NTB dan Kemiskinan Ekstrem, Desa Berdaya Jangan Sampai Dikorupsi - Koran Mandalika

NTB dan Kemiskinan Ekstrem, Desa Berdaya Jangan Sampai Dikorupsi

Sabtu, 29 November 2025 - 11:19

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal saat melihat langsung kondisi warga miskin di Desa Ungga, Kecamatan Praya Barat Daya

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal saat melihat langsung kondisi warga miskin di Desa Ungga, Kecamatan Praya Barat Daya

Koran Mandalika, Lombok Tengah – Hidup seorang warga Desa Jelantik, Kecamatan Jonggat, ini sangat memprihatinkan. Linamin namanya. Dia tinggal di rumah reyot dan bertahan hidup dengan memakan singkong.

Potret Kemiskinan di NTB

Hidup seorang warga Desa Jelantik, Kecamatan Jonggat, ini sangat memprihatinkan. Linamin namanya. Dia tinggal di rumah reyot dan bertahan hidup dengan memakan singkong

Hidup Linamin sangat memprihatinkan. Dia tinggal di rumah berukuran 3×4 meter yang sudah reyot. Warga Desa Jelantik, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, itu tinggal sebatang kara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Rumah yang seharusnya memberikan kenyamanan, nyatanya hanya beralaskan tanah berdebu serta atap yang bocor sewaktu hujan. Rumahnya hanya mempunyai satu kamar tidur yang sekaligus menjadi ruang tamu.

Meski hidup dengan kondisi memprihatinkan, Linamin mengaku tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah.

Kakek berusia sekitar 60 tahun itu kini bertahan hidup hanya dengan mengandalkan singkong yang ditanam di pekarangan rumahnya. Sesekali, tetangganya memberikannya makanan.

Sebelumnya, Linamin tinggal bersama istrinya. Namun, 15 tahun silam, dia ditinggal istrinya yang telah meninggal dunia.

“Saya pernah dikaruniai anak tetapi meninggal sewaktu masih kecil,” ratap Linamin.

Linamin memiliki satu saudara yang tinggal jauh dari rumahnya. Dia pun jarang bertemu dengan keluarganya itu.

Belakangan ini, Linamin mengalami gangguan pada penglihatannya. Matanya kerap berair dan perih.

Derita yang sama juga dirasakan Inaq Geming. Warga Desa Bonjeruk, Kecamatan Jonggat, itu bertahan hidup dari hasil memulung sampah plastik.

Inaq Geming mengaku hasil penjualan plastik bekas dirasa tidak cukup untuk menunjang hidupnya. Hanya mendapat Rp 20 ribu saja.

“Kadang kurang, tapi dicukup-cukupi,” kata Inaq Geming pasrah.

Kondisi kakinya yang bengkak akibat terjatuh beberapa hari lalu membuatnya tertatih untuk sekadar mencari sesuap nasi.

Ironisnya, desanya yang dikenal akan potensi wisata kuliner tetapi tidak memberikan dampak nyata bagi kehidupan Inaq Geming yang sangat memprihatinkan. Dia harus menerima kenyataan pahit dengan tinggal di rumah reyot.

Rumah Inaq Geming hanya memiliki satu ruangan. Di dalamnya terdapat satu lemari plastik dan tempat tidur serta perabotan dapur yang membuat kondisi rumah makin sumpek.

Teras rumah yang dijadikan dapur membuat asap dari tungku menyebar di sekeliling dan makin memperparah keadaan rumah Inaq Geming.

Inaq Geming memiliki dua tetangga dengan kondisi perekonomian hampir sama dengannya.

Perempuan paruh baya itu memiliki dua saudara. Satu merantau ke luar negeri dan satunya lagi tinggal jauh dari rumah Inaq Geming.

Setiap hari, Inaq Geming ditemani seekor kucing kampung yang dijadikan peliharaan.

Apakah program andalan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), yakni Desa Berdaya mampu menghapus derita dan air mata warga tak berdaya?

Desa Berdaya, Harapan Hapus Kemiskinan

Baca Juga :  Pemerintahan Iqbal-Dinda, Sekda: Sama Halnya dengan KDM
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal saat melihat langsung kondisi warga miskin di Desa Ungga, Kecamatan Praya Barat Daya

“Akar dari segala macam persoalan sosial adalah kemiskinan,” kalimat itu kerap diucapkan Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal untuk menggambarkan semangat menekan angka kemiskinan.

Sembilan bulan sudah berlalu sejak Lalu Muhammad Iqbal dilantik sebagai Guburnur NTB dan langkah-langkah strategis pemerintahannya mulai menunjukkan arah yang jelas, menata fondasi menuju bebas dari kemiskinan pada 2029.

Di satu sisi, NTB belum pernah bisa keluar dari daftar provinsi-provinsi termiskin. Tapi di sisi lain, kalau dilihat potensinya, luar biasa. Dari ujung barat sampai ujung timur, semua penuh dengan potensi.

Dua wajah yang bertentangan ini coba dipertemukan untuk menyelesaikan persoalan kemiskinan secara serius, sungguh-sungguh, dan berkesinambungan.

Pemerintah baru hadir dengan strategi Pemprov NTB menuju Makmur dan Mendunia.

Gubernur Iqbal menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan keberlanjutan dalam menekan angka kemiskinan.

Pemprov NTB akan mengorkestrasi seluruh stakeholder pembangunan. Mulai dari pemerintah pusat, kabupaten/kota, mitra pembangunan, lembaga filantropi, hingga perusahaan swasta agar terlibat dalam program Desa Berdaya.

Saat ini, kemiskinan ekstrem di NTB sedikitnya ada 2,04 persen. Untuk itu, pemerintah menyasar 40 desa pada 2026 masuk program Desa Berdaya Tranformatif dan Tematik dengan target pendampingan sekitar 7.225 kepala keluarga.

Pemprov NTB menyiapkan dua skema dalam pelaksanaan ‎program Desa Berdaya.Termasuk di dalamnya memperkuat kemandirian masyarakat desa.

Dua skema tersebut terdiri atas Desa Berdaya Tematik dan Desa Berdaya Transformatif. Skema tematik, sasarannya 1.166 desa dan kelurahan di NTB. Implementasinya bisa dilakukan melalui dinas atau langsung kepala desa.

‎Skema kedua, yakni Desa Berdaya Transformatif akan difokuskan bagi 106 desa dengan penduduk miskin ekstrem.

Desa Berdaya Transformatif ini akan dilakukan verifikasi dan validasi data berdasarkan data Regsosek 2023 yang akan disempurnakan dengan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) khususnya desil 1. Dengan begitu maka bisa mengetahui permasalahan di setiap desa.

Verifikasi yang akan dilakukan menjadi dasar intervensi program, baik dalam bentuk perlindungan sosial bagi warga yang belum menerima bantuan, maupun pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat yang belum memiliki pekerjaan atau mata pencaharian.

‎Perlindungan dan pemberdayaan ini akan berjalan bersamaan agar masyarakat benar-benar bisa keluar dari kemiskinan ekstrem.

‎Potensi sumber daya pembangunan yang menyebar di berbagai pihak itu akan didorong agar fokus menyelesaikan masalah di desa transformatif maupun tematik.

‎Setiap desa yang masuk dalam program ini diproyeksikan menerima alokasi antara Rp 300 juta sampai Rp 500 juta per desa. Namun, penyalurannya dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemampuan anggaran dan kesiapan desa.

‎Menariknya, untuk Desa Berdaya Transformatif ada stimulan sekitar Rp 7 juta per kepala keluarga yang diberikan dalam bentuk program pemberdayaan intensif dan pendampingan.

Baca Juga :  Pemerintahan Iqbal-Dinda, Sekda: Sama Halnya dengan KDM

‎Pendanaan program Desa Berdaya bersumber dari APBD Provinsi NTB. Namun, pelaksanaannya bersifat kolaboratif dengan melibatkan anggaran dari kabupaten/kota, pemerintah pusat, dan mitra pembangunan internasional.

Apakah tidak tumpang tindih dengan dana desa?

Gubernur Iqbal memastikan program Desa Berdaya justru akan dikolaborasikan dengan program yang sudah ada di desa, bukan menggantikannya.

‎Termasuk dana desa juga nantinya akan dikolaborasikan dengan Desa Berdaya. Kabupaten/kota dan desa harus berkontribusi bersama.

Desa Berdaya ini menjadi program unggulan Gubernur Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Gubernur Hj. Indah Dhamayanti Putri.

Desa Berdaya Transformatif berupaya mendorong masyarakat miskin dan miskin ekstrem untuk lebih berdaya dan memperbaiki tingkat kesejahteraannya sehingga dapat keluar dari kondisi kemiskinan dan kemiskinan ekstrem secara berkelanjutan. Program ini menyasar 15.858 rumah tangga miskin ekstrem (RTM) di 106 desa.

Desa Berdaya Tematik menjangkau 336 Desa Miskin Absolut dan 724 desa/kelurahan lainnya. Fokusnya adalah pengembangan potensi lokal melalui 20 agenda kerja prioritas, dengan dua arah utama, yakni 15 potensi pengembangan kapasitas desa dan lima potensi keunggulan kompetitif.

Menuju bebas dari kemiskinan pada 2029, Gubernur Iqbal juga mendorong peningkatan sektor lain. Seperti halnya pertanian. Termasuk agroforestri, pertanian konvensional, peternakan, dan agromaritim (perikanan) untuk mewujudkan program prioritas Presiden Prabowo Subianto, yaitu ketahan pangan.

Tidak kalah penting, yakni pariwisata. NTB, khususnya Lombok dikenal sebagai serpihan surga di bumi. Keindahan alamnya yang menakjubkan membuat pemerintah optimistis destinasi-destinasi wisata di NTB menjadi destinasi kelas dunia.

Gubernur Iqbal pun sudah menyiapkan strateginya. Salah satunya ialah mendorong MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Event) agar tidak tergantung pada turis musiman yang hanya datang antara Mei hingga September.

Iqbal menyakini bahwa dengan langkah itu NTB dapat mengisi kekosongan dari September hingga Mei dengan event-event sepanjang tahun.

Langkah-langkah itu juga dinilai akan membuat Pemprov NTB keluar dari ketergantungan pada sektor pertambangan yang saat ini masih menjadi sumber pendapatan daerah.

Kebijakan pemerintah yang terus mendorong pertumbuhan sektor di luar tambang berbuah positif. Pasalnya, pertumbuhan sektor di luar tambang pada triwulan ke II naik 6,08 persen. Pada triwulan I hanya 5,57 persen.

Desa Berdaya Jangan Sampai Dikorupsi

Inaq Geming, warga Desa Bonjeruk, Kecamatan Jonggat, bertahan hidup dari hasil memulung sampah plastik

Tik tak tik tuk, suara kaki kuda milik Amaq Muhdar. Di sela suara kaki kuda berlari berselimut keringat itu terdengar omongan antara si kusir dengan penumpang. Mereka membahas kemiskinan.

“Korupsi, korupsi, ini yang membuat kita miskin,” sahut Amaq Muhdar penuh emosi sembari tarik ulur tali kemudi kudanya.

Penumpang satunya tampak geleng-geleng. Merasa bahwa Amaq Muhdar bukan sekadar kusir cidomo biasa melainkan orang berpendidikan yang nasibnya kurang bagus saja.

Ketika Gubernur NTB menyebut akar dari segala macam persoalan sosial adalah kemiskinan maka akar dari segala macam persoalan kemiskinan adalah korupsi, seperti yang disebut Amaq Muhdar.

“Program Desa Berdaya jangan sampai dikorupsi jika ingin melihat kebutuhan warga terpenuhi,” harapan masyarakat terhadap Program Desa Berdaya yang dijalankan pemerintahan Iqbal-Dinda untuk mengentaskan kemiskinan.

Berita Terkait

Selasa, 3 Maret 2026 - 23:14

Besi UNP untuk Gudang: Salah Ukuran Bisa Berisiko Besar

Selasa, 3 Maret 2026 - 22:24

Kuasai Bidang Manufaktur dan Otomotif Melalui Program Studi Teknik Mesin

Selasa, 3 Maret 2026 - 19:56

Dukung Keberlanjutan Desa Qur’an, KAI Divre III Palembang Turut Hadir dalam Kegiatan Desa Qur’an Fest 2026

Selasa, 3 Maret 2026 - 19:15

Liberta Malioboro Perluas Kapasitas Jadi 100 Kamar, Angkat Konsep Urban Stay Berbasis Ekosistem Lokal

Selasa, 3 Maret 2026 - 16:39

Saat Kebersamaan Menjadi Cerita: Bukber Perdana Topotels Hadirkan Kehangatan Ramadan di Pusat Jakarta

Selasa, 3 Maret 2026 - 10:48

BINUS @Bandung Dinobatkan Menjadi Kampus Pendukung Wirausaha Muda Terbaik di Jawa Barat

Senin, 2 Maret 2026 - 20:27

Rasakan Spirit Ramadan Bersama Swiss-Belhotel Rainforest

Senin, 2 Maret 2026 - 16:22

Struktur Rangka Melengkung? Cek Dulu Spesifikasi Besi CNP yang Anda Pakai

Berita Terbaru