60% Pengguna Internet Akui Jawaban AI Lebih Jelas, Brand Harus Apa? - Koran Mandalika

60% Pengguna Internet Akui Jawaban AI Lebih Jelas, Brand Harus Apa?

Kamis, 16 April 2026 - 17:00

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perilaku konsumen dalam mencari informasi digital mulai berubah cukup signifikan. Jika sebelumnya orang langsung pergi ke mesin telusur, seperti Google, sekarang sebagian pengguna justru memulai pencarian dari kecerdasan buatan (AI).

Studi yang dikutip oleh Search Engine Land menunjukkan bahwa sekitar 37% konsumen kini mengawali pencarian mereka melalui AI. Artinya, titik awal perjalanan konsumen mulai bergeser.

Temuan ini juga diperkuat oleh laporan dari Priority Pixels yang menyebutkan bahwa 60% pengguna merasa jawaban dari AI lebih jelas dibandingkan hasil pencarian tradisional. Ini menunjukkan bahwa bukan hanya penggunaannya yang meningkat, tetapi juga kepercayaan terhadap AI sebagai sumber informasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perubahan ini membuat peran AI tak lagi sekadar alat bantu. AI mulai menjadi tempat utama orang mencari dan memahami informasi. Namun, di balik kemudahan tersebut, ada risiko baru yang sering luput dari perhatian brand.

Dalam sistem AI, pengguna tidak lagi melihat banyak pilihan seperti di halaman hasil pencarian. AI akan menyaring dan merangkum hanya beberapa brand yang dianggap paling relevan dan kredibel. Akibatnya, jumlah brand yang masuk ke tahap pertimbangan jadi jauh lebih sedikit.

Baca Juga :  Legal Tech yang Tumbuh Bersama Para Lawyer: Menyambut Rilis Terbaru Legal Plus

“Ketika konsumen mulai dari AI, mereka tidak lagi melihat banyak opsi seperti di mesin pencari. Mereka langsung mendapatkan ringkasan. Artinya, brand yang tidak masuk dalam ringkasan tersebut bisa kehilangan peluang bahkan sebelum dipertimbangkan,” ujar Alexandro Wibowo, Co-Founder Avonetiq, sebuah Digital Authority Firm yang berfokus pada penguatan otoritas digital brand di era AI.

Situasi ini menciptakan risiko yang sifatnya tidak terlihat langsung, tetapi berdampak besar. Brand bisa saja masih aktif, memiliki produk yang bagus, bahkan mendapatkan peringkat tinggi di mesin pencari, tetapi tetap tidak muncul dalam jawaban AI.

Apabila ini terjadi, brand bisa kehilangan peluang sejak awal tanpa ada tanda yang jelas dari sisi performa.

“Ini yang sering tidak disadari. Brand merasa performanya masih stabil, padahal pelan-pelan mereka mulai tidak masuk dalam percakapan. Dampaknya baru terasa belakangan, saat peluang sudah lewat,” jelas Alexandro.

Baca Juga :  Stres Terima SP2DK, “Surat Cinta” DJP di Akhir Tahun? FlazzTax Punya Solusi Cerdas!

Melihat perubahan ini, muncul pendekatan baru yang dikenal sebagai AI Visibility Optimization (AVO). Pendekatan ini berfokus pada bagaimana brand membangun struktur informasi yang jelas, konsistensi narasi, serta sinyal kredibilitas agar lebih mudah dipahami dan dipercaya oleh sistem AI.

“AI tidak hanya mencari informasi, tapi juga menyusun jawaban dan memilih. Kalau brand tidak cukup jelas, tidak konsisten, atau tidak punya validasi yang kuat, AI tidak punya alasan untuk menyebutnya,” tambah Alexandro.

Seiring makin banyaknya konsumen yang memulai pencarian dari AI, perusahaan perlu mulai mengevaluasi kembali strategi visibilitas digital mereka. Persaingan sekarang bukan hanya soal siapa yang muncul, tetapi siapa yang masuk dalam jawaban.

Di era ini, kehilangan visibilitas tidak selalu terlihat dari angka, melainkan sering terjadi saat brand tidak lagi muncul di momen yang paling menentukan.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

ACT! Project Mendorong Konsumsi Produk Berkelanjutan di Indonesia
Gratis Transfer antarbank di neobank hingga 200 Kali per Bulan
Dulu Cukup Ganti Air, Kini Air Penggantinya Harus Steril: FisTx Hadirkan Baskara UV dan Cakra Elektrolisis
Bagaimana Sistem Keamanan Dana dan Data Bekerja pada Aplikasi Trading Online?
1 Juta Pergerakan Penumpang, KAI Bandara Perkuat Konektivitas Sekaligus Tebar Kepedulian di Lubuk Pakam
Pertamina SMEXPO Yogyakarta Bukukan Capaian Rp3,8 Miliar, Buka Peluang Pasar Lebih Luas bagi UMKM
PLN NPC dan TSG Teken Kontrak Kolaborasi Proyek Gas Insulated Switchgear
Pelindo Multi Terminal Perkuat Layanan Nonpetikemas Pelabuhan Belawan

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 22:02

ACT! Project Mendorong Konsumsi Produk Berkelanjutan di Indonesia

Kamis, 15 Oktober 2026 - 19:02

Gratis Transfer antarbank di neobank hingga 200 Kali per Bulan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:02

Dulu Cukup Ganti Air, Kini Air Penggantinya Harus Steril: FisTx Hadirkan Baskara UV dan Cakra Elektrolisis

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:02

1 Juta Pergerakan Penumpang, KAI Bandara Perkuat Konektivitas Sekaligus Tebar Kepedulian di Lubuk Pakam

Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:02

Pertamina SMEXPO Yogyakarta Bukukan Capaian Rp3,8 Miliar, Buka Peluang Pasar Lebih Luas bagi UMKM

Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:02

PLN NPC dan TSG Teken Kontrak Kolaborasi Proyek Gas Insulated Switchgear

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:02

Pelindo Multi Terminal Perkuat Layanan Nonpetikemas Pelabuhan Belawan

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:02

Buktikan Daya Saing Global, Siswa BINUS SCHOOL Torehkan Nilai IB dan Cambridge di Atas Rata-Rata Dunia

Berita Terbaru

Daerah

Tuan Guru Bagu Tutup Usia, Nasihatnya Jadi Pegangan

Kamis, 15 Okt 2026 - 19:01