Hal yang Mendorong Keputusan Belanja, Apa Saja? - Koran Mandalika

Hal yang Mendorong Keputusan Belanja, Apa Saja?

Sabtu, 30 Mei 2026 - 17:00

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Banyak orang menganggap keputusan belanja terjadi karena adanya kebutuhan. Namun dalam praktiknya, keputusan membeli suatu produk sering kali dipengaruhi oleh berbagai faktor lain yang bersifat emosional maupun sosial.

Tidak jarang seseorang membeli barang yang sebelumnya tidak ada dalam daftar kebutuhan hanya karena merasa tertarik, penasaran, atau khawatir kehabisan kesempatan. Kondisi ini semakin mudah terjadi di era digital ketika informasi dan tren dapat menyebar dalam hitungan menit melalui media sosial.

Karena itu, memahami faktor yang mendorong keputusan belanja menjadi penting agar pengeluaran tetap sesuai dengan kondisi keuangan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pengaruh Media Sosial Semakin Besar

Media sosial kini menjadi salah satu faktor yang paling kuat dalam membentuk minat konsumen. Ketika sebuah produk ramai dibicarakan oleh kreator konten, selebritas, atau komunitas tertentu, perhatian publik dapat meningkat dengan cepat.

Foto, video, dan ulasan yang muncul berulang kali membuat banyak orang semakin tertarik untuk memiliki produk yang sama. Bahkan, seseorang yang sebelumnya tidak memiliki rencana membeli bisa mulai mempertimbangkan pembelian setelah sering melihat produk tersebut di berbagai platform.

Fenomena ini menunjukkan bahwa eksposur yang terus menerus dapat memengaruhi persepsi dan keputusan konsumen.

FOMO Membuat Orang Takut Ketinggalan

Salah satu faktor yang sering muncul dalam tren belanja saat ini adalah FOMO atau fear of missing out. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa khawatir tertinggal dari pengalaman, tren, atau kesempatan yang sedang dinikmati orang lain.

Ketika melihat banyak orang membeli atau membahas suatu produk, muncul perasaan bahwa produk tersebut harus segera dimiliki sebelum kehabisan atau tidak lagi tersedia.

Baca Juga :  Zero Accident di Lingkungan Kantor, LRT Jabodebek Catat Kinerja Keselamatan Kerja Optimal Awal 2026

Akibatnya, keputusan pembelian sering dilakukan dengan cepat tanpa melalui pertimbangan yang matang. Dalam beberapa kasus, seseorang bahkan menggunakan dana yang sebenarnya sudah dialokasikan untuk kebutuhan lain demi mengikuti tren yang sedang berlangsung.

Kemudahan Pembayaran Digital Membuat Transaksi Semakin Cepat

Perkembangan pembayaran digital turut mengubah cara masyarakat berbelanja. Saat ini, konsumen tidak lagi harus membawa uang tunai untuk melakukan transaksi. Cukup menggunakan ponsel, berbagai kebutuhan dapat dibayar dalam hitungan detik.

Kemudahan transaksi cashless membuat pengalaman berbelanja menjadi lebih praktis. Banyak konsumen kini terbiasa melakukan scan QRIS saat membeli makanan, minuman, kebutuhan harian, hingga produk gaya hidup.

Karena prosesnya cepat dan sederhana, sebagian orang terkadang tidak menyadari jumlah pengeluaran yang sudah dilakukan. Apalagi ketika aktivitas bayar pakai QRIS sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari hari.

Di sisi lain, pembayaran QRIS juga memberikan kemudahan dalam mencatat transaksi karena seluruh riwayat pembayaran tersimpan secara digital dan dapat diakses kembali saat dibutuhkan.

Promo dan Diskon Menciptakan Rasa Mendesak

Selain tren dan media sosial, promo juga menjadi salah satu pendorong utama keputusan belanja.

Label seperti “diskon terbatas”, “flash sale”, atau “stok hampir habis” dapat menciptakan rasa urgensi yang membuat konsumen merasa harus segera membeli.

Padahal, belum tentu produk tersebut benar benar dibutuhkan saat itu. Strategi pemasaran seperti ini efektif karena memanfaatkan kecenderungan psikologis manusia untuk menghindari kehilangan peluang.

Karena itu, penting untuk membedakan antara membeli karena kebutuhan dan membeli karena takut kehilangan kesempatan.

Faktor Emosional Juga Berpengaruh

Keputusan belanja sering kali tidak sepenuhnya rasional. Perasaan senang, stres, bosan, atau ingin memberi penghargaan kepada diri sendiri juga dapat memengaruhi keinginan untuk membeli sesuatu.

Baca Juga :  Perbaikan Jalur KA di Perlintasan Jl. Perjuangan, Stasiun Bekasi – Pengalihan dan Penutupan Lalu Lintas Dilakukan Sementara

Fenomena emotional spending menjadi semakin umum, terutama ketika proses belanja dapat dilakukan dengan cepat melalui layanan digital.

Meskipun sesekali membeli sesuatu untuk kesenangan pribadi bukan hal yang salah, pengeluaran yang dilakukan secara impulsif dan berulang dapat berdampak pada kondisi keuangan dalam jangka panjang.

Tetap Nikmati Kemudahan, Tetap Kelola Pengeluaran

Memahami faktor yang mendorong keputusan belanja dapat membantu seseorang menjadi konsumen yang lebih sadar dalam mengelola keuangan.

Sebelum melakukan pembelian, ada baiknya memberikan waktu untuk mempertimbangkan apakah produk tersebut benar benar dibutuhkan, apakah masih sesuai dengan anggaran, dan apakah pembelian tersebut akan memengaruhi tujuan keuangan yang lebih penting.

Di tengah tren belanja yang terus berkembang, kemudahan pembayaran digital dapat dimanfaatkan secara bijak untuk membantu aktivitas sehari hari. Melalui bank dengan layanan digital seperti neobank dari Bank Neo Commerce, pengguna dapat melakukan pembayaran QRIS secara praktis langsung dari aplikasi. 

Fitur QRIS neobank memungkinkan pengguna melakukan scan QRIS dan bayar pakai QRIS di berbagai merchant yang mendukung transaksi QRIS, sehingga pengalaman transaksi cashless menjadi lebih mudah.

***

Jika ingin mempelajari QRIS neobank yang tersedia, kamu bisa mengeceknya melalui neobank di PlayStore atau App Store. Cek info lebih lanjut dan terbaru di link QRIS atau https://s.id/igneoqris.   

PT Bank Neo Commerce Tbk berizin & diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI), serta merupakan bank peserta penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).⁣ 

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Berita Terkait

Bekali Talenta Digital dengan Keterampilan Analisis Data, Telkom AI Center Bali Hadirkan Pelatihan Python Fundamental
Transaksi Kripto Turun 33%, tapi Investor Bertambah: Pasar RI Masih Menjanjikan?
KAI Logistik Kenalkan Green Logistics di Acara Green Movement Bersama Komunitas Peduli Lingkungan
KAI Bandara Layani 84 Ribu Penumpang Selama Libur Maulid Nabi, Mobilitas Masyarakat Tetap Lancar
Kenapa Gaji Naik tapi Tabungan Tetap Nol? Kenali Lifestyle Inflation dan Cara Mendeteksinya
Jaga Keselamatan dan Kenyamanan Pengguna, KAI Perkuat Kesiapan Petugas di Stasiun LRT Jabodebek
PTPP Raih Proyek Lanjutan Revitalisasi Terminal 1A Bandara Soekarno-Hatta Senilai Rp1,19 Triliun
Dorong Smart Hospital di Indonesia, teraMedik Resmi Kembangkan Teknologi AI Untuk Ekosistem Kesehatan.

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 16:02

Bekali Talenta Digital dengan Keterampilan Analisis Data, Telkom AI Center Bali Hadirkan Pelatihan Python Fundamental

Kamis, 27 Agustus 2026 - 16:02

Transaksi Kripto Turun 33%, tapi Investor Bertambah: Pasar RI Masih Menjanjikan?

Kamis, 27 Agustus 2026 - 16:02

KAI Logistik Kenalkan Green Logistics di Acara Green Movement Bersama Komunitas Peduli Lingkungan

Kamis, 27 Agustus 2026 - 16:02

KAI Bandara Layani 84 Ribu Penumpang Selama Libur Maulid Nabi, Mobilitas Masyarakat Tetap Lancar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 16:02

Kenapa Gaji Naik tapi Tabungan Tetap Nol? Kenali Lifestyle Inflation dan Cara Mendeteksinya

Kamis, 27 Agustus 2026 - 14:33

PTPP Raih Proyek Lanjutan Revitalisasi Terminal 1A Bandara Soekarno-Hatta Senilai Rp1,19 Triliun

Kamis, 27 Agustus 2026 - 14:02

Dorong Smart Hospital di Indonesia, teraMedik Resmi Kembangkan Teknologi AI Untuk Ekosistem Kesehatan.

Kamis, 27 Agustus 2026 - 14:02

UGC ECRL FS 02 Terpanjang di Malaysia, PLN NPC Raih Rating Bintang 5

Berita Terbaru