UEA Geser Amerika, Kini Jadi Negara Penguasa Bitcoin Terbesar di Dunia? - Koran Mandalika

UEA Geser Amerika, Kini Jadi Negara Penguasa Bitcoin Terbesar di Dunia?

Minggu, 23 Maret 2025 - 20:30

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Siapa bilang Amerika Serikat masih jadi raja Bitcoin? Fakta terbaru menunjukkan bahwa dominasi Negeri Paman Sam mulai tergeser. Negara lain diam-diam merangsek naik dan kini dikabarkan menjadi pemilik Bitcoin terbesar secara global. Menariknya, negara ini bukanlah pusat keuangan tradisional seperti yang selama ini diduga banyak orang.

Negara mana yang kini jadi pemilik BTC terbanyak? Berikut ulasannya.

Uni Emirat Arab Diduga Salip AS dengan 420.000 BTC

Posisi teratas kini diduga ditempati oleh Uni Emirat Arab (UEA) yang dikabarkan menyimpan 420.000 BTC, atau setara sekitar Rp651 triliun. Meskipun belum ada konfirmasi resmi, rumor ini diperkuat oleh sejumlah laporan yang menyebut bahwa UEA tengah membangun infrastruktur besar-besaran di industri kripto.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Langkah agresif ini diduga menjadi bagian dari strategi jangka panjang UEA dalam mendiversifikasi ekonomi dan memperkuat posisi sebagai hub keuangan digital global.

Amerika Serikat Tetap Dominan dengan 198.109 BTC

Meski posisinya bergeser, Amerika Serikat masih tercatat sebagai salah satu pemilik resmi Bitcoin terbesar, dengan total 198.109 BTC senilai sekitar Rp307 triliun. Pemerintah AS diketahui memiliki cadangan Bitcoin strategis dan tengah menggodok regulasi melalui BITCOIN Act, yang mengusulkan pembelian hingga 200.000 BTC setiap tahun selama lima tahun.

Baca Juga :  KAI Daop 1 Jakarta Bersama DJKA Selenggarakan Angkutan Motor Gratis Selama Libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026

Kebijakan ini mencerminkan keseriusan pemerintah AS dalam menjadikan Bitcoin bagian dari cadangan keuangan nasional.

Tiongkok Dikabarkan Sudah Melepas 194.000 BTC

Tiongkok sebelumnya memegang 194.000 BTC hasil penyitaan dari skandal PlusToken pada 2019. Namun, laporan terbaru menyebut bahwa sebagian besar aset tersebut kemungkinan besar sudah dijual melalui crypto mixers dan exchange terpusat.

Jika informasi ini benar, maka posisi Tiongkok dalam daftar negara pemilik Bitcoin terbesar bisa dibilang sudah tidak relevan lagi untuk saat ini.

Inggris Jadi Pemain Kripto Terbesar di Eropa

Dengan total kepemilikan sebesar 61.245 BTC atau setara Rp95 triliun, Inggris Raya menjadi negara Eropa dengan akumulasi Bitcoin terbesar. Negara ini diketahui mulai memanfaatkan Bitcoin sebagai bagian dari strategi cadangan digital nasional dan cukup aktif dalam pengembangan ekosistem blockchain.

Korea Utara Kumpulkan Bitcoin dari Aksi Peretasan

Berbeda dari negara lainnya, Korea Utara mengumpulkan Bitcoin bukan melalui pembelian, melainkan lewat aksi kejahatan siber. Grup peretas Lazarus yang disponsori negara tercatat menguasai sekitar 13.518 BTC (sekitar Rp21 triliun), sebagian besar berasal dari pencurian besar-besaran seperti kasus Bybit yang terjadi pada Februari 2025.

Ini menjadikan Korea Utara sebagai pemilik Bitcoin terbesar berbasis aktivitas ilegal, sekaligus tantangan besar bagi keamanan siber global.

El Salvador Tetap Konsisten Meski Ada Tekanan IMF

Sejak 2021, El Salvador menjadi negara pertama yang menjadikan Bitcoin sebagai alat pembayaran resmi. Saat ini, mereka tercatat memiliki 6.118 BTC, senilai sekitar Rp9,4 triliun.

Baca Juga :  Cosplay dan Kreativitas Era Baru: "Starlight Journey Shaping the Next Era" di BINUS @Kemanggisan

Namun, arah kebijakan negara ini mulai berubah. Karena tekanan dari IMF, pemerintah El Salvador berencana menghentikan program pembelian “1 BTC per hari” mulai Juli 2025 sebagai syarat untuk mendapatkan pinjaman sebesar $1,4 miliar dari lembaga tersebut.

Bitcoin Semakin Strategis dalam Ekonomi Global

Melihat data terbaru, terlihat jelas bahwa Bitcoin tak lagi sekadar menjadi aset investasi individu, tetapi sudah masuk ke dalam strategi geopolitik dan cadangan keuangan negara. Negara-negara besar mulai sadar bahwa Bitcoin bisa menjadi alat lindung nilai sekaligus bagian dari infrastruktur ekonomi masa depan.

Dengan tren ini, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan akan semakin banyak negara, baik besar maupun berkembang, yang mulai membangun cadangan nasional berbasis kripto.

Jika kamu ingin tahu lebih banyak soal perkembangan Bitcoin dan aset digital lainnya, kamu bisa ikuti terus update terbarunya di Bittime, platform yang menyediakan informasi, edukasi, dan fitur trading kripto yang lengkap dan terpercaya. Dengan satu aplikasi, kamu bisa memantau pergerakan pasar, belajar strategi, sekaligus bertransaksi aset kripto dengan aman dan mudah.

Berita Terkait

Reska Catering Suguhkan Layanan Profesional di Rapim UO Kemhan 2026
FLOQ Circle: Sisterhood Hadirkan Ruang Aman bagi Perempuan untuk Mengenal Aset Kripto
Danantara Indonesia Serentak Resmikan 6 Proyek Hilirisasi Fase-I dengan Total Nilai Investasi Hingga US$ 7 Miliar
Cara Trader Pemula Mengelola Risiko dengan Trading Plan
Luminous Spring di PIK Avenue Hadirkan Path of Light
Analisis Teknikal Dasar untuk Membaca Arah Pergerakan Harga
Sambut Mudik Lebaran 2026, 16 Ribuan Tiket KA Reguler Keberangkatan Daop 4 Semarang Telah Terjual
KAI Daop 4 Semarang Perkuat Layanan Kesehatan Pegawai melalui Kolaborasi dengan Primaya Hospital

Berita Terkait

Kamis, 12 Februari 2026 - 02:22

MyRepublic Indonesia Resmi Buka Pra-Registrasi Internet FWA: MyRepublic Air

Kamis, 12 Februari 2026 - 00:49

Bersiap Menghadapi Masa Angleb, KAI Services Terus Meningkatkan Kualitas Pelayanan Kebersihan

Kamis, 12 Februari 2026 - 00:07

Antara by Sleeping Lion: Hunian Mewah di Dataran Tinggi

Selasa, 10 Februari 2026 - 17:37

SUCOFINDO Perkuat Tata Kelola Transportasi Publik melalui Sertifikasi ISO 37001 dan ISO/IEC 27001 untuk LRT Jakarta

Selasa, 10 Februari 2026 - 09:06

KAI Daop 2 Bandung Pastikan Keselamatan Perjalanan dan Pelayanan Penumpang Terjamin dengan Baik

Selasa, 10 Februari 2026 - 08:38

Konektivitas Meningkat, Penumpang KAI Bandara Yogyakarta Tembus 239 Ribu di Januari 2026

Senin, 9 Februari 2026 - 21:27

Hubungan Krisis Ekonomi, Inflasi, dan Volatilitas Pasar

Senin, 9 Februari 2026 - 17:13

Media X Space Menempati Ruang Publik Untuk Desain dan Seni Asia

Berita Terbaru