Rico Wisnu Wibisono (CEO FisTx) : 78.000 Hektare Tambak Mangkrak Pantura Kunci Indonesia Kuasai Pasar Nila Dunia - Koran Mandalika

Rico Wisnu Wibisono (CEO FisTx) : 78.000 Hektare Tambak Mangkrak Pantura Kunci Indonesia Kuasai Pasar Nila Dunia

Kamis, 23 Juli 2026 - 08:23

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Revitalisasi lahan tambak idle lewat teknologi nila salin diproyeksikan menambah produksi hingga 600.000 ton per tahun dan mengangkat Indonesia sebagai pemain utama ekspor nila global.

Yogyakarta – Di tengah goyahnya dominasi produsen filet asal Tiongkok akibat degradasi lingkungan dan pengetatan regulasi antibiotik, CEO FisTx Indonesia Rico Wisnu Wibisono menyerukan agar Indonesia berhenti memandang ikan nila sebagai komoditas kelas dua. Melalui gagasan yang ia sebut Tilapianomic, Rico mendorong nila diposisikan sebagai instrumen utama pembangunan ekonomi pesisir, bukan sekadar menu murah di warung pinggir jalan.

“Nila adalah mahakarya biologis yang selama ini kita remehkan. Efisiensi konversi pakannya tinggi, dagingnya premium, dan pasar dunia sedang mencarinya sebagai pengganti cod yang pasokannya kian menipis. Yang belum kita bangun hanyalah orkestrasinya,” ujar Rico.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Rico, kunci lompatan itu ada pada puluhan ribu hektare tambak idle di sepanjang Pantai Utara Jawa — eks-lahan udang yang kini terbengkalai. Dengan varietas nila salin tahan salinitas tinggi, sekitar 78.000 hektare lahan marginal itu dapat direvitalisasi tanpa membebani perairan tawar daratan. Jika 30 persen saja diaktivasi kembali, potensi tambahan produksi mencapai 450.000–600.000 ton per tahun, cukup mendorong produksi nasional menembus dua juta ton dan mengubah posisi tawar Indonesia di rantai pasok global.

Baca Juga :  Hore! SPAM Mandalika Beroperasi, Masyarakat Sekitar Dapat Pelayanan Air Bersih

Dampaknya, kata Rico, tidak berhenti di angka produksi. Dengan intervensi teknologi akuakultur presisi, sensor kualitas air, pakan otomatis, hingga telemetri berbasis AI, rasio konversi pakan dapat ditekan dari 1,6 menjadi 1,2. Karena pakan menyerap hingga 70 persen biaya produksi, efisiensi ini langsung terasa di kantong petambak. Secara makro, efek pengganda dari sektor ini diperkirakan mencapai 1,48 artinya nilai ekspor nila tidak menguap ke luar negeri, melainkan memutar roda industri pakan, permesinan, dan logistik dalam negeri.

“Ini bukan sekadar cerita produksi ikan. Ini cerita bagaimana marjin ekspor kembali ke desa, bukan menguap ke kantong segelintir pemodal di kota besar,” tegas Rico, merujuk pada proyeksi kenaikan Nilai Tukar Petani Ikan dan penurunan ketimpangan pendapatan di kawasan pesisir penghasil nila.

Baca Juga :  Cara Ampuh Mencegah Bau Pipis Anjing di Rumah

Namun Rico menekankan, transformasi sebesar ini mustahil dikerjakan sendirian. Ia mendorong model kolaborasi Quadruple-Helix yang melibatkan Empat Aktor Utama :

1. Pemerintah : melalui regulasi, zonasi, biosekuriti, dan fasilitasi sertifikasi ekspor.

2. Investor strategis : untuk pembangunan infrastruktur skala besar seperti hatchery, cold-chain, dan pengolahan fillet.

3. Koperasi modern : sebagai agregator pembudidaya rakyat agar memiliki skala ekonomi kompetitif.

4. Startup teknologi seperti FisTx : sebagai akselerator efisiensi dan inovasi operasional di tingkat kolam

“Tanpa integrasi, kita hanya akan menghasilkan volume. Dengan integrasi, kita menciptakan nilai, dan nilai itulah yang mengangkat kesejahteraan pembudidaya nila di seluruh Indonesia,” pungkas Rico.

Gagasan Tilapianomic ini lahir dari pengamatan langsung FisTx Indonesia terhadap ribuan pembudidaya nila binaan di berbagai wilayah, dan diharapkan menjadi salah satu rujukan diskusi kebijakan akuakultur nasional ke depan. (Fistx)

Press Release ini juga tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Usai Hadiri Toba Caldera Culture Festival, Menteri Ekonomi Kreatif Nikmati Pengalaman Danau Toba di Marianna Resort Samosir
Semakin Pede dengan GCG, PAM JAYA Raih Predikat “Sangat Baik”
LBFest 2026 Dorong Brand Lokal Karya Entrepreneur Muda BINUS ‘Naik Kelas’
Minat Kendaraan Listrik Menguat, Pembiayaan EV BRI Finance Tumbuh 13,8 Kali
BRI BO Jatinegara Peringati Hari Kesaktian Pancasila dengan Khidmat dan Semangat Kebangsaan
BRI Region 6 Gelar Upacara Kesaktian Pancasila, Perkuat Semangat Kebangsaan Insan BRI
BRIDS Salurkan Bantuan untuk Dukung Pemulihan Pascagempa di Nusa Tenggara Timur
Waskita Beton Precast Kembali Tanam 228 Pohon pada September 2026, Lanjutkan Komitmen Pehijauan Bersama Pelanggan

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 22:02

ACT! Project Mendorong Konsumsi Produk Berkelanjutan di Indonesia

Kamis, 15 Oktober 2026 - 19:02

Gratis Transfer antarbank di neobank hingga 200 Kali per Bulan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:02

Dulu Cukup Ganti Air, Kini Air Penggantinya Harus Steril: FisTx Hadirkan Baskara UV dan Cakra Elektrolisis

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:02

1 Juta Pergerakan Penumpang, KAI Bandara Perkuat Konektivitas Sekaligus Tebar Kepedulian di Lubuk Pakam

Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:02

Pertamina SMEXPO Yogyakarta Bukukan Capaian Rp3,8 Miliar, Buka Peluang Pasar Lebih Luas bagi UMKM

Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:02

PLN NPC dan TSG Teken Kontrak Kolaborasi Proyek Gas Insulated Switchgear

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:02

Pelindo Multi Terminal Perkuat Layanan Nonpetikemas Pelabuhan Belawan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:02

Buktikan Daya Saing Global, Siswa BINUS SCHOOL Torehkan Nilai IB dan Cambridge di Atas Rata-Rata Dunia

Berita Terbaru

Daerah

Tuan Guru Bagu Tutup Usia, Nasihatnya Jadi Pegangan

Kamis, 15 Okt 2026 - 19:01