Harga Bitcoin Melesat: Akankah Segera Pecahkan Rekor? - Koran Mandalika

Harga Bitcoin Melesat: Akankah Segera Pecahkan Rekor?

Senin, 30 Juni 2025 - 11:41

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, 30 Juni 2025 – Bitcoin (BTC) kembali mencatatkan penguatan signifikan dengan naik 1,4% dalam 24 jam terakhir dan kini diperdagangkan sedikit di atas US$108.400 atau sekitar Rp1,75 miliar (kurs dolar AS Rp16.229) pada Senin (30/6). Aset kripto terbesar ini berhasil menembus level resistensi utama di US$105.000, membuka peluang bagi pengujian ulang terhadap harga tertinggi sepanjang masanya (all-time high/ATH) dalam beberapa hari ke depan.

Kinerja impresif Bitcoin menjadikannya aset kripto dengan performa terbaik di antara lima besar aset kripto global tahun ini, dengan kenaikan hampir 15% sejak awal tahun. Kenaikan ini terjadi di tengah pasar kripto yang cenderung tenang pasca gejolak geopolitik Iran-Israel.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai bahwa pergerakan bullish Bitcoin saat ini didorong oleh kombinasi faktor teknikal dan makroekonomi. “Penembusan harga BTC di atas US$103.000 merupakan sinyal kuat bagi pasar, terutama karena disertai volume besar. Ini menandakan bahwa pasar sedang bersiap untuk menguji level resistance berikutnya di kisaran US$110.500 (Rp1,79 miliar),” ujar Fyqieh.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut data dari CoinGlass, likuidasi posisi short terhadap BTC tetap dalam batas normal, menandakan bahwa sebagian besar posisi tersebut telah terdampak saat harga bangkit dari US$100.000 awal pekan ini. Selain itu, minat terbuka (open interest) pada kontrak berjangka Bitcoin meningkat ke level tertinggi dalam dua pekan terakhir, menunjukkan kembalinya kepercayaan pelaku pasar.

Baca Juga :  Solusi untuk Hunian Berkualitas, Kontribusi Waskita Beton Precast dalam Industri Perumahan Indonesia

Analisis Harga Bitcoin

Ilustrasi harga Bitcoin. Sumber: Tokocrypto.

Secara teknikal, pola inverse head and shoulders yang terbentuk pada grafik per jam menunjukkan potensi pergerakan ke US$109.000, dengan titik resistance kuat di US$110.500. Indikator Relative Strength Index (RSI) telah memasuki wilayah jenuh beli, mendukung tren naik namun juga mengindikasikan kemungkinan koreksi jangka pendek.

“Jika koreksi terjadi, level support kunci berada di US$106.000 atau di rata-rata pergerakan eksponensial (EMA) 200. Namun secara keseluruhan, tren jangka pendek tetap bullish selama level ini tidak ditembus,” tambah Fyqieh.

Dari sisi makroekonomi, pasar kripto mendapat sentimen positif setelah Gubernur Federal Reserve, Christopher Waller menyatakan kemungkinan penurunan suku bunga secepatnya pada pertemuan FOMC berikutnya pada 29–30 Juli. Pernyataan ini menegaskan sinyal dari Ketua Fed, Jerome Powell yang sebelumnya menyebutkan kemungkinan dua kali pemangkasan suku bunga pada tahun ini.

Baca Juga :  Demi Keselamatan Bersama, KAI Daop 1 Jakarta Lakukan Perbaikan Jalur dan Ajak Masyarakat Tertib di Perlintasan Sebidang

Suku bunga yang lebih rendah secara historis mendukung penguatan aset berisiko tinggi seperti kripto. “Penurunan suku bunga akan menurunkan biaya pinjaman dan mendorong investor untuk mengalihkan dananya ke aset seperti Bitcoin dan Ethereum,” jelas Fyqieh. “Apalagi dengan dukungan arus masuk yang kuat ke ETF Bitcoin spot, peluang BTC untuk menguji ATH di US$111.970 (Rp1,81 miliar) semakin terbuka lebar.”

Data terakhir menunjukkan ETF Bitcoin AS telah menarik lebih dari US$9 miliar, dengan iShares Bitcoin Trust (IBIT) milik BlackRock memimpin lonjakan arus masuk tersebut. Pada 22 Mei lalu, arus masuk ETF Bitcoin bahkan mencapai US$432 juta dalam satu hari.

Namun demikian, Fyqieh mengingatkan bahwa investor perlu mencermati risiko koreksi apabila keputusan Fed mengecewakan pasar. “Jika Fed memilih menahan suku bunga dan inflasi tetap tinggi, kita bisa melihat koreksi sementara. Tapi secara fundamental, pasar masih sangat optimistis terhadap prospek Bitcoin dalam jangka menengah,” pungkasnya.

Dengan kombinasi teknikal yang kuat dan potensi stimulus kebijakan moneter, pasar kini menunggu apakah BTC akan mampu menembus rekor US$111.970 dan menandai fase bullish baru di paruh kedua tahun 2025.

Berita Terkait

Prodia Hadirkan ‘Advanced Lipid Profile’, Pemeriksaan Risiko Kardiovaskular yang Lebih Komprehensif dan Personal
5 Hal yang Membuat Kamu Sulit Membayar Cicilan
FLOQ Listing PONS dari Robinhood Chain, Kenali Fungsi dan Ekosistemnya
Penyebab Dokumen Bertanda Tangan Elektronik Ditolak Mitra atau Bank
Bitcoin Kembali Tembus US$80.000, Aset Kripto Ikut Reli
Tren Papan Bunga di Jakarta dan Tangerang: Simbol Perhatian yang Tak Lekang Waktu
SUCOFINDO GANDENG RUANGGURU CETAK TALENTA MUDA SEBAGAI KATALISATOR INOVASI BERKELANJUTAN
OSL Indonesia Perkuat Fokus pada Kebutuhan Investor, di Tengah Volatilitas Global dan Industri Kripto yang Kian Matang

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 01:02

Prodia Hadirkan ‘Advanced Lipid Profile’, Pemeriksaan Risiko Kardiovaskular yang Lebih Komprehensif dan Personal

Senin, 21 September 2026 - 18:02

5 Hal yang Membuat Kamu Sulit Membayar Cicilan

Senin, 21 September 2026 - 16:02

Penyebab Dokumen Bertanda Tangan Elektronik Ditolak Mitra atau Bank

Senin, 21 September 2026 - 14:02

Bitcoin Kembali Tembus US$80.000, Aset Kripto Ikut Reli

Senin, 21 September 2026 - 14:02

Tren Papan Bunga di Jakarta dan Tangerang: Simbol Perhatian yang Tak Lekang Waktu

Senin, 21 September 2026 - 12:06

SUCOFINDO GANDENG RUANGGURU CETAK TALENTA MUDA SEBAGAI KATALISATOR INOVASI BERKELANJUTAN

Senin, 21 September 2026 - 12:06

OSL Indonesia Perkuat Fokus pada Kebutuhan Investor, di Tengah Volatilitas Global dan Industri Kripto yang Kian Matang

Senin, 21 September 2026 - 11:01

Telkom AI Center Malang Perluas Akses Pembelajaran AI untuk Pengembangan Web App

Berita Terbaru

Teknologi

5 Hal yang Membuat Kamu Sulit Membayar Cicilan

Senin, 21 Sep 2026 - 18:02

NTB Terkini

Gemilang di Semarang, NTB Naik ke Peringkat 9 MTQ Nasional

Senin, 21 Sep 2026 - 17:47