya stabil. Kalau hari ini berubah, besok berubah lagi, investor akan memilih tidak masuk,” ujarnya.

Ferdy menilai percepatan penyelesaian proyek-proyek strategis tersebut akan menjadi faktor penentu bagi kemampuan Indonesia keluar dari ketergantungan ekspor bahan mentah. Semakin banyak komoditas yang diolah di dalam negeri, semakin besar nilai tambah, investasi, lapangan kerja, dan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang dapat diciptakan.

Lebih lanjut, Ferdy menilai sinergi yang dibangun MIND ID sebagai holding industri pertambangan telah berjalan sesuai perannya dalam memperkuat ekosistem bisnis anggota grup.

“Sebenarnya dari awal sinerginya sudah bagus. MIND ID sudah berperan sebagai holding dan leader. Tugasnya mengontrol dan memastikan ekosistem berjalan dengan baik,” katanya.

Kombinasi antara kinerja operasional yang solid, proyek hilirisasi yang terus bergerak, dan penguatan rantai pasok mineral strategis dinilai akan semakin memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global. Dengan fondasi tersebut, mineral strategis nasional tidak hanya menjadi sumber penerimaan negara, tetapi juga motor penggerak daya saing industri dan pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Perluas Perspektif Global Mahasiswa DKV, BINUS University @Semarang Hadirkan Program Twin Class Internasional
Warga Bekasi dan Cibubur Bisa Manfaatkan LRT Jabodebek untuk Akses ke Jakarta Fair 2026
Lewat Program PFsains, Pertamina Jembatani Inovasi Faspol BRIN untuk Pengelolaan Sampah di Bantul
FLOQ Hadirkan World Cup Trading Campaign: Dukung Tim Favorit, Kumpulkan Poin, dan Menangkan Total Hadiah Rp200 Juta
FLOQ: Geopolitik Timur Tengah dan Arus Keluar ETF Kripto Berpotensi Menentukan Arah Bitcoin pada Juni 2026
K Mall Perkuat Destinasi Lifestyle dengan Kehadiran Ranch Market
Mengapa Tanggal Jatuh Tempo Pinjaman Perlu Menjadi Perhatian?
Apa Itu Trading Futures? Memahami Cara Kerja dan Peluangnya di Pasar Global

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 19:00

Perluas Perspektif Global Mahasiswa DKV, BINUS University @Semarang Hadirkan Program Twin Class Internasional

Rabu, 10 Juni 2026 - 18:01

Warga Bekasi dan Cibubur Bisa Manfaatkan LRT Jabodebek untuk Akses ke Jakarta Fair 2026

Rabu, 10 Juni 2026 - 18:01

Mineral Strategis Indonesia Jadi Mesin Pendongkrak Daya Saing Industri

Rabu, 10 Juni 2026 - 18:01

Lewat Program PFsains, Pertamina Jembatani Inovasi Faspol BRIN untuk Pengelolaan Sampah di Bantul

Rabu, 10 Juni 2026 - 18:01

FLOQ Hadirkan World Cup Trading Campaign: Dukung Tim Favorit, Kumpulkan Poin, dan Menangkan Total Hadiah Rp200 Juta

Rabu, 10 Juni 2026 - 16:00

K Mall Perkuat Destinasi Lifestyle dengan Kehadiran Ranch Market

Rabu, 10 Juni 2026 - 16:00

Mengapa Tanggal Jatuh Tempo Pinjaman Perlu Menjadi Perhatian?

Rabu, 10 Juni 2026 - 15:00

Apa Itu Trading Futures? Memahami Cara Kerja dan Peluangnya di Pasar Global

Berita Terbaru