Saat Rupiah Melemah dan Biaya Hidup Naik, Banyak Orang Diam-Diam Memilih Cara Ini untuk Bertahan - Koran Mandalika

Saat Rupiah Melemah dan Biaya Hidup Naik, Banyak Orang Diam-Diam Memilih Cara Ini untuk Bertahan

Sabtu, 18 April 2026 - 09:00

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Saat Rupiah Melemah dan Biaya Hidup Naik, Banyak Orang Diam-Diam Memilih Cara Ini untuk Bertahan

Di tengah situasi ekonomi yang penuh dinamika, satu hal menjadi semakin jelas: masyarakat tidak lagi hanya mencari dana, tetapi juga cara yang lebih cerdas untuk mengelola aset mereka.

Di tengah tekanan ekonomi yang kian terasa, mulai dari pelemahan rupiah hingga kenaikan harga kebutuhan pokok, masyarakat Indonesia perlahan mengubah cara mereka mengelola keuangan. Jika sebelumnya pinjaman bank menjadi pilihan utama, kini semakin banyak yang mencari alternatif yang lebih cepat, fleksibel, dan tidak mengorbankan aset.

Data pencarian digital menunjukkan lonjakan minat terhadap topik seperti “harga emas hari ini”, “rupiah ke dolar”, hingga “cara mendapatkan dana cepat”. Fenomena ini mencerminkan satu hal yang sama: meningkatnya kebutuhan likuiditas di tengah ketidakpastian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun menariknya, tidak semua orang memilih menjual aset mereka.

Sebagian justru mengambil langkah yang lebih strategis, yakni memanfaatkan aset yang dimiliki sebagai jaminan tanpa harus kehilangan kepemilikannya. Skema ini dikenal luas sebagai gadai, dan kini mulai kembali dilirik, terutama oleh kalangan yang memiliki aset bernilai tinggi.

Di pasar, aset seperti emas, jam tangan mewah, tas branded, hingga kendaraan premium dinilai memiliki karakteristik yang ideal sebagai sumber likuiditas. Selain nilainya relatif stabil, aset-aset ini juga memiliki pasar sekunder yang aktif, sehingga mudah untuk dinilai dan dicairkan.

Baca Juga :  UTOL, An All-Filipino TNC Company Expands to Iloilo

Fenomena ini juga diamati oleh pelaku industri. Business Development deGadai, David Tatangsurja, menyebut bahwa dalam beberapa waktu terakhir terjadi pergeseran cara pandang masyarakat terhadap aset.

“Dulu aset seperti jam tangan atau tas mewah lebih banyak diposisikan sebagai koleksi atau simbol gaya hidup. Sekarang, kami melihat semakin banyak yang mulai menyadari bahwa aset tersebut juga bisa menjadi alat untuk menjaga cashflow, tanpa harus dijual, jadi bisa melakukan gadai tas misalnya” ujar David.

Menurutnya, kondisi ekonomi global yang tidak menentu membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan finansial. Menjual aset di saat pasar tidak optimal sering kali dianggap kurang menguntungkan, sehingga opsi gadai menjadi alternatif yang lebih rasional.

“Dalam situasi seperti sekarang, banyak nasabah yang memilih untuk tetap mempertahankan asetnya. Gadai memberikan fleksibilitas karena mereka bisa mendapatkan dana cepat, tetapi tetap memiliki kesempatan untuk mengambil kembali aset tersebut,” lanjutnya.

Baca Juga :  Seruan Hari Bumi untuk Pelestarian: Permata Alam Tersembunyi di Indonesia

Selain faktor fleksibilitas, kecepatan proses juga menjadi pertimbangan utama. Dibandingkan dengan pinjaman konvensional yang membutuhkan waktu dan persyaratan lebih kompleks, gadai dinilai lebih praktis, terutama untuk kebutuhan mendesak atau menjaga arus kas jangka pendek.

Tren ini juga sejalan dengan perkembangan global, di mana aset luxury mulai dipandang sebagai bagian dari strategi keuangan, bukan sekadar konsumsi. Di berbagai negara, pasar resale untuk barang-barang seperti jam tangan premium dan tas branded terus menunjukkan pertumbuhan, memperkuat posisi aset tersebut sebagai instrumen bernilai.

Meski demikian, para pengamat mengingatkan bahwa setiap keputusan finansial tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Pemahaman terhadap risiko, tenor pinjaman, serta kemampuan pelunasan menjadi faktor penting yang tidak boleh diabaikan.

Di tengah situasi ekonomi yang penuh dinamika, satu hal menjadi semakin jelas: masyarakat tidak lagi hanya mencari dana, tetapi juga cara yang lebih cerdas untuk mengelola aset mereka.

Dan bagi sebagian orang, jawabannya bukan menjual, melainkan memanfaatkan apa yang sudah mereka miliki.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Sanct Social Mampir ke ARCHIWEEK 4.0 UMN, Kampus Pertama Setelah Singapura dan Jakarta dalam Tujuh Minggu
Resmi Buka Kampus Baru, BINUS ASO Siapkan Talenta Engineering untuk Industri Masa Depan
Jasa Buzzer Adalah Promosi dengan Ketentuan dan Risiko Menurut JasaViral
MEDIA ALERT: RECAP OF HIGHLIGHTS – PURANA AT SOLO BATIK FASHION X SOLO FASHION WEEK 2026
TOMOHON JAZZ FESTIVAL 2026 SUKSES DIGELAR DUA HARI DAN CATAT SEJARAH FESTIVAL BARU DI SULAWESI UTARA
Jaga Kesehatan Pekerja, LRT Jabodebek Perkuat Fondasi Pelayanan Transportasi Publik
Echoes from the Land of the Dragon: Karya Film Roxx memenangkan Award di ART & TUR 2026
BRI Finance Optimalkan Jaringan Cabang, Siapkan Ekspansi Selektif pada 2027

Berita Terkait

Senin, 2 November 2026 - 16:53

​Jembatani Kebutuhan Warga Beraim, Haji Supli PKS Cari Celah Perjuangkan Air Bersih dan Alsintan

Senin, 2 November 2026 - 16:43

Reses Di Tengah Kebijakan Buntu: Haji Supli Dituntut Perjuangkan Usulan Yang Terlarang Dianggarkan

Senin, 2 November 2026 - 07:33

Awas! Nyamuk dan Air Kencing Tikus Mengintai Lombok Tengah, Dinkes: Jangan Tunggu Sakit Baru Bergerak

Minggu, 1 November 2026 - 20:23

Bukan Janji Manis, Abdusahid Pilih Realistis Tanggapi Tuntutan Warga Kelebuh

Minggu, 1 November 2026 - 16:36

Jaga Wajah Wisata Indonesia: Gerindra & Duta Lingkungan Sulap Kuta Lombok Jadi Pelopor ASRI

Minggu, 1 November 2026 - 13:04

Gaya Koboi Maulidi Serap Aspirasi: Disapa Guyonan, Pulang Bawa Segepok PR Warga

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 18:52

Olah Kelapa Jadi VCO CocoSam, Samsudin Asal Sukadana Lombok Tengah Raih Juara I Pemuda Pelopor NTB

Jumat, 30 Oktober 2026 - 15:25

Dari Sapi Hingga Seragam Posyandu: Peta Kebutuhan Warga Jontlak yang Masuk Catatan Haji Supli

Berita Terbaru