India, Tariff King? Menelisik Angka dan Narasi di Baliknya - Koran Mandalika

India, Tariff King? Menelisik Angka dan Narasi di Baliknya

Kamis, 4 September 2025 - 16:42

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

India kerap dituduh sebagai “tariff king”—sebuah label yang seolah menggambarkan bahwa negeri ini menutup diri dengan beban bea masuk yang tinggi. Namun, benarkah demikian? Narasi ini seringkali berlebihan, jika bukan keliru sama sekali. Alih-alih bersandar pada persepsi, mari menimbang fakta, angka, serta konteks ekonomi yang melingkupinya.

Apa Fungsi Tarif di Negara Berkembang?

Di negara berpendapatan rendah dan berkembang, tarif bukan sekadar instrumen perdagangan. Ia berfungsi ganda:

Melindungi industri domestik – terutama sektor yang masih “infant industry” atau rapuh, sehingga membutuhkan waktu untuk tumbuh sebelum mampu bersaing di pasar global.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Meningkatkan penerimaan negara – misalnya melalui tarif pada produk-produk premium seperti alkohol atau kendaraan mewah.

Dua fungsi ini berbeda jauh dari praktik negara maju seperti Amerika Serikat, yang sudah memiliki basis industri mapan dan lebih mengandalkan pajak domestik ketimbang bea impor.

Dari Proteksionisme ke Liberalisasi Bertahap

Memang benar, tarif India pada era 1980-an tergolong tinggi. Namun, sejak reformasi 1991 dan kesepakatan Uruguay Round yang melahirkan WTO, India secara konsisten memangkas tarifnya. Tren jangka panjangnya jelas: penurunan bertahap.

Penting untuk membedakan dua jenis tarif:

Applied tariffs: tarif nyata yang diberlakukan saat barang masuk.

Bound tariffs: plafon tarif maksimum yang dijanjikan dalam komitmen WTO.

Kritik terhadap tarif India kerap abai pada perbedaan ini, padahal yang relevan bagi perdagangan nyata adalah applied tariff.

Baca Juga :  Sampoerna Raih Penghargaan Digital Innovation Awards 2025: Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Inovasi Digital yang Berdampak

Angka yang Sering Di Salah Pahami

Jika hanya melihat simple average tariff India, yaitu 15,98 persen, sekilas memang terlihat tinggi. Tetapi ukuran ini menyesatkan karena memperlakukan semua produk sama, tanpa memperhitungkan volume perdagangan.

Ukuran yang lebih akurat adalah trade-weighted tariff, yang mencerminkan bobot riil perdagangan. Dengan metode ini, tarif India hanya 4,6 persen—setara bahkan lebih rendah dibanding banyak negara berkembang lain. Angka ini sendirian cukup untuk membantah label “tariff king.”

Kenapa Tarif di Sektor Pertanian dan Otomotif Tinggi?

Ada dua pengecualian utama, yaitu pertanian dan otomotif.

Pertanian: Lebih dari 50 persen penduduk India bergantung pada sektor ini. Dengan lahan sempit, teknologi minim, dan orientasi subsistensi, membuka keran impor secara bebas sama saja dengan menyingkirkan jutaan petani kecil. Tidak ada pemerintahan demokratis yang mau mengambil risiko politik itu. Terlebih, petani Barat menikmati subsidi besar-besaran—membuat kompetisi tidak adil sejak awal.

Otomotif: Industri ini menyerap jutaan tenaga kerja dan menjadi salah satu tulang punggung manufaktur. Proteksi di sini lebih terkait stabilitas ekonomi dan sosial, bukan sekadar kalkulasi dagang.

Perlu dicatat, negara lain pun melakukan hal serupa, bahkan lebih agresif. Uni Eropa mengenakan tarif hingga 205 persen pada produk susu dan 261 persen pada buah dan sayuran. Jepang mencapai 298 persen pada susu dan lebih dari 250 persen pada sereal dan daging. Korea Selatan bahkan melampaui 800 persen pada sayuran. Dibanding angka-angka itu, tarif India terlihat moderat.

Baca Juga :  Optimalisasi Charging Station: Tantangan dan Peluang dalam Pengembangan Energi Berkelanjutan

Perbandingan dengan Negara Berkembang Lain

Jika dirunut, tarif India tidak berbeda jauh dengan rekan-rekannya di dunia berkembang. Bangladesh rata-rata 14,1 persen, Argentina 13,4 persen, dan Türkiye 16,2 persen. Dengan kata lain, India tidak menyimpang dari norma global.

Bagaimana dengan Barang Non-Pertanian?

Kritik dari Amerika Serikat sering menyasar produk non-pertanian. Tetapi, di sektor teknologi dan elektronik, tarif India justru ramah:

• 0 persen untuk sebagian besar perangkat keras IT, semikonduktor, dan komputer.

• zRata-rata hanya 10,9 persen pada elektronik, serta 8,3 persen pada mesin komputasi.

Bandingkan dengan Vietnam yang mengenakan tarif hingga 35 persen, Tiongkok hingga 25 persen, atau Indonesia hingga 30 persen di sektor serupa. Jelas, India bukan pengecualian.

Jadi, Siapa Tariff King Sebenarnya?

Label “tariff king” pada India lebih merupakan retorika politik ketimbang cerminan realitas. Ya, India melindungi sektor pertanian dan otomotifnya—tapi alasan sosial, ekonomi, dan politik di baliknya kuat dan sebanding dengan praktik di negara lain.

Untuk mayoritas sektor lain, tarif India justru rendah, sejalan dengan standar global, bahkan lebih liberal dibanding beberapa tetangganya di Asia.

Dengan demikian, menyebut India sebagai “tariff king” adalah simplifikasi berlebihan yang gagal melihat data, konteks, dan perbandingan internasional. Pertanyaan yang lebih tepat bukanlah apakah India tariff king, melainkan: siapa sebenarnya yang lebih proteksionis?

Berita Terkait

Hari Pertama WFH ASN, Pengguna LRT Jabodebek Turun 10 Persen, Layanan Tetap Optimal
Promo Hadiah Miliaran Kian Ramai, Pemenang Baru Terus Bermunculan
IA-ITB Kaltim Luncurkan Ganesha Hub untuk Akselerasi Inovasi , Teknologi & Ekonomi Kreatif , Persiapan Untuk Kaltim Pasca Migas & Batubara
Urusan Bisnis Lancar, Cara Profesional Kirim Paket Ke Luar Negeri Berupa Dokumen Legal
Aktivasi Dupoin Futures di CFD Sudirman Tampilkan Inovasi Trading Berbasis Teknologi
Perilaku Investor Saat Pasar Tidak Stabil: Mengelola Psikologi dan Risiko
KAI Daop 2 Bandung Tanggapi Viral Jembatan Cirahong, Tekankan Prioritas Keselamatan Perjalanan KA
SMARTIES™ Indonesia 2026: Menyiapkan Panggung untuk Karya Pemenang Penghargaan

Berita Terkait

Jumat, 10 April 2026 - 10:57

Anjlok ke Peringkat 22, Pemprov NTB Tancap Gas Benahi Keterbukaan Informasi

Kamis, 9 April 2026 - 20:55

Selain Sekda, Gubernur Iqbal Lantik Puluhan Pejabat NTB: Langkah Besar Isi Kekosongan dan Perkuat Kinerja Daerah

Rabu, 8 April 2026 - 18:58

Mi6 Dukung Kebijakan Pengendalian Alih Fungsi Lahan Sawah

Rabu, 8 April 2026 - 18:53

Pemprov NTB Bentuk Satgas, Antisipasi Penumpukan Angkutan Ternak saat Idul Adha

Rabu, 8 April 2026 - 08:34

NTB Petakan Destinasi Wisata Terbaik

Selasa, 7 April 2026 - 22:01

Disperindag NTB Sebut Belum Terima Laporan Soal Kenaikan Harga Plastik

Senin, 6 April 2026 - 07:37

Ubah Stigma Permainan Domino, ORADO NTB Gelar Pelatihan Wasit dan Pelantikan Pengurus

Kamis, 2 April 2026 - 18:12

Kasus Gratifikasi NTB Memanas! Tiga Terdakwa Siap Lapor ke Pejabat Tinggi di Jakarta

Berita Terbaru