Rumah Retak Setelah Beberapa Tahun? Ini Kesalahan pada Besi Beton - Koran Mandalika

Rumah Retak Setelah Beberapa Tahun? Ini Kesalahan pada Besi Beton

Rabu, 29 April 2026 - 00:00

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pernahkah Anda memperhatikan retakan halus yang tiba-tiba muncul di dinding atau kolom rumah, padahal bangunan tersebut baru berumur tiga atau lima tahun? Bagi banyak pemilik rumah, retak rambut atau retakan struktur sering dianggap sebagai “masalah tanah” atau “faktor cuaca”.

Padahal, jika dirunut secara teknis, masalah tersebut sering kali berakar dari dalam beton itu sendiri, tepatnya pada pemilihan dan pemasangan besi beton yang tidak tepat. Besi beton adalah otot bagi bangunan; jika ototnya bermasalah, kulit (dinding) pasti akan ikut pecah.

Berikut adalah beberapa kesalahan fatal terkait besi beton yang sering menyebabkan rumah “rewel” setelah beberapa tahun dihuni.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

1. Fenomena “Besi Banci” (Diameter Tidak Standar)

Salah satu penyebab utama retak struktur adalah penggunaan besi yang tidak memenuhi standar SNI (Standar Nasional Indonesia), atau yang akrab disebut “besi banci” di lapangan. Besi ini biasanya dijual lebih murah karena diameternya lebih kecil dari yang tertera pada label.

Seorang praktisi pengawas proyek hunian menjelaskan risiko tersembunyi dari praktik penghematan ini.

“Banyak orang mengira selisih diameter 0,5 mm atau 1 mm itu sepele. Padahal, kapasitas beban besi itu dihitung berdasarkan luas penampang melingkarnya. Jika diameter berkurang sedikit saja, kemampuan besi menahan beban tarik berkurang drastis. Akibatnya, saat bangunan mulai ‘settling’ atau menerima beban perabotan penuh, beton akan retak karena besinya tidak kuat menahan tarikan struktur.”

2. Mengabaikan “Selimut Beton” (Beton Dekking)

Banyak tukang bangunan yang memasang besi tulangan terlalu mepet ke papan bekisting. Akibatnya, saat beton kering, posisi besi berada terlalu dekat dengan permukaan luar dinding atau kolom.

Baca Juga :  Indonesian National League (INL), Horseback Archery Series I

Kondisi ini sangat berbahaya karena besi tidak memiliki “selimut beton” yang cukup tebal untuk melindunginya dari udara dan kelembapan. Seorang ahli forensik bangunan menyoroti dampak jangka panjang dari kesalahan sepele ini.

“Besi yang terlalu dekat dengan permukaan luar akan mudah mengalami oksidasi. Udara dan air merembes masuk melalui pori-pori beton, memicu karat pada besi. Saat besi berkarat, volumenya memuai hingga dua kali lipat. Tekanan dari dalam ini akan mendorong beton keluar, menyebabkan beton pecah atau ‘spalling’, yang diawali dengan retakan memanjang searah besi di dalamnya.”

3. Salah Fungsi: Pakai Besi Polos untuk Tulangan Utama

Demi menekan biaya, sering kali ditemukan penggunaan besi beton polos untuk seluruh bagian rumah, termasuk pada kolom utama dan balok lantai dua. Padahal, besi polos memiliki daya lekat (bonding) yang jauh lebih rendah dibandingkan besi beton ulir.

Dalam struktur beton bertulang, besi dan beton harus bekerja sebagai satu kesatuan. Besi ulir memiliki sirip yang berfungsi “mengunci” beton agar tidak bergeser. Jika tulangan utama hanya menggunakan besi polos, saat terjadi beban puncak atau guncangan, risiko besi “tergelincir” di dalam beton sangat tinggi, yang memicu retakan besar pada struktur utama.

4. Jarak Begel (Sengkang) yang Terlalu Jarang

Begel atau sengkang berfungsi untuk menjaga agar tulangan utama tetap pada posisinya dan menahan gaya geser. Kesalahan yang sering terjadi adalah memasang begel dengan jarak yang terlalu lebar misalnya lebih dari 20 cm untuk kolom utama rumah tinggal demi menghemat jumlah besi.

Jarak begel yang terlalu renggang membuat tulangan utama menjadi “lemah” saat menahan beban tekan dari atas. Akibatnya, kolom bisa mengalami deformasi (melengkung sedikit), yang kemudian merambat menjadi retakan diagonal pada dinding yang menempel pada kolom tersebut.

Baca Juga :  Wujudkan Perjalanan Aman, KAI Gandeng Komunitas Pencinta Kereta Api, Sosialisasikan Pencegahan Pelecehan Seksual

Cara Menghindari Retak Bangunan di Masa Depan

Agar investasi rumah Anda tidak menjadi beban biaya renovasi di kemudian hari, pastikan beberapa hal berikut dilakukan saat pembangunan:

Gunakan Besi SNI Full: Selalu ukur diameter besi menggunakan alat caliper saat material tiba di lokasi proyek. Pastikan diameter aktual sesuai dengan spesifikasi teknis.

Pastikan Selimut Beton Minimal 2-3 cm: Gunakan “tahu beton” (beton dekking) untuk mengganjal besi agar posisinya berada tepat di tengah-tengah struktur, tidak menempel pada bekisting.

Kombinasi Polos dan Ulir: Gunakan besi ulir untuk tulangan utama (kolom dan balok) dan besi polos untuk sengkang (begel). Ini adalah standar efisiensi yang aman.

Perhatikan Detail Sambungan: Pastikan panjang tekukan besi (kait) dan panjang sambungan antar besi sudah sesuai standar agar distribusi beban merata.

Kesimpulan

Rumah yang kokoh bukan hanya soal semen yang banyak atau pasir yang bagus, tapi soal bagaimana besi di dalamnya bekerja dengan benar. Menghemat beberapa juta rupiah dengan membeli besi berkualitas rendah di awal proyek sering kali berujung pada biaya perbaikan yang mencapai puluhan juta rupiah beberapa tahun kemudian.

Ingat, dalam konstruksi, memperbaiki struktur yang sudah tertutup jauh lebih sulit dan mahal daripada membangunnya dengan benar sejak awal.

Apakah dinding rumah Anda mulai menunjukkan retakan di dekat sudut kolom atau balok? Segera periksa apakah itu retak rambut pada plesteran atau retak struktural yang membutuhkan penanganan serius.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Holding Perkebunan Nusantara Cetak Atlet Tenis Muda Berprestasi, Tiga Atlet PalmCo Masuk Radar Timnas
Bitcoin Terkoreksi Hingga Ke $76.000, Bittime Bitcoin Pizza Day Jadi Kesempatan Buy The Deep?
Holding Perkebunan Nusantara Terus Dorong Transisi Energi dan Efisiensi, Pabrik Sawit PTPN IV PalmCo Raih PROPER Hijau
Proyek EPC Coal Handling Facility Inpit Conveyor Banko antara PT Krakatau Baja Konstruksi dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk Rampung di Awal 2026
KAI Daop 2 Bandung Mencatat Tanggal 17 Mei 2026 sebagai Puncak Libur Panjang Kenaikan Yesus Kristus
Apakah Bitcoin Akan Menembus US$100.000? Clarity Act dan Sentimen Makro Jadi Sorotan Pasar Kripto
Long Weekend Datang, Pengeluaran Tambah Bengkak? Ini Cara Biar Dompet Tetap Terjaga
60 Persen Ruang Pamer Telah Terjual Saat Industri Otomotif Bersiap Untuk Automechanika Jakarta 2026

Berita Terkait

Selasa, 19 Mei 2026 - 07:00

Holding Perkebunan Nusantara Cetak Atlet Tenis Muda Berprestasi, Tiga Atlet PalmCo Masuk Radar Timnas

Senin, 18 Mei 2026 - 20:00

Bitcoin Terkoreksi Hingga Ke $76.000, Bittime Bitcoin Pizza Day Jadi Kesempatan Buy The Deep?

Senin, 18 Mei 2026 - 20:00

Holding Perkebunan Nusantara Terus Dorong Transisi Energi dan Efisiensi, Pabrik Sawit PTPN IV PalmCo Raih PROPER Hijau

Senin, 18 Mei 2026 - 19:00

Proyek EPC Coal Handling Facility Inpit Conveyor Banko antara PT Krakatau Baja Konstruksi dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk Rampung di Awal 2026

Senin, 18 Mei 2026 - 19:00

KAI Daop 2 Bandung Mencatat Tanggal 17 Mei 2026 sebagai Puncak Libur Panjang Kenaikan Yesus Kristus

Senin, 18 Mei 2026 - 18:00

Long Weekend Datang, Pengeluaran Tambah Bengkak? Ini Cara Biar Dompet Tetap Terjaga

Senin, 18 Mei 2026 - 17:00

60 Persen Ruang Pamer Telah Terjual Saat Industri Otomotif Bersiap Untuk Automechanika Jakarta 2026

Senin, 18 Mei 2026 - 17:00

Dari Toko Sparepart ke Precision Parts Sourcing: Transformasi Bisnis Otomotif di Era Digital

Berita Terbaru